<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>AI Engineering</title>
	<atom:link href="http://teguh8581.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://teguh8581.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 11 Aug 2009 01:42:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='teguh8581.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/f479fca473501b52738c00dc0a668d6c?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>AI Engineering</title>
		<link>http://teguh8581.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://teguh8581.wordpress.com/osd.xml" title="AI Engineering" />
	<atom:link rel='hub' href='http://teguh8581.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Pengantar Unified Modelling Language (UML)</title>
		<link>http://teguh8581.wordpress.com/2009/08/11/pengantar-unified-modelling-language-uml/</link>
		<comments>http://teguh8581.wordpress.com/2009/08/11/pengantar-unified-modelling-language-uml/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Aug 2009 01:42:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Teguh Sutopo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Software]]></category>
		<category><![CDATA[software engineering]]></category>
		<category><![CDATA[UML]]></category>
		<category><![CDATA[unified modelling Language]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://teguh8581.wordpress.com/?p=110</guid>
		<description><![CDATA[from : http://harmiprasetyo.wordpress.com/2006/09/26/pengantar-uniifiied-modelliing-language-uml/#comment-2580 Pendahuluan Saat ini piranti lunak semakin luas dan besar lingkupnya, sehingga tidak bisa lagi dibuat asal-asalan. Piranti lunak saat ini seharusnya dirancang dengan memperhatikan hal-hal seperti scalability , security , dan eksekusi yang robust walaupun dalam kondisi yang sulit. Selain itu arsitekturnya harus didefinisikan dengan jelas, agar bug mudah ditemukan dan diperbaiki, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teguh8581.wordpress.com&amp;blog=8811465&amp;post=110&amp;subd=teguh8581&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>from : <a href="http://harmiprasetyo.wordpress.com/2006/09/26/pengantar-uniifiied-modelliing-language-uml/#comment-2580">http://harmiprasetyo.wordpress.com/2006/09/26/pengantar-uniifiied-modelliing-language-uml/#comment-2580</a></p>
<div>
<p><strong>Pendahuluan </strong></p>
<p>Saat ini piranti lunak semakin luas dan besar lingkupnya, sehingga tidak bisa lagi dibuat asal-asalan. Piranti lunak saat ini seharusnya dirancang dengan memperhatikan hal-hal seperti <em>scalability </em>, <em>security </em>, dan eksekusi yang robust walaupun dalam kondisi yang sulit. Selain itu arsitekturnya harus didefinisikan dengan jelas, agar <em>bug </em>mudah ditemukan dan diperbaiki, bahkan oleh orang lain selain <em>programmer </em>aslinya. Keuntungan lain dari perencanaan arsitektur yang matang adalah dimungkinkannya penggunaan kembali modul atau komponen untuk aplikasi piranti lunak lain yang membutuhkan fungsionalitas yang sama. Pemodelan ( <em>modeling </em>) adalah proses merancang piranti lunak sebelum melakukan pengkodean ( <em>coding </em>). Model piranti lunak dapat dianalogikan seperti pembuatan blueprint pada pembangunan gedung. Membuat model dari sebuah sistem yang kompleks sangatlah penting karena kita tidak dapat memahami sistem semacam itu secara menyeluruh. Semakin komplek sebuah sistem, semakin penting pula penggunaan teknik pemodelan yang baik. Dengan menggunakan model, diharapkan pengembangan piranti lunak dapat memenuhi semua kebutuhan pengguna dengan lengkap dan tepat, termasuk faktor-faktor seperti <em>scalability, robustness, security </em>, dan sebagainya. Kesuksesan suatu pemodelan piranti lunak ditentukan oleh tiga unsur, yang kemudian terkenal dengan sebuan segitiga sukses ( <em>the triangle for success </em>). Ketiga unsur tersebut adalah metode pemodelan ( <em>notation </em>), proses ( <em>process </em>) dan <em>tool </em>yang digunakan.</p>
<p>Memahami notasi pemodelan tanpa mengetahui cara pemakaian yang sebenarnya (proses) akan membuat proyek gagal. Dan pemahaman terhadap metode pemodelan dan proses disempurnakan dengan penggunaan tool yang tepat.</p>
<p><strong>Apa itu UML </strong></p>
<p><strong>Unified Modelling Language </strong>(UML) adalah sebuah “bahasa” yg telah menjadi standar dalam industri untuk visualisasi, merancang dan mendokumentasikan sistem piranti lunak. UML menawarkan sebuah standar untuk merancang model sebuah sistem. Dengan menggunakan UML kita dapat membuat model untuk semua jenis aplikasi piranti lunak, dimana aplikasi tersebut dapat berjalan pada piranti keras, sistem operasi dan jaringan apapun, serta ditulis dalam bahasa pemrograman apapun. Tetapi karena UML juga menggunakan <em>class </em>dan <em>operation </em>dalam konsep dasarnya, maka ia lebih cocok untuk penulisan piranti lunak dalam bahasa bahasa berorientasi objek seperti C++, Java, C# atau VB.NET. Walaupun demikian, UML tetap dapat digunakan untuk modeling aplikasi prosedural dalam VB atau C. Seperti bahasa-bahasa lainnya, UML mendefinisikan notasi dan <em>syntax </em>/semantik. Notasi UML merupakan sekumpulan bentuk khusus untuk menggambarkan berbagai diagram piranti lunak. Setiap bentuk memiliki makna tertentu, dan UML <em>syntax </em>mendefinisikan bagaimana bentuk-bentuk tersebut dapat dikombinasikan. Notasi UML terutama diturunkan dari 3 notasi yang telah ada sebelumnya: Grady Booch OOD (Object-Oriented Design), Jim Rumbaugh OMT (Object Modeling Technique), dan Ivar Jacobson OOSE (Object-Oriented Software Engineering). Sejarah UML sendiri cukup panjang. Sampai era tahun 1990 seperti kita ketahui puluhan metodologi pemodelan berorientasi objek telah bermunculan di dunia. Diantaranya adalah: metodologi booch [1], metodologi coad [2], metodologi OOSE [3], metodologi OMT [4], metodologi shlaer-mellor [5], metodologi wirfs-brock [6], dsb. Masa itu terkenal dengan masa perang metodologi ( <em>method war </em>) dalam pendesainan berorientasi objek. Masing-masing metodologi membawa notasi sendiri-sendiri, yang mengakibatkan timbul masalah baru apabila kita bekerjasama dengan group/perusahaan lain yang menggunakan metodologi yang berlainan.</p>
<p align="center"> </p>
<p>Dimulai pada bulan Oktober 1994 Booch, Rumbaugh dan Jacobson, yang merupakan tiga tokoh yang boleh dikata metodologinya banyak digunakan mempelopori usaha untuk penyatuan metodologi pendesainan berorientasi objek. Pada tahun 1995 direlease draft pertama dari UML (versi 0.8). Sejak tahun 1996 pengembangan tersebut dikoordinasikan oleh <strong>Object Management Group </strong>(OMG – http://www.omg.org). Tahun 1997 UML versi 1.1 muncul, dan saat ini versi terbaru adalah versi 1.5 yang dirilis bulan Maret 2003. Booch, Rumbaugh dan Jacobson menyusun tiga buku serial tentang UML pada tahun 1999 [7] [8] [9]. Sejak saat itulah UML telah menjelma menjadi standar bahasa pemodelan untuk aplikasi berorientasi objek.</p>
<p><strong>Konsepsi Dasar UML </strong></p>
<p>Dari berbagai penjelasan rumit yang terdapat di dokumen dan buku-buku UML. Sebenarnya konsepsi dasar UML bisa kita rangkumkan dalam gambar dibawah.</p>
<table border="1" cellspacing="1" cellpadding="0" width="90%">
<tbody>
<tr>
<td valign="bottom">
<p align="center"><strong>Major Area </strong></p>
</td>
<td valign="bottom">
<p align="center"><strong>View </strong></p>
</td>
<td valign="bottom">
<p align="center"><strong>Diagrams </strong></p>
</td>
<td valign="bottom">
<p align="center"><strong>Main Concepts </strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p align="center">structural</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="center">static view</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="center">class diagram</p>
</td>
<td valign="bottom">
<p align="center">class, association, generalization, dependency, realization, interface</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td> </td>
<td width="152" valign="top">
<p align="center">use case view</p>
</td>
<td width="152" valign="top">
<p align="center">use case diagram</p>
</td>
<td width="213" valign="bottom">
<p align="center">use case, actor, association, extend, include, use case generalization</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td> </td>
<td width="152" valign="bottom">
<p align="center">implementation view</p>
</td>
<td width="152" valign="bottom">
<p align="center">component diagram</p>
</td>
<td width="213" valign="bottom">
<p align="center">component, interface, dependency, realization</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">dynamic</p>
</td>
<td valign="bottom">
<p align="center">state machine view</p>
</td>
<td valign="bottom">
<p align="center">statechart diagram</p>
</td>
<td valign="bottom">
<p align="center">state, event, transition, action</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td> </td>
<td width="152" valign="bottom">
<p align="center">actifity view</p>
</td>
<td width="152" valign="bottom">
<p align="center">activity diagram</p>
</td>
<td width="213" valign="bottom">
<p align="center">state, activity, completion transition, fork, join</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td> </td>
<td rowspan="2" width="152">
<p align="center">interaction view</p>
</td>
<td width="152" valign="bottom">
<p align="center">sequence diagram</p>
</td>
<td width="213" valign="bottom">
<p align="center">interaction, object, message, activation</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td> </td>
<td>
<p align="center">colaborating diagram</p>
</td>
<td>
<p align="center">collaborating, interaction, collaboration rule, message</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom">
<p align="center">model management</p>
</td>
<td valign="bottom">
<p align="center">model management view</p>
</td>
<td valign="bottom">
<p align="center">class diagram</p>
</td>
<td valign="bottom">
<p align="center">package, subsystem, model</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom">
<p align="center">extensibility</p>
</td>
<td valign="bottom">
<p align="center">all</p>
</td>
<td valign="bottom">
<p align="center">all</p>
</td>
<td valign="bottom">
<p align="center">constraint, stereotype, tagged values</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Abstraksi konsep dasar UML yang terdiri dari <em>structural classification </em>, <em>dynamic behavior </em>, dan <em>model management </em>, bisa kita pahami dengan mudah apabila kita melihat gambar diatas dari <em>Diagrams </em>. <em>Main concepts </em>bisa kita pandang sebagai term yang akan muncul pada saat kita membuat diagram. Dan view adalah kategori dari diagaram tersebut. Lalu darimana kita mulai ? Untuk menguasai UML, sebenarnya cukup dua hal yang harus kita perhatikan:</p>
<p>1. Menguasai pembuatan diagram UML</p>
<p>2. Menguasai langkah-langkah dalam analisa dan pengembangan dengan UML</p>
<p>Tulisan ini pada intinya akan mengupas kedua hal tersebut.</p>
<p>Seperti juga tercantum pada gambar diatas UML mendefinisikan diagram-diagram sebagai berikut:</p>
<p>• <em>use case diagram </em></p>
<p>• <em>class diagram </em></p>
<p>• <em>statechart diagram </em></p>
<p>• <em>activity diagram </em></p>
<p>• <em>sequence diagram </em></p>
<p>• <em>collaboration diagram </em></p>
<p>• <em>component diagram </em></p>
<p>• <em>deployment diagram </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Use Case Diagram </strong></p>
<p><em>Use case diagram </em>menggambarkan fungsionalitas yang diharapkan dari sebuah sistem. Yang ditekankan adalah “apa” yang diperbuat sistem, dan bukan “bagaimana”. Sebuah <em>use case </em>merepresentasikan sebuah interaksi antara aktor dengan sistem. <em>Use case </em>merupakan sebuah pekerjaan tertentu, misalnya login ke sistem, meng- <em>create </em>sebuah daftar belanja, dan sebagainya. Seorang/sebuah aktor adalah sebuah entitas manusia atau mesin yang berinteraksi dengan sistem untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan tertentu. <em>Use case diagram </em>dapat sangat membantu bila kita sedang menyusun <em>requirement </em>sebuah sistem, mengkomunikasikan rancangan dengan klien, dan merancang <em>test case </em>untuk semua <em>feature </em>yang ada pada sistem. Sebuah <em>use case </em>dapat meng- <em>include </em>fungsionalitas <em>use case </em>lain sebagai bagian dari proses dalam dirinya. Secara umum diasumsikan bahwa <em>use case </em>yang di- <em>include </em>akan dipanggil setiap kali <em>use case </em>yang meng- <em>include </em>dieksekusi secara normal. Sebuah <em>use case </em>dapat di- <em>include </em>oleh lebih dari satu <em>use case </em>lain, sehingga duplikasi fungsionalitas dapat dihindari dengan cara menarik keluar fungsionalitas yang <em>common </em>. Sebuah <em>use case </em>juga dapat meng- <em>extend use case </em>lain dengan <em>behaviour </em>-nya sendiri. Sementara hubungan generalisasi antar <em>use case </em>menunjukkan bahwa <em>use case </em>yang satu merupakan spesialisasi dari yang lain.</p>
<p><strong>Class Diagram </strong></p>
<p><em>Class </em>adalah sebuah spesifikasi yang jika diinstansiasi akan menghasilkan sebuah objek dan merupakan inti dari pengembangan dan desain berorientasi objek. <em>Class </em>menggambarkan keadaan (atribut/properti) suatu sistem, sekaligus menawarkan layanan untuk memanipulasi keadaan tersebut (metoda/fungsi). <em>Class diagram </em>menggambarkan struktur dan deskripsi <em>class, package </em>dan objek beserta hubungan satu sama lain seperti <em>containment </em>, pewarisan, asosiasi, dan lain-lain.</p>
<p><em>Class </em>memiliki tiga area pokok :</p>
<p>1. Nama (dan stereotype)</p>
<p>2. Atribut</p>
<p>3. Metoda</p>
<p>Atribut dan metoda dapat memiliki salah satu sifat berikut :</p>
<ul>
<li><em>Private </em>, tidak dapat dipanggil dari luar <em>class </em>yang bersangkutan</li>
<li><em>Protected </em>, hanya dapat dipanggil oleh <em>class </em>yang bersangkutan dan anak-anak yang mewarisinya</li>
<li><em>Public </em>, dapat dipanggil oleh siapa saja</li>
</ul>
<p align="center"> </p>
<p><em>Class </em>dapat merupakan implementasi dari sebuah <em>interface </em>, yaitu <em>class </em>abstrak yang hanya memiliki metoda. <em>Interface </em>tidak dapat langsung diinstansiasikan, tetapi harus diimplementasikan dahulu menjadi sebuah <em>class. </em>Dengan demikian <em>interface </em>mendukung resolusi metoda pada saat <em>run-time </em>.</p>
<p align="center"> </p>
<p>Sesuai dengan perkembangan <em>class </em>model, <em>class </em>dapat dikelompokkan menjadi <em>package </em>. Kita juga dapat membuat diagram yang terdiri atas <em>package </em>.</p>
<p align="center"> </p>
<p><strong>Hubungan Antar </strong><strong><em>Class </em></strong></p>
<ol>
<li>Asosiasi, yaitu hubungan statis antar <em>class </em>. Umumnya menggambarkan <em>class </em>yang memiliki atribut berupa <em>class </em>lain, atau <em>class </em>yang harus mengetahui eksistensi <em>class </em>lain. Panah <em>navigability m </em>enunjukkan arah <em>query </em>antar <em>class </em>.</li>
<li>Agregasi, yaitu hubungan yang menyatakan bagian (“terdiri atas..”).</li>
<li>Pewarisan, yaitu hubungan hirarkis antar <em>class </em>. <em>Class </em>dapat diturunkan dari <em>class </em>lain dan mewarisi semua atribut dan metoda <em>class </em>asalnya dan menambahkan fungsionalitas baru, sehingga ia disebut anak dari <em>class </em>yang diwarisinya. Kebalikan dari pewarisan adalah generalisasi.</li>
<li>Hubungan dinamis, yaitu rangkaian pesan ( <em>message </em>) yang di- <em>passing </em>dari satu <em>class </em>kepada <em>class </em>lain. Hubungan dinamis dapat digambarkan dengan menggunakan <em>sequence diagram </em>yang akan dijelaskan kemudian.</li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Statechart Diagram </strong></p>
<p><em>Statechart diagram </em>menggambarkan transisi dan perubahan keadaan (dari satu <em>state </em>ke <em>state </em>lainnya) suatu objek pada sistem sebagai akibat dari <em>stimuli </em>yang diterima. Pada umumnya <em>statechart diagram </em>menggambarkan <em>class </em>tertentu (satu <em>class </em>dapat memiliki lebih dari satu <em>statechart diagram </em>). Dalam UML, <em>state </em>digambarkan berbentuk segiempat dengan sudut membulat dan memiliki nama sesuai kondisinya saat itu. Transisi antar <em>state </em>umumnya memiliki kondisi <em>guard </em>yang merupakan syarat terjadinya transisi yang bersangkutan, dituliskan dalam kurung siku. <em>Action </em>yang dilakukan sebagai akibat dari <em>event </em>tertentu dituliskan dengan diawali garis miring. Titik awal dan akhir digambarkan berbentuk lingkaran berwarna penuh dan berwarna setengah.</p>
<p align="center"> </p>
<p><strong>Activity Diagram </strong></p>
<p><em>Activity diagrams </em>menggambarkan berbagai alir aktivitas dalam sistem yang sedang dirancang, bagaimana masing-masing alir berawal, <em>decision </em>yang mungkin terjadi, dan bagaimana mereka berakhir. <em>Activity diagram </em>juga dapat menggambarkan proses paralel yang mungkin terjadi pada beberapa eksekusi. <em>Activity diagram </em>merupakan <em>state diagram </em>khusus, di mana sebagian besar <em>state </em>adalah <em>action </em>dan sebagian besar transisi di- <em>trigger </em>oleh selesainya <em>state </em>sebelumnya ( <em>internal processing </em>). Oleh karena itu <em>activity diagram </em>tidak menggambarkan behaviour internal sebuah sistem (dan interaksi antar subsistem) secara eksak, tetapi lebih menggambarkan proses-proses dan jalur-jalur aktivitas dari level atas secara umum. Sebuah aktivitas dapat direalisasikan oleh satu <em>use case </em>atau lebih. Aktivitas menggambarkan proses yang berjalan, sementara <em>use case </em>menggambarkan bagaimana aktor menggunakan sistem untuk melakukan aktivitas. Sama seperti <em>state </em>, standar UML menggunakan segiempat dengan sudut membulat untuk menggambarkan aktivitas. <em>Decision </em>digunakan untuk menggambarkan behaviour pada kondisi tertentu. Untuk mengilustrasikan proses-proses paralel ( <em>fork </em>dan <em>join </em>) digunakan titik sinkronisasi yang dapat berupa titik, garis horizontal atau vertikal. <em>Activity diagram </em>dapat dibagi menjadi beberapa <em>object swimlane </em>untuk menggambarkan objek mana yang bertanggung jawab untuk aktivitas tertentu.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Sequence Diagram </strong></p>
<p><em>Sequence diagram </em>menggambarkan interaksi antar objek di dalam dan di sekitar sistem (termasuk pengguna, <em>display </em>, dan sebagainya) berupa <em>message </em>yang digambarkan terhadap waktu. <em>Sequence diagram </em>terdiri atar dimensi vertikal (waktu) dan dimensi horizontal (objek-objek yang terkait). <em>Sequence diagram </em>biasa digunakan untuk menggambarkan skenario atau rangkaian langkah-langkah yang dilakukan sebagai respons dari sebuah <em>event </em>untuk menghasilkan <em>output </em>tertentu. Diawali dari apa yang men- <em>trigger </em>aktivitas tersebut, proses dan perubahan apa saja yang terjadi secara internal dan <em>output </em>apa yang dihasilkan. Masing-masing objek, termasuk aktor, memiliki <em>lifeline </em>vertikal. <em>Message </em>digambarkan sebagai garis berpanah dari satu objek ke objek lainnya. Pada fase desain berikutnya, <em>message </em>akan dipetakan menjadi operasi/metoda dari <em>class </em>. <em>Activation bar </em>menunjukkan lamanya eksekusi sebuah proses, biasanya diawali dengan diterimanya sebuah message.</p>
<p>Untuk objek-objek yang memiliki sifat khusus, standar UML mendefinisikan <em>icon </em>khusus untuk objek <em>boundary, controller </em>dan <em>persistent entity </em>.</p>
<p><strong>Collaboration Diagram </strong></p>
<p><em>Collaboration diagram </em>juga menggambarkan interaksi antar objek seperti <em>sequence diagram </em>, tetapi lebih menekankan pada peran masing-masing objek dan bukan pada waktu penyampaian <em>message </em>. Setiap <em>message </em>memiliki <em>sequence number </em>, di mana <em>message </em>dari level tertinggi memiliki nomor 1. Messages dari level yang sama memiliki prefiks yang sama.</p>
<p><strong>Component Diagram </strong></p>
<p><em>Component diagram </em>menggambarkan struktur dan hubungan antar komponen piranti lunak, termasuk ketergantungan ( <em>dependency </em>) di antaranya. Komponen piranti lunak adalah modul berisi <em>code </em>, baik berisi <em>source code </em>maupun <em>binary code </em>, baik <em>library </em>maupun <em>executable </em>, baik yang muncul pada <em>compile time, link time </em>, maupun <em>run time </em>. Umumnya komponen terbentuk dari beberapa <em>class </em>dan/atau <em>package </em>, tapi dapat juga dari komponen-komponen yang lebih kecil. Komponen dapat juga berupa <em>interface </em>, yaitu kumpulan layanan yang disediakan sebuah komponen untuk komponen lain.</p>
<p><strong>Deployment Diagram </strong></p>
<p><em>Deployment/physical diagram </em>menggambarkan detail bagaimana komponen di- <em>deploy </em>dalam infrastruktur sistem, di mana komponen akan terletak (pada mesin, server atau piranti keras apa), bagaimana kemampuan jaringan pada lokasi tersebut, spesifikasi server, dan hal-hal lain yang bersifat fisikal Sebuah <em>node </em>adalah server, <em>workstation </em>, atau piranti keras lain yang digunakan untuk men- <em>deploy </em>komponen dalam lingkungan sebenarnya. Hubungan antar <em>node </em>(misalnya TCP/IP) dan <em>requirement </em>dapat juga didefinisikan dalam diagram ini.</p>
<p><strong>Langkah-Langkah Penggunaan UML </strong></p>
<p>Berikut ini adalah tips pengembangan piranti lunak dengan menggunakan UML:</p>
<ol>
<li>Buatlah daftar <em>business process </em>dari level tertinggi untuk mendefinisikan aktivitas dan proses yang mungkin muncul.</li>
<li>Petakan <em>use case </em>untuk tiap <em>business process </em>untuk mendefinisikan dengan tepat fungsionalitas yang harus disediakan oleh sistem. Kemudian perhalus use case diagram dan lengkapi dengan <em>requirement, constraints </em>dan catatan-catatan lain.</li>
<li>Buatlah <em>deployment diagram </em>secara kasar untuk mendefinisikan arsitektur fisik sistem.</li>
<li>Definisikan <em>requirement </em>lain (non-fungsional, <em>security </em>dan sebagainya) yang juga harus disediakan oleh sistem.</li>
<li>Berdasarkan <em>use case diagram </em>, mulailah membuat <em>activity diagram </em>.</li>
<li>Definisikan objek-objek level atas ( <em>package </em>atau <em>domain </em>) dan buatlah <em>sequence </em>dan/atau <em>collaboration diagram </em>untuk tiap alir pekerjaan. Jika sebuah <em>use case </em>memiliki kemungkinan alir normal dan error, buatlah satu diagram untuk masing-masing alir.</li>
<li>Buarlah rancangan <em>user interface </em>model yang menyediakan antarmuka bagi pengguna untuk menjalankan skenario <em>use case </em>.</li>
<li>Berdasarkan model-model yang sudah ada, buatlah <em>class diagram </em>. Setiap <em>package </em>atau <em>domain d </em>ipecah menjadi hirarki <em>class </em>lengkap dengan atribut dan metodanya. Akan lebih baik jika untuk setiap <em>class </em>dibuat <em>unit test </em>untuk menguji fungsionalitas <em>class </em>dan interaksi dengan <em>class </em>lain.</li>
<li>Setelah <em>class diagram </em>dibuat, kita dapat melihat kemungkinan pengelompokan <em>class </em>menjadi komponen-komponen. Karena itu buatlah component diagram pada tahap ini. Juga, definisikan tes integrasi untuk setiap komponen meyakinkan ia berinteraksi dengan baik.</li>
<li>Perhalus <em>deployment diagram </em>yang sudah dibuat. Detilkan kemampuan dan <em>requirement </em>piranti lunak, sistem operasi, jaringan, dan sebagainya. Petakan komponen ke dalam node.</li>
<li>Mulailah membangun sistem. Ada dua pendekatan yang dapat digunakan :
<ul>
<li>Pendekatan <em>use case </em>, dengan meng- <em>assign </em>setiap <em>use case </em>kepada tim pengembang tertentu untuk mengembangkan <em>unit code </em>yang lengkap dengan tes.</li>
<li>Pendekatan komponen, yaitu meng- <em>assign </em>setiap komponen kepada tim pengembang tertentu.</li>
</ul>
</li>
</ol>
<p>• Lakukan uji modul dan uji integrasi serta perbaiki model berserta <em>code </em>nya. Model harus selalu sesuai dengan <em>code </em>yang aktual.</p>
<p>• Piranti lunak siap dirilis.</p>
<p><strong>Tool Yang Mendukung UML </strong></p>
<p>Saat ini banyak sekali tool pendesainan yang mendukung UML, baik itu tool komersial maupun opensource. Beberapa diantaranya adalah:</p>
<ul>
<li>Rational Rose (www.rational.com)</li>
<li>Together (www.togethersoft.com)</li>
<li>Object Domain (www.objectdomain.com)</li>
<li>Jvision (www.object-insight.com)</li>
<li>Objecteering (www.objecteering.com)</li>
<li>MagicDraw (www.nomagic.com/magicdrawuml)</li>
<li>Visual Object Modeller (www.visualobject.com)</li>
</ul>
<p>Data seluruh tool yang mendukung UML, lengkap beserta harganya (dalam US dolar) bisa dipelajari di situs http://www.objectsbydesign.com/tools/umltools_byCompany.html . Disamping itu, daftar tool UML berikut fungsi dan perbangingan kemampuannya juga dapat dilihat di http://www.jeckle.de/umltools.htm .</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Pointer Penting UML </strong></p>
<p>Sebagai referensi dalam mempelajari dan menggunakan UML, situs-situs yang merupakan pointer penting adalah:</p>
<ul>
<li>http://www.cetus-links.org/oo_uml.html</li>
<li>http://www.omg.org</li>
<li>http://www.omg.org/technology/uml/</li>
<li>http://www.rational.com/uml</li>
<li>http://www.uml.org/</li>
</ul>
<p>Dan juga buku-buku yang terdapat di daftar pustaka.</p>
<p><strong>Daftar Pustaka </strong></p>
<ol>
<li>Grady Booch, Object-Oriented Analysis and Design with Application, Benjamin/Cummings, 1991.</li>
<li>Peter Coad and Edward Yourdon, Object-Oriented Analysis, Yourdon Press, 1991.</li>
<li>Ivar Jacobson, Magnus Christerson, Patrik Jonson, and Gunnar Overgaard, Object-Oriented Software Engineering: A Use Case Driven Approach, Addison-Wesley, 1992.</li>
<li>James Rumbaugh, Michael Blaha, William Premerlani, Frederick Eddy, and William Lorenson, Object-Oriented Modeling and Design, Prentice Hall, 1991.</li>
<li>Sally Shlaer and Stephen J. Mellor, Object-Oriented System Analysis: Modeling the World in Data, Yourdon Press, 1988.</li>
<li>Rebecca Wirfs-Brock, Brian Wilkerson, and Lauren Wiener, Designing Object-Oriented Software, Prentice Hall, 1990.</li>
<li>Grady Booch, James Rumbaugh, and Ivar Jacobson, The Unified Modeling Language User Guide, Addison-Wesley, 1999.</li>
<li>Ivar Jacobson, Grady Booch, and James Rumbaugh, The Unified Software Development Process, Addison-Wesley, 1999.</li>
<li>James Rumbaugh, Ivar Jacobson, and Grady Booch, The Unified Modeling Language Reference Manual, Addison-Wesley, 1999.</li>
<li>Unified Modeling Language Specification, Object Management Group, www.omg.org, 1999.</li>
<li>Introduction to OMG UML [http://www.omg.org/gettingstarted/what_is_uml.htm]</li>
<li>UML Tutorial [http://www.sparxsystems.com.au/UML_Tutorial.htm]</li>
<li>Embarcadero Tech Support [http://www.embarcadero.com/support/uml_central.asp]</li>
<li>Practical UML A Hands-On Introduction for Developers, http://www.togethersoft.com/services/practical_guides/umlonlinecourse/index.html]</li>
<li>Architecture and Design: Unified Modeling Language (UML), [http://www.cetuslinks. org/oo_uml.html]</li>
</ol>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/teguh8581.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/teguh8581.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/teguh8581.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/teguh8581.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/teguh8581.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/teguh8581.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/teguh8581.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/teguh8581.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/teguh8581.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/teguh8581.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/teguh8581.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/teguh8581.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/teguh8581.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/teguh8581.wordpress.com/110/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teguh8581.wordpress.com&amp;blog=8811465&amp;post=110&amp;subd=teguh8581&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://teguh8581.wordpress.com/2009/08/11/pengantar-unified-modelling-language-uml/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f9124eb23e41e40d32170f5f94041149?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">teguh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>REQUIREMENT ENGINEERING</title>
		<link>http://teguh8581.wordpress.com/2009/08/10/requirement-engineering/</link>
		<comments>http://teguh8581.wordpress.com/2009/08/10/requirement-engineering/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Aug 2009 08:12:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Teguh Sutopo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Software]]></category>
		<category><![CDATA[requirement engineering]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://teguh8581.wordpress.com/?p=97</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Teguh Sutopo 1. Definisi dan Pentingnya Rekayasa Kebutuhan. Rekayasa Kebutuhan (Requirement Engineering) adalah bagian yang tak terpisahkan dari kegiatan rekayasa perangkat lunak. Rekayasa Kebutuhan mempunyai peran yang cukup penting, bahkan akan menentukan keberhasilan dari suatu proyek rekayasa perangkat lunak. Mengenai peran penting rekayasa kebutuhan tersebut telah banyak dikemukakan oleh para pakar. Requirements engineering [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teguh8581.wordpress.com&amp;blog=8811465&amp;post=97&amp;subd=teguh8581&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">Oleh : Teguh Sutopo</p>
<p><strong>1. Definisi dan Pentingnya Rekayasa Kebutuhan. </strong></p>
<p>Rekayasa Kebutuhan (Requirement Engineering) adalah bagian yang tak terpisahkan dari kegiatan rekayasa perangkat lunak. Rekayasa Kebutuhan mempunyai peran yang cukup penting, bahkan akan menentukan keberhasilan dari suatu proyek rekayasa perangkat lunak. Mengenai peran penting rekayasa kebutuhan tersebut telah banyak dikemukakan oleh para pakar.</p>
<p>Requirements engineering merupakan fase terdepan dari proses rekayasa perangkat lunak (software engineering), dimana software requirements (kebutuhan) dari user (pengguna) dan customer (pelanggan) dikumpulkan, dipahami dan ditetapkan. Para pakar software engineering sepakat bahwa requirements engineering adalah suatu pekerjaan yang sangat penting. Fakta membuktikan bahwa kebanyakan kegagalan pengembangan software disebabkan karena adaya ketidakkonsistenan (inconsistent), ketidaklengkapan (incomplete), maupun ketidakbenaran (incorrect) dari requirements specification (spesifikasi kebutuhan) [Rom-01].</p>
<p>Juga beberapa definisi dan hukum yang dikemukakan pakar mengenai requirement engineering sebagai berikut :</p>
<p>1. Requirement Engineering adalah proses menentukan properti tertentu dari sistem yang harus ada, dengan kata lain, menentukan komponen-komponen sistem. Kebutuhan proses menghasilkan informasi tentang desain yang akan menjadi dasar. Untuk ini, harus mengetahui dimana sebuah sistem akan digunakan, oleh siapa, dan layanan apa yang harus disediakan. Juga penting untuk menentukan kompromi apa yang dapat dilakukan jika terjadi konflik kebutuhan. Kita berasumsi bahwa setiap sistem memiliki kumpulan fungsi yang berguna, yang penting untuk keberhasilan [Alb-2003].</p>
<p>2. Software requirements berisikan kebutuhan dan kendala yang ditempatkan pada produk perangkat lunak yang memberikan kontribusi pada solusi dari beberapa masalah dunia nyata [Kot-2000].</p>
<p>3. Rekayasa Kebutuhan membantu para ahli perangkat lunak untuk lebih memahami masalah dan menyelesaikannya. Ini meliputi kumpulan dari tugas-tugas yang mengarah ke pemahaman tentang apa yang akan menjadi dampak dari bisnis perangkat lunak, apa yang diinginkan oleh pelanggan, dan bagaimana pemakai akan berinteraksi dengan perangkat lunak [Pre-2005].</p>
<p>4. Beberapa hukum dalam requirement engineering yang tercantum dalam SWEBOK edisi 2004 adalah sebagai berikut:</p>
<p>a. <em><strong>Hukum Glass (Robert Glass)</strong></em></p>
<p>Kekurangan kebutuhan (requirement deficiences) adalah sumber utama dari kegagalan proyek. Kekurangan kebutuhan menimbulkan masalah di banyak proyek.</p>
<p>Kebutuhan yang ditentukan mungkin salah, atau tidak cukup perhatian yang diberikan pada definisi kebutuhan. Menetapkan tujuan dengan benar untuk setiap proyek adalah persyaratan tugas. Meskipun ada proyek dipahami dengan baik, ditentukan, dan kebutuhan stabil, lebih sering bukan ini masalahnya. Lebih khusus tidak lengkap atau kesalahan definisi kebutuhan, definisi terutama jika dilakukan oleh pihak ketiga untuk pelanggan dan pengembang.</p>
<p><strong>Teori:</strong> Menentukan kebutuhan yang tepat merupakan masalah berat. Alasan utama untuk ini adalah kebutuhan yang berbeda dari berbagai kelompok pengguna, konflik kepentingan antara orang atau kelompok yang terlibat, dan kesulitan dari konflik antara prioritas kebutuhan. Definisi kebutuhan adalah proses belajar dan negosiasi. Kedua para pengembang dan pengguna belajar sambil menerapkan atau menggunakan sistem. Pengetahuan dari setiap orang yang terlibat sangat terbatas. Orang tidak tahu semuanya dan banyak lupa. Berbagi pengetahuan tidak terjadi dengan sendirinya. Masalah-masalah yang melekat dan tidak akan hilang sebagai kelangsungan teknologi.</p>
<p><strong>b. Hukum Boehm pertama</strong></p>
<p>Kesalahan yang paling sering selama menentukan kebutuhan (requirements) adalah kegiatan desain yang lebih mahal.</p>
<p>Studi ini berkaitan dengan analisis kesalahan yang dibuat oleh pengembang. Ketika menganalisis kesalahan, pertanyaan pertama adalah: &#8220;Di mana dalam proses pembangunan kesalahan ini telah dibuat?&#8221; Ini mengarah ke salah satu pekerjaan dari kesalahan ke setiap tahapan atau kegiatan di Lifecycle. Hukum ini menggabungkan dua observasi yang erat kaitannya.</p>
<p style="text-align:center;"><img class="size-medium wp-image-98 alignnone" title="gmb1_re" src="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/gmb1_re.jpg?w=300&#038;h=175" alt="gmb1_re" width="300" height="175" /></p>
<p style="text-align:center;">Gambar 1. Cost of problems per phase</p>
<p><strong>Teori:</strong> Manusia biasanya mempunyai masalah jika banyak situasi perlu pemikiran pada saat yang bersamaan. Kita cenderung untuk berpikir baris utamanya saja, dan melupakan kasus khusus. Bahkan jika pikiran manusia mendukung pemrosesan paralel, ini tidak berarti bahwa perbedaan berbagai unit investigasi di berbagai penjuru. Kami memiliki arti yang tidak melekat atau mekanisme untuk mencari domain secara mendalam (kecuali dapat diwakili secara visual). Kesalahan dari kelalaian lebih sering daripada kesalah-pahaman.</p>
<p><strong>c. Hukum Boehm kedua</strong></p>
<p>Prototyping (secara signifikan) mengurangi kebutuhan dan kesalahan desain, terutama untuk user interface.</p>
<p>Hukum ini menempatkan penekanan pada pengurangan kesalahan. Pengurangan kesalahan membawa penurunan biaya juga. Jumlah pengurangan tidak terukur, namun, menjadi signifikan, setidaknya 20-30 persen harus terjadi. Hal ini berlaku untuk semua hukum, meskipun kata &#8216;signifikan&#8217; akan diabaikan. Perubahan dalam kisaran 5-20 persen karena perbedaan pengukuran atau setup, atau dapat disebabkan oleh gangguan tak terkendalikan.</p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-100" title="gmb2_re" src="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/gmb2_re.jpg?w=379&#038;h=252" alt="gmb2_re" width="379" height="252" /></p>
<p style="text-align:center;">Gambar 2. Prototypes in the system lifecycle</p>
<p><strong>Teori:</strong> Prototip memberikan pandangan dari sistem yang tampak nyata bagi pengguna. Berbeda dengan representasi desain lainnya, prototip tidak bergantung pada kekuatan imajinasi orang untuk memvisualisasikannya. Ini adalah perwujudan sebagian sistem yang sesungguhnya, bukan yang abstrak. Mungkin lebih menekankan detil dan dengan demikian tidak menyembunyikan atau merusak penampakan total dari sistem. Prototip perlu dibuat untuk sistem di bawah pengembangan saja, bukan untuk sistem yang ada.</p>
<p><strong>d. Hukum Davis</strong></p>
<p>Nilai dari sebuah model tergantung pada pandangan diambil, tetapi tidak ada yang terbaik untuk semua tujuan.</p>
<p>Model adalah bentuk yang sangat berguna untuk menjelaskan sistem. Hal ini berlaku sebelum, selama, dan sesudah pengembangan sistem. Contoh model yang digunakan dalam ilmu alam adalah model yang menggambarkan evolusi bintang, model atom atau pengoperasian sel. Model tersebut konsep intelektual yang pertama, namun dapat diwujudkan atau dinyatakan dalam sebuah representasi yang terlihat. Dalam ilmu komputer, kita dapat menggunakan model untuk mempelajari struktur statis objek sistem atau komponen, struktur logika data yang digunakan, atau struktur dinamis interaksi tugas dan proses.</p>
<p style="text-align:center;"> <img class="aligncenter size-medium wp-image-103" title="tbl1_re" src="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/tbl1_re.jpg?w=300&#038;h=142" alt="tbl1_re" width="300" height="142" /></p>
<p style="text-align:center;">Tabel 1. Modeling views and notations</p>
<p><strong>Teori:</strong> Sebuah model dari realitas membantu untuk menjelaskan pemahaman. Model merupakan penjelasan dari sistem. Model taklangsung terlihat atau abstrak, berangkat dari hal-hal yang tidak dianggap penting untuk sementara waktu. Abstraksi berguna untuk beberapa jenis pemahaman manusia saja. Abstraksi merupakan pengetahuan konseptual yang ditingkatkan. Tidak semua pengguna perlu, ingin atau bahkan akan mentolerir abstraksi ini. Dari sudut pandang sistem yang akan dibangun, abstraksi berangkat dari kenyataan yang tergantung pada notasi yang digunakan, yang sering menipu pengamat. Gerakan bintang dalam gugus bintang, atau orbit elektron dalam model atom, hanya ada satu persamaan kusam pada kenyataan. Namun demikian, model-model seperti itu sering digunakan untuk tujuan yang bermanfaat.</p>
<p> </p>
<p>Dalam mendefiniskan kebutuhan, tentu melibatkan beberapa pihak. Pihak-pihak yang berpartisipasi dalam proses definisi kebutuhan secara kolektif disebut sebagai pihak yang berkepentingan (stakeholders). Jika sistem yang dibangun untuk diketahui pelanggan, kebutuhan mungkin merupakan dasar untuk pembuatan kontrak. Jika pelanggan tidak mengetahui awalnya, organisasi pemasaran dapat mengasumsikan fungsi ini. Pada awalnya, kebutuhan dibahas di tingkat aplikasi. Hal ini tidak selalu nampak jelas apakah kebutuhan tersebut akan diimplementasikan dalam perangkat keras atau perangkat lunak, atau dilakukan oleh manusia. Kebutuhan itu harus selalu dianggap sebagai kebutuhan sistem. Kebutuhan perangkat lunak hanya merupakan bagian dari keseluruhan. Kebutuhan perangkat lunak akan ditentukan setelah kebutuhan sistem, atau berasal dari keseluruhan.</p>
<p>Hasil dari fase requirements engineering terdokumentasi dalam requirements specification. Requirements specification berisi kesepakatan bersama tentang permasalahan yang ingin dipecahkan antara pengembang dan pelanggan, dan merupakan titik start menuju proses berikutnya yaitu software design. Sistemisasi proses negosiasi pengembang dan pelanggan dalam requirements engineering dibagi dalam 3 proses besar yaitu: elicitation, specification, validation and verification. Formula ini kemudian juga dikenal dengan nama The Three Dimensions of Requirements Engineering. Proses requirements engineering ini dilakukan secara iterasi dengan mengakomodasi adanya feedback dari customer (user). [Rom-01].</p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-104" title="gmb3_re" src="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/gmb3_re.jpg?w=300&#038;h=134" alt="gmb3_re" width="300" height="134" /></p>
<p style="text-align:center;">Gambar 3, The three dimensions of requirement engineering</p>
<p>Kualitas produk biasanya ditetapkan sebagai derajat untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Pandangan ini menekankan satu sisi kualitas: perspektif pengguna. Yang lebih komprehensif dilihat juga termasuk sisi pengembang atau produsen. </p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-105" title="tbl2_re" src="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/tbl2_re.jpg?w=300&#038;h=182" alt="tbl2_re" width="300" height="182" /> Tabel 2, Kriteria penting kualitas perangkat lunak [SWE-2004]</p>
<p>Kualitas produk perangkat lunak dari sudut pandang pengguna dapat dinyatakan sebagai pemenuhan dari beberapa properti: ketersediaan, keandalan, efisiensi, installability, kegunaan, ketahanan, dan keselamatan/keamanan. Selain itu, beberapa kriteria dapat ditambahkan jika pengembang berkeinginan. Kriteria ini adalah testability, maintainability, localizability, portability, dan reusability. Sebuah definisi singkat dari masing-masing kriteria diberikan dalam tabel 1. Properti ini, kehandalan (reliability) biasanya yang paling penting dan sering digunakan sebagai sinonim untuk kualitas. Dalam hal produk perangkat lunak, kehandalan (dan karena kehandalan jadi berkualitas) yang sering dinyatakan sebagai jumlah kesalahan atau cacat per seribu baris kode (cacat/KLOC). Masalahnya adalah bahwa ini adalah pengukuran berorientasi pengembang (developer-oriented). Pengukuran berorientasi pengguna untuk keandalan adalah jumlah masalah pengguna per bulan. Hubungan antara kedua pengukuran adalah rumit dan tergantung pada penggunaan sistem yang sebenarnya. Sistem ketersediaan adalah fungsi dari jumlah dan lama interupsi. Salah satu definisi yang populer adalah:</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Availability = MTTF/(MTTF + MTTR)</strong></p>
<p>dimana MTTF = waktu (lamanya) kegagalan dan MTTR = waktu untuk perbaikan. Satuan yang digunakan dalam persen (mis. 99,9%).</p>
<p>Software Requirement (Requirement Engineering) memiliki cakupan dan pendekatan pengetahuan yang cukup luas sehingga perlu dibagi-bagi dalam beberapa sub bidang. Pembagian KA yang kompatibel dengan bagian dari IEEE 12207 yang merujuk ke kebutuhan kegiatan. Risiko yang melekat dalam usulan pembagian adalah seperti sebuah proses air terjun (a waterfall-like process) yang dapat diduga/disimpulkan. Untuk menjaga hal ini, subarea 2 proses kebutuhan, dirancang untuk menyediakan gambaran tingkat tinggi proses kebutuhan dengan pengaturan sumber daya dan batasan dalam proses operasi dan yang bertindak untuk mengkonfigurasinya.</p>
<p>Kebutuhan Software KA terkait erat dengan Desain, Testing, Pemeliharaan, Manajemen Konfigurasi, Manajemen Rekayasa Perangkat Lunak, Proses Rekayasa Perangkat Lunak, dan Ranah Kualitas Perangkat Lunak.</p>
<p>Dalam SWEBOK edisi 2004, Ranah Pengetahuan Kebutuhan Perangkat Lunak (The Software Requirements Knowledge Area / KA) meliputi pengungkapan, analisis, spesifikasi, dan validasi kebutuhan perangkat lunak. Berikut adalah diagram pembagian software requirement [SWE-2004]:</p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-106" title="gmb4_re" src="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/gmb4_re.jpg?w=510&#038;h=376" alt="gmb4_re" width="510" height="376" /></p>
<p style="text-align:center;">Gambar 4. Breakdown of topics for the Software Requirements KA</p>
<p><strong>2. Kegiatan Rekayasa Kebutuhan (Requirement Engineering Tasks)</strong></p>
<p>Kegiatan dalam rekayasa kebutuhan memiliki aspek penting dalam menunjang kesuksesan proyek rekayasa perangkat lunak. Adapun kegiatan-kegiatan tersebut adalah sebagai berikut:</p>
<p><strong>1) Pernyataan Visi (Vision statement)</strong></p>
<p>Pernyataan visi dari sistem yang akan dibangun merupakan hal baik untuk memulai proses kebutuhan. Visi dituangkan dalam bentuk dokumen yang menguraikan keseluruhan tujuan yang harus dicapai dan disetujui oleh stakeholders, terutama di tingkat manajemen. Jika dalam proses ternyata visi tidak dapat dicapai, pernyataan visi harus direvisi dan dibahas kembali.</p>
<p><strong>2) Pengungkapan Kebutuhan dan Prioritas (Requirements elicitation and prioritization)</strong></p>
<p>Kebutuhan harus dikumpulkan dari sumber yang dapat berkontribusi. Kontribusi terutama dari calon pelanggan dan pengguna. Jika dana tidak datang langsung dari pelanggan, mungkin ada kelompok lain yang memiliki minat dan pengaruh. Selain itu, pihak ketiga ahli hukum yang berwenang, dan badan standar mungkin memiliki masukan. Namun, Kebutuhan yang diharapkan pengguna harus mendapatkan prioritas utama. Oleh karena itu, harus dipahami siapa pengguna, dan apa keterampilan mereka, motivasi dan lingkungan kerja [Alb-2003]. Proses ini tidak mudah karena: batasan sistem sering tidak jelas, klien tidak cukup paham apa yang dibutuhkan dan kebutuhan sering berubah [Pre-2005].</p>
<p><strong>3) Pengetahuan akuisisi dan pengelolaan</strong></p>
<p>Dalam banyak kasus, kebutuhan proses tergantung pada pendapat, klarifikasi, dan kumpulan masalah berorientasi pengetahuan. Hal ini terkait dengan aplikasi domain tertentu. Tanpa pengetahuan ini, kita tidak dapat menentukan fungsi apa yang harus ada pada sistem yang direncanakan. Jika ada pengetahuan, orang harus didorong untuk bersedia membuatnya [Alb-2003].</p>
<p>Kadang masalah yang muncul berakar dari perbedaan disiplin ilmu yang dimiliki. Customer adalah expert pada domain yang softwarenya ingin dikembangkan (domain specialist), dilain pihak sang pengembang (requirements analyst) adakalanya sama sekali buta terhadap knowledge domain tersebut, meskipun tentu memahami dengan benar bagaimana sebuah software harus dikembangkan. Gap knowledge domain tersebut yang diharapkan bisa diatasi dengan adanya interaksi terus menerus dan berulang (iterasi) antara pengembang dan customer. Proses interaksi tersebut kemudian dimodelkan menjadi beberapa teknik dan metodologi diantaranya adalah interviewing, brainstorming, prototyping, use case, dsb. [Rom-01].</p>
<p><strong>4) Studi Kelayakan atau analisis risiko</strong></p>
<p>Untuk sistem yang lebih besar, studi kelayakan perlu dilakukan sebelum kebutuhan secara resmi diterima. Dalam proses ini, untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan berikut pada setiap item pada daftar kebutuhan harus diperoleh: &#8220;Apakah kebutuhan ini akan dipenuhi dengan pengetahuan dan teknologi yang tersedia saat ini?&#8221; Ini dapat diperluas melengkapi analisis risiko. Dalam hal ini, pembongkaran non-teknis akan diberikan juga. Ini dapat berhubungan dengan pertanyaan seperti: &#8220;Bisakah ini dikembangkan atau dibangun dalam waktu yang telah dialokasikan?&#8221; &#8220;Apakah anggaran memadai?” dan “Apakah ada pembongkaran yang kompetitif?&#8221; Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, satu bentuk sebagian desain harus dilakukan.</p>
<p><strong>5) Kebutuhan fungsional dan non-fungsional</strong></p>
<p>a. Kebutuhan fungsional , adalah suatu kebutuhan yang menyatakan prilaku yang harus ada pada sistem. Contoh jika seorang pengusaha membeli mobil untuk membawa barang dari gudang ke toko, maka kebutuhan fungsional dari mobil tersebut adalah mobil harus dapat membawa barang dari gudang ke toko.</p>
<p>b. Kebutuhan non fungsional sederhananya adalah batasan yang harus ada pada sistem dan bagaimana dalam membentuk sistem tersebut. Batasan dapat dibagi menjadi dua sub katagori yakni:</p>
<ul>
<li>Performance constraint, batasan ini menunjukan spesifikasi bagaimana sistem bekerja ketika kebutuhan funsional telah bekerja. Contoh pada mobil yang mengangkut barang diatas adalah batasan bahwa minimal daya angkut pada mobil harus lebih dari satu ton.</li>
<li>Development constraint, batasan ini menunjukan sebagai pelengkap dari performance constraint. Batasan ini lebih cenderung pada batasan pada level manajemen proyek . Contoh rincian dari waktu , resource, quality , dll.</li>
</ul>
<p><strong>6) Keselamatan dan Kebutuhan keamanan</strong></p>
<p>Kekhususan bentuk kebutuhan non-fungsional menyangkut keselamatan dan keamanan sistem. Resiko keselamatan dapat menimbulkan bahaya untuk pengguna individu, kelompok, atau masyarakat luas. Keselamatan adalah penting, terutama jika komputer mengendalikan peralatan fisik atau pabrik, seperti rem mobil, pesawat, atau stasiun tenaga nuklir. Keamanan menjadi isu penting jika data yang disimpan, data harus dilindungi terhadap penyalahgunaan, serta terhadap serangan berbahaya oleh pesaing.</p>
<p><strong>7) Dokumentasi Kebutuhan (Documentation of Requirements)</strong></p>
<p>Kebutuhan setelah terkumpul dan teranalisa selanjutnya didokumentasikan dengan jelas dan baik dan tidak ambigu. Penulisan dokumentasi kebutuhan merupakan aspek yang “critical” sehingga memungkinkan suatu iterasi yang melibatkan seluruh ‘stakesholders’ sangatlah mungkin terjadi. Hal ini dapat disimpulkan dari peranan dokumentasi kebutuhan, yaitu :</p>
<p>a. Peran Dokumen Kebutuhan</p>
<ul>
<li>Digunakan sebagai dasar validasi jika terjadi konflik antar ‘stakesholders’</li>
<li>Sebagai kontrak antara customer dan developer</li>
<li>Dasar dari desain sistem bagi perancang</li>
<li>Ukuran bagi manager proyek dalam pemantauan jalannya proyek</li>
<li>Sumberdaya untuk manajemen kebutuhan dan pelacakan kebutuhan</li>
<li>Sumber untuk memformulasikan test plan untuk QA dan pengujian tim</li>
<li>Dasar untuk pengembangan perputaran proyek</li>
</ul>
<p>b. Spesifikasi Kebutuhan</p>
<p>Ditinjau dari sisi pemakai dokumentasi requirement dapat dipisahkan menjadi dua bagian</p>
<ul>
<li>User requirement , lebih ke bahasa formal non teknis. Diperuntukkan untuk kepentingan pelanggan dan end-user</li>
<li>System requirements, lebih ke bahasa formal teknis. Diperuntukan untuk kepentingan perancang dan perekayasa sistem.</li>
</ul>
<p>Setiap notasi yang digunakan harus mudah dibaca dan diketahui. Jika pemeriksa dan pembaca dokumen tidak memiliki latar belakang ilmu komputer, teks biasa dan diagram sederhana merupakan media pilihan. Untuk menjelaskan sistem bagi pengembang, biasa disertakan kebutuhan model. Untuk keperluan pemodelan, dengan notasi UML diutamakan daripada notasi grafis lainnya. Notasi ini sebagian besar CASE tools, notasi UML Object Modeling Technique (OMT), Entity Relationship Diagrams (ERDs), State Chart, dan notasi Use Case serta Data Flow Diagrams (DFDs)</p>
<p><strong>8) Penerimaan, Validasi dan Persetujuan Kebutuhan</strong></p>
<p>Keberhasilan setiap proyek pembangunan terutama tergantung pada penerimaan dari produk akhir yang diinginkan oleh pengguna. Cara terbaik untuk mencapai ini adalah melalui partisipasi pengguna. Upaya bersama ini selalu dimulai dengan definisi kebutuhan. User harus menerima kebutuhan, yakni mempertimbangkan kebutuhan sebagai milik mereka. Setelah didapat suatu kebutuhan yang teranalisa maka team rekayasa kebutuhan dan para stakeholdes memvalidasi kembali dan meperbaiki apa yang menjadi kekurangan. Meliputi proses identifikasi, menyakin kan kembali, menanggapi dan memperbaiki masalah dari requirements, dan menyatakan bahwa requirement telah dapat diterima.</p>
<p><strong>9) Pelacakan Kebutuhan dan Perubahan kendali</strong></p>
<p>Untuk sistem yang besar, perlu dipastikan bahwa tidak ada dokumentasi kebutuhan yang terlupakan. Kebutuhan dapat berubah, selama kehidupan sebuah proyek, baik sebelum atau setelah pengiriman. Oleh karena itu, diperlukan untuk membuat perubahan kendali prosedur guna kebutuhan. Prosedur ini harus menjamin bahwa semua pihak yang berkepentingan mengetahui tentang perubahan bila usulan, persetujuan untuk mengadopsi, dan tindak lanjut atas semua kegiatan yang dipicu oleh perubahan ini. Hal ini akan berlaku saat menambahkan atau menghapus kode, melakukan tes regresi, dokumentasi atau membuat perubahan.</p>
<p> </p>
<p><strong>3. Kesimpulan</strong></p>
<p>Definisi Kebutuhan (Requirement Definitions) adalah pernyataan yang menidentifikasikan kebutuhan yang penting dalam sistem dan di dalamnya mencakup aspek kebenaran, realistis, dibutuhkan, tidak ambigu, dan terukur. Langkah yang paling penting dalam proses requirement adalah komunikasi yang akurat antara user yang memerlukan sistem dengan pengembang (developer).</p>
<p>RE yang baik adalah penting karena dampaknya mampu mengurangi biaya proyek, dan diterimanya sistem oleh stakeholder sehingga bisa mengarah kepada keuntungan yang tinggi. Namun juga harus diakui dibutuhkan tenaga dan waktu yang tidak sedikit untuk berinvestasi dalam pembuatan requirement yang benar-benar baik. Untuk mendapatkan requirement yang baik, ada banyak pekerjaan/tasks harus dilakukan, untuk itu tim Requirements Engineering tidak hanya bekerja pada awal dari proyek namun bekerja melalui tahap pengembangan sampai tahap delivery untuk memastikan requirement benar-benar sesuai.</p>
<p>Karena kompleksitas, ragam pengetahuan dan keahlian khusus serta bidang kerja yang banyak, maka Requirement Engineering telah menjadi cabang ilmu baru pada tahun 1990an.</p>
<p> </p>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<ul>
<li style="text-align:left;">[Rom-01] Romi Satria Wahono, “Menyegarkan Kembali Pemahaman tentang Requirement Engineering”, <a href="http://romisatriawahono.net/2006/04/29/menyegarkan-kembali-pemahaman-tentang-requirement-engineering/">http://romisatriawahono.net/2006/04/29/menyegarkan-kembali-pemahaman-tentang-requirement-engineering/</a></li>
<li style="text-align:left;">[Alb-2003] Albert Endres, Dieter Rombach, “A Handbook of Software and Systems Engineering : Empirical Observations, Laws and Theories”, Pearson Education Limited, England, 2003.</li>
<li style="text-align:left;">[SWE-2004] SWEBOK, “Chapter 2 : SOFTWARE REQUIREMENTS”, IEEE, 2004.</li>
<li style="text-align:left;">[Pre-2005] Pressman, Roger S., “Software Engineering: A Practitioner&#8217;s Approach”, 6th Edition. McGraw-Hill. 2005.</li>
<li style="text-align:left;">[Kot-2000] G. Kotonya and I. Sommerville, Requirements Engineering: Processes and Techniques, John Wiley &amp; Sons, 2000.</li>
</ul>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/teguh8581.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/teguh8581.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/teguh8581.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/teguh8581.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/teguh8581.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/teguh8581.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/teguh8581.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/teguh8581.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/teguh8581.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/teguh8581.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/teguh8581.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/teguh8581.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/teguh8581.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/teguh8581.wordpress.com/97/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teguh8581.wordpress.com&amp;blog=8811465&amp;post=97&amp;subd=teguh8581&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://teguh8581.wordpress.com/2009/08/10/requirement-engineering/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f9124eb23e41e40d32170f5f94041149?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">teguh</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/gmb1_re.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">gmb1_re</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/gmb2_re.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">gmb2_re</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/tbl1_re.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">tbl1_re</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/gmb3_re.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">gmb3_re</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/tbl2_re.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">tbl2_re</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/gmb4_re.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gmb4_re</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ANEKA PENGOLAHAN PRODUK PERTANIAN</title>
		<link>http://teguh8581.wordpress.com/2009/08/04/aneka-pengolahan-produk-pertanian/</link>
		<comments>http://teguh8581.wordpress.com/2009/08/04/aneka-pengolahan-produk-pertanian/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Aug 2009 06:03:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Teguh Sutopo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Industri Rumah Tangga]]></category>
		<category><![CDATA[ide usaha]]></category>
		<category><![CDATA[ketrampilan]]></category>
		<category><![CDATA[usaha rumah tangga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://teguh8581.wordpress.com/?p=83</guid>
		<description><![CDATA[Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian DKI Jakarta 1996 / 1997 KATA PENGANTAR Pasca panen produk pertanian di DKI Jakarta merupakan salah satu cabang usaha pertanian yang mempunyai prospek yang cukup baik untuk dikembangkan dimasa mendatang. Selain dapat meningkatkan pendapatan para petani pengolah pasca panen, juga dapat memperluas kesempatan berusaha bagi warga DKI Jakarta, serta [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teguh8581.wordpress.com&amp;blog=8811465&amp;post=83&amp;subd=teguh8581&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-full wp-image-85" title="aneka00" src="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/aneka00.jpg?w=510&#038;h=377" alt="aneka00" width="510" height="377" /></p>
<p style="text-align:center;">Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian<br />
DKI Jakarta<br />
1996 / 1997</p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><strong>KATA PENGANTAR</strong></p>
<p>Pasca panen produk pertanian di DKI Jakarta merupakan salah satu cabang usaha pertanian yang mempunyai prospek yang cukup baik untuk dikembangkan dimasa mendatang. Selain dapat meningkatkan pendapatan para petani pengolah pasca panen, juga dapat memperluas kesempatan berusaha bagi warga DKI Jakarta, serta dapat menyerap kelebihan produk pertanian segar untuk dijadikan aneka produk olahan.</p>
<p>Peluang tersebut perlu didukung dengan ketersediaan teknologi yang telah dihasilkan oleh lembaga penelitian dan diterapkan di kelompok-kelompok tani.</p>
<p>Brosur ini merupakan kumpulan beberapa informasi teknologi yang berasal dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Dinas Pertanian DKI Jakarta dan beberapa informasi langsung dari kelompok tani nelayan seperti kelompok Wanita tani Widya Tani dan Kelompok Wanita tani Ayu Lestari di Jakarta Selatan serta Kelompok Wanita tani Ganda Mekar dan Kelompok Mekar Sari Jakarta Timur.</p>
<p>Ucapan terima kasih disampaikan kepada Ibu Nuraesin dari kelompok Mekar Sari, Ibu Sri Yunani Sueb dari kelompok Ganda Mekar, Ibu Yanti dari Kelompok Wanita tani Ayu<br />
Lestari dan Ibu Farida Edi dari Kelompok Wanita tani Widya Tani. atas kerjasamanva dalam pengumpulan bahan-bahan dan informasi hingga ini tersusun.</p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><strong>I. PENDAHULUAN</strong></p>
<p>Sebagian besar produk pertanian, khususnya buah-buahan dan sayuran lebih banyak dikonsumsi dalam bentuk segar dari pada dalam bentuk olahan. Disamping mengandung bahan-bahan seperti protein, karbohidrat dan vitamin masih cukup tinggi,<br />
juga masih mempunyai cita rasa yang segar dan menarik. Namun demikian karma sifat<br />
dari produk pertanian itu sendiri yang mudah busuk dan rusak maka alternatif untuk diolah menjadi produk pasta panen merupakan hal yang bijaksana untuk di lakukan. Tingkat kerusakan produk pertanian khususnya buah dan sayuran diperkirakan sekitar 30 % sampai dengan 40 % , sedangkan 60 % dikonsumsi dalam bentuk segar dan olahan.</p>
<p>DKI Jakarta yang merupakan pusat pemasaran produk pertanian mempunyai peluang yang cukup besar bagi penyediaan produk pertanian seperti buah-buahan dan sayuran sebagai bahan baku olahan produk pertanian. Produk olahan pertanian selain dapat meningkatkan nilai tambah bagi produk pertanian tersebut juga dapat memperluas aneka produk pertanian menjadi beberapa produk olahan serta dapat meningkatkan pendapatan pare pengolahan pasta panen.</p>
<p>Perkembangan teknologi pengolahan buah-buahan yang merupakan hasil penelitian Pusat Penelitian Hortikultura, Badan Litbang Pertanian telah banyak dihasilkan. Teknologi tersebut telah di-Gelar-kan kepada kelompok-kelompok tani, bahkan kondisi dilapangan menunjukkan bahwa teknologi yang di hasilkan tersebut telah banyak diterapkan oleh beberapa kelompok tani di DKI Jakarta seperti Kelompok Wanita tani Widya Tani, Kelompok Wanita tani Ayu Lestari di Jakarta Selatan serta Kelompok Mekar Sari dan Kelompok Ganda Mekar, di Jakarta Timur.</p>
<p>Informasi tentang beberapa resep olahan yang dicantumkan dalam brosur ini merupakan hasil beberapa penelitian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Penelitian Hortikultura, Jakarta dan telah diaplikasikan oleh para petani<br />
pengolah yang ada di DKI Jakarta. Selain dari itu modifikasi dari beberapa resep olahan<br />
buah-buahan tersebut dilakukan oleh para petani pengolah di DKI Jakarta guna memperkaya khasanah resep dalam upaya untuk memenuhi selera masyarakat.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>II. Dasar-dasar pengolahan dan pengawetan produk pertanian</strong></p>
<p>Untuk mendapatkan hasil pengolahan yang baik dan kualitas yang diinginkan, diharapkan mengetahui terlebih dahulu dasar-dasar tentang pengolahan dan pengawetan produk pertanian. Hal ini akan berpengaruh pada usaha-usaha untuk memodifikasi dan mengembangkan resep-resep yang telah dihasilkan.</p>
<p>Teknologi pasta panen pada umumnya merupakan penerapan secara teknik dari ilmu dan mekanisasi dalam perlakuan dan pengolahan untuk mengamankan dan mempertinggi daya guna makanan berdasarkan pads ilmu kimia, fisika, biologi dan mekanisasi.</p>
<p>Usaha-usaha yang dilakukan oleh teknologi makanan antara lain mengubah bahan makan menjadi bentuk yang mudah dipergunakan dan lebih dimanfaatkan oleh masyarakat baik dalam harga maupun rasa; membuat bahan pangan serta hasil olahannya menjadi tahan simpan; mempertahankan atau memperbaiki nilai gizi; membantu atau mencegah terjadinya gangguan kesehatan karena makanan (sanisatasi, pengawasan, pengolahan dan mutu bahan).</p>
<p>Ilmu teknologi makanan tidak mengajarkan cara-cars merubah bahan makan yang busuk menjadi baik, melainkan mempertahankan yang baik (bentuk kekerasan, warna,<br />
rasa, dan sebagainya) agar tetap baik. Teknologi makanan adalah ilmu memperlakukan<br />
bahan makanan menjadi makanan yang harus memenuhi kepuasan mata (warna, ukuran, keseragaman, konsisten), kepuasan hidung (bau, aroma), kepuasan tangan (keras, empuk, liat, butir, tepung dan sebagainya), kepuasan lidah (cita rasa), kepuasan gizi (keras, empuk, list dan sebagainya) disamping memperbaiki gizi untuk pencukupan<br />
kebutuhan pertumbuhan badan yang sehat, kuat dan cerdas serta pengamanan dan penyelamatan modal.</p>
<p>Pengawetan makanan sudah dikenal sejak berabad-abad lamanya. Mula-mula pengawetan hanya dikerjakan agar bahan makan dapat disimpan hingga waktu paceklik atau apabila produksi sangat melimpah.</p>
<p>Secara garis besar, pengolahan makanan dapat menjadi tiga golongan.</p>
<p>1.Pengawetan secara fisika<br />
2.Pengawetan secara kimia<br />
3.Pengawetan secara mikrobiologi</p>
<p><strong>2.1.Pengawetan secara fisika</strong><br />
<strong>a. Cara Pendinginan</strong><br />
Jika suhu penyimpanan diturunkan maka bahan yang disimpan akan lebih tahan lama sebab perkembangan jasad renik dan metabolisme bahan yang disimpan akan berjalan lebih lambat.<br />
<strong>b. Cara Pengeringan</strong><br />
Pada cara pengeringan kadar air bahan diturunkan sedemikian rupa sehingga enzim-enzim tidak dapat bekerja dan jasad renik tidak dapat berkembang biak. Banyaknya sisa air yang diperbolehkan adalah berbeda untuk tiap jenis bahan. Faktor faktor yang mempengaruhi antara lain kadar gula, kadar garam, lamanya penyimpanan dan sebagainya. Pads umumnya kadar air bahan makanan yang telah dikeringkan antara 1 sampai 20 %.<br />
Pengeringan dapat dikerjakan sebagai berikut:</p>
<p><strong>b.1. Pengeringan matahari / Penjemuran</strong><br />
Pengeringan matahari dapat dilakukan secara penjemuran sederhana dengan penghamparan di bawah sinar matahari atau dikerjakan dengan mempergunakan slat pengering tenaga tats surya. Bila perlu untuk menghindari menjadi hitamnya jaringan-jaringan sebelum dikeringkan dilakukan terlebih dahulu pembelerangan. Pemberian uap belerang dibakar (gas belerang dioksida) berjalan selama 15 menit sampai beberapa jam. Banyaknya belerang diserap dipengaruhi oleh suhu dan pendekatan belerang dioksida tersebut. Pembelerangan ini rata-rata membutuhkan 1000 sampai 3000 bagian per juts belerang dioksida yang sebagian besar akan hilang waktu proses pengeringan berikutnya.<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>b.2.Pengeringan buatan</strong><br />
Tiap butir atau tiap potong bahan makanan yang mempunyai kadar air tertentu mempunyai keseimbangan dengan kelembaban nisbi udara. Pada pengeringan buatan, sifat ini harus diperhatikan pula bahwa suhu dan lamanya pengeringan akan mempengaruhi rasa, warm, dan kekerasan bahan tersebut.</p>
<p><strong>c. Pengalengan atau pembotolan</strong><br />
Dasar pengawetan dengan pengalengan atau pembotolan ialah bahan makanan diisikan kedalam kaleng atau botol kemudian ditutup rapat dan dipanaskan pada suhu dan selama waktu tertentu. Dengan cara ini semua jasad renik yang semula terdapat pada bahan baku dihancurkan, enzim-enzim dihentikan atau dicegah kegiatannya dan penularan kembali oleh jasad renik dari luar dihindari.</p>
<p><strong>2.2. Cara kimia</strong><br />
a.Pengawetan dengan garam dapur<br />
Banyaknya garam dapur yang terdapat dalam suatu bahan makanan menentukan jasad renik yang dapat berkembang biak di dalamnya. Kadar garam jugs akan mempengaruhi tingkat perubahan yang akan dicapai oleh jasad renik tersebut. Garam dapur merupakan racun untuk jasad renik dan bersama-sama dengan asam mempunyai daya rusak jasad renik. Garam dapur yang kotor mengandung banyak zat-zat lain misalnya magnesium clorida (MgCI2), Kalsium Sulfat (CaSo4), Kalsium Clorida (CaCI2) dan garam-garam lainnya. Bahan-bahan tersebut sangat mempengaruhi mudah tidaknya garam masuk kedalam bahan yang akan digarami. Kecuali itu juga mempengaruhi warna dan rasa. Karena itu dianjurkan untuk menggunakan garam yang sudah dibersihkan.</p>
<p><strong>b. Pengawetan dengan asam</strong><br />
Bakteri pembusuk berkembang biak pada pH yang tinggi. Untuk merendahkan pH tersebut perlu ditambahkan asam, misalnya asam sitrat atau asam laktat sebanyak 1,5 &#8211; 1,8 % atau asam clorida sebanyak 0,036 &#8211; 0,072 %.</p>
<p>c.Pengawetan dengan karbon dioksida<br />
Karbon dioksida banyak digunakan pada minuman-minuman penyegar misalnya coca cola, F&amp;N, Seven-Up dan lain-lain. Karbondioksida yang digunakan untuk memperpanjang kesegaran buah yang disimpan dalam bejana tertutup.</p>
<p><strong>d. Pengawetan dengan antibiotika atau bahan pengawet lainnya.</strong><br />
Antibiotika yang pernah digunakan sebagai bahan pengawet antara lain sulfatiazol, sulfanilamid, penicilin G, Streptomycin. Bahan pengawet makanan yang sekarang lazim dipergunakan misalnya asam benzoat dan garam-garamnya, asam sorbat dan garam-garamnya, asam para cloro-benzoat, microhin, solbrol A dengan garam-garamnya, Hexamethylene tetramine, preventol O extra atau preventol ON extra.</p>
<p><strong>e. Pengawet dengan gula</strong><br />
Gula banyak sekali digunakan pada pengawetan makanan yang berasal dari buah-buahan. Sari buah, sirop, anggur, manisan buah, jam (selai) adalah contoh-contoh makanan awet yang banyak menggunakan gula. Gula dalam hal ini berfungsi ganda, memberi rasa manis, mempertahankan warna dan kekerasan dan menarik air dari sel-sel buah-buahan sehingga mikroba tak cocok tumbuh disana. Penggunaan gula selalu dikombinasikan misalnya dengan pengeringan, dengan bahan pengawet, canning dan fermentasi.</p>
<p>2.3.Pengawetan Cara Mikrobiologis<br />
Pengawetan makanan umumnya untuk menghambat atau mencegah memperkembangbiakan mikroba. Namun kenyataannya tidak semua jasad renik merusak, beberapa jenis diantaranya bisa digunakan untuk pengawetan makanan. Produksi sejumlah asam oleh jasad renik tertentu menciptakan kondisi yang baik untuk jasad renik lainnya. Proses yang terakhir ini lazim disebut dengan peragian atau fermentasi.</p>
<p>Fermentasi adalah proses an-aerobic atau sebagian aerobic, suatu proses oksidasi karbohidrat. Fermentasi dibedakan dari pembusukan karena terakhir merupakan perombakan an-aerobic terhadap bahan yang mengandung protein.</p>
<p>Natrium Clorida / garam dapur sangat berguna pada proses fermentasi karma garam ini menghambat pertumbuhan mikroba pembusuk dan sebagian terbesar mikroba lainnya. Bakteri tertentu tahan dalam larutan garam. Contoh-contoh hash fermentasi anggur, cuka (cider), alkohol, acar dan macam-macam asinan lainnya.</p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><strong>III. PEMBUATAN ANEKA SARI BUAH</strong></p>
<p><strong>a.Sari buah nenas</strong><br />
Bahan : Buah nenas yang matang<br />
Air masak<br />
Gula pasir<br />
Asam sitrat<br />
Pewarna makanan kuning</p>
<p>Cara pembuatan:</p>
<ol>
<li>Buah nenas yang cukup tua dikupas kulitnya kemudian dibuang mata dan empelurnya.</li>
<li>Dicuci bersih kemudian dihaluskan dengan cara diparut atau dihancurkan dengan alat &#8220;Waring blendor&#8221;.</li>
<li>Sari yang diperoleh ditakar : 500 cc + 700 gram gula + asam sitrat 3 gram / liter + warna kuning.</li>
<li>Setiap liter sari yang diperoleh dicampur dengan 3 liter air masak yang telah dingin.</li>
<li>Dari 1 liter sari buah akan diperoleh 4 liter larutan sari buah.</li>
<li>Setiap liter larutan sari buah ditambahkan dengan 125 gram gula pasir 1-2 gram asam sitrat tergantung pada derajat ke asaman buah nenas yang diperoleh.</li>
<li>Diaduk-aduk terus hingga gula pasir seluruhnya hancur atau larut.</li>
<li>Disaring dengan kain bersih atau saringan nylon yang halus.</li>
<li>Diberi pewarna makanan yang berwarna kuning secukupnya.</li>
<li>Dimasukkan kedalam botol yang telah dicuci bersih dan steril.</li>
<li>Ditutup rapat dengan penutup &#8220;Crown Curk&#8221;</li>
<li>Dipasteurisasi dengan cara merebusnya dalam panci besar pada suhu sekitar 85 °C selama I S menit.</li>
<li>Dinginkan dan diamkan selama 2 Minggu untuk mengetahui inkubasi jasad renik. Bila dalam 2 Minggu terdapat botol berisi sari buah nenas yang rusak berarti pengawetan kurang sempurna. Sari buah nenas yang rusak tersebut dipisahkan dan sebaiknya jangan dikonsumsi atau diperdagangkan.</li>
</ol>
<p><img class="size-medium wp-image-87 aligncenter" title="aneka01" src="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/aneka01.jpg?w=300&#038;h=180" alt="aneka01" width="300" height="180" /></p>
<p style="text-align:center;">Gambar 1 : Penambahan gula pasir dan asam sitrat diaduk merata</p>
<p><strong>b. Sari buah jambu biji</strong><br />
Bahan-bahan : Buah jambu biji<br />
Air masak<br />
Gula pasir<br />
Asam sitrat<br />
Pewarna makanan</p>
<p>Cara Pembuatan:</p>
<ol>
<li>Buah jambu biji dipilih yang cukup matang dan tua. Dapat diplih buah jambu biji dengan daging buahnya berwarna putih ataupun yang berwarna merah. Jangan pilih buah jambu yang masih keras atau mengkal karena buah yang masih keras berarti masih muda dan rasanya masih agak sepat karma banyak mengandung zat tanin. Dan jangan pula memilih jambu biji yang telah matang sekali karena buah yang terlalu matang mengandung pectin hanya sedikit sehingga dapat mengakibatkan konsentrasi sari buahnya kurang baik.</li>
<li>Buah dikupas kulitnya kemudian dibuang bijinya.</li>
<li>Dicuci bersih lalu dihaluskan dengan cara diparut atau dihancurkan dengan alat &#8220;waring blendor&#8221;, kemudian di tambah air secukupnya.</li>
<li>Sari buah yang diperoleh kemudian ditakar.</li>
<li>Setiap liter sari buah yang diperoleh dicampur dengan 3 liter air masak yang telah dingin.</li>
<li>Dari setiap liter sari buah jambu biji akan diperoleh 4 liter sari buah jambu biji.</li>
<li>Setiap liter sari buah jambu biji ditambahkan 125 gram gula pasir dan 2 gram asam sitrat/ liter sari buah jambu biji berwarna menarik.</li>
<li>Sari buah diaduk-aduk terus sehingga gula pasir seluruhnya larut.</li>
<li>Disaring dengan saringan kain yang bersih atau dengan saringan nylon yang halus.</li>
<li>Diberi pewarna makanan yang berwarna merah hingga warna sari buah jambu biji tersebut menjadi merah muda.</li>
<li>Dimasukkan ke dalam botol sari buah yang bersih dan steril.</li>
<li>Ditutup rapat dengan menggunakan &#8220;Crown Curk&#8221;.</li>
<li>Dipasteurisasi dengan cara merebus botol yang telah berisi sari buah tersebut di dalam panci besar pada suhu sekitar 85 derajat selama IS menu.</li>
<li>Dinginkan dan diamkan selama 2 Minggu untuk masa inkubasi jasad renik. Bila dalam waktu 2 Minggu terdapat botol yang berisi sari buah jambu biji yang rusak sebaiknya dipisahkan dan jangan dikonsumsi atau diperdagangkan.</li>
</ol>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-88" title="aneka02" src="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/aneka02.jpg?w=222&#038;h=300" alt="aneka02" width="222" height="300" />Gambar 2 : Penutupan botol dengan rapat menggunakan alat pres</p>
<p><strong>c. Pembuatan Sari Buah Sirsak</strong><br />
Bahan-bahan : Buah sirsak<br />
Air masak<br />
Gula pasir<br />
Asam sitrat<br />
Pewarna makanan</p>
<p>Cara Pembuatan :</p>
<ol>
<li>Buah sirsak dipilih yang telah matang (empuk). Sebaiknya jangan dipili) buah sirsak yang matangnya karena diperam karbit karma buah sirsak yang telah diperam dengan karbit rasanya sedikit kurang enak dan kadang-kadang dapat mengakibatkan botol pecah pada waktu pasteurisasi.</li>
<li>Buah dikupas kemudian dibuang biji dan empelurnya.</li>
<li>Buah diambil dagingnya saja kemudian dihaluskan dengan cara dihaluskan dengan cara digerus diatas ayakan bambu atau dihancurkan dengan alat waring blendor.</li>
<li>Sari buah yang telah diperoleh kemudian ditakar.</li>
<li>Setiap liter sari buah yang diperoleh dicampur dengan 4 liter air masak yang telah dingin.</li>
<li>Dari satu liter sari buah sirsak akan diperoleh 5 liter larutan sari buah.</li>
<li>Setiap larutan sari buah ditambah dengan 150 gram gula pasir dan 1 gram asam sitrat.</li>
<li>Larutan diaduk-aduk terus hingga gula pasir yang ditambahkan menjadi larut semuanya.</li>
<li>Disaring dengan menggunakan saringan kain yang bersih atau dengan saringan nylon yang halus.</li>
<li>Dapat diberi pewarna makanan yang berwarna hijau hingga warna asli buah tersebut menjadi hijau muda.</li>
<li>Dimasukkan ke dalam botol sari buah yang telah bersih dan steril.</li>
<li>Ditutup rapat dengan penutup &#8220;Crown Curk&#8221;</li>
<li>Dipasteurisasi dengan cara merebus botol yang telah berisi sari buah tersebut di dalam panci besar pada suhu sekitar 85 °C selama 15 menit.</li>
<li>Dinginkan dan diamkan selama 2 Minggu untuk inkubasi jasad renik. Bila dalam waktu 2 Minggu terdapat botol yang berisi sari buah yang rusak sebaiknya dipisahkan dan jangan dikonsumsi atau diperdagangkan.</li>
</ol>
<p><strong>d. Pembuatan Sari buah campuran sirsak dan nangka</strong><br />
Bahan-bahan : Buah sirsak<br />
Buah nangka<br />
Air masak<br />
Gula pasir<br />
Asam sitrat<br />
Natrium benzoat</p>
<p>Cara Pembuatan :</p>
<ol>
<li>Buah sirsak dipilih yang telah matang (empuk), buah nangka juga dipilih yang telah matang.</li>
<li>Kedua macam buah dikupas kulitnya dan diambil bagian buahnya saja.</li>
<li>Masing-masing daging buah dihaluskan secara terpisah. Caranya dengan digerus diatas ayakan bambu atau dihancurkan dengan alat waring blendor.</li>
<li>Sari buah masing-masing buah ditakar secara terpisah.</li>
<li>Setiap liter sari buah sirsak di campur dengan 4 liter air masak yang telah dingin dan setiap liter sari buah nangka dicampur dengan 4 liter air yang serupa.</li>
<li>Dari 1 liter sari buah masing-masing akan diperoleh 5 liter larutan sari buah.</li>
<li>Setiap liter larutan sari buah sirsak ditambah 150 gram gula pasir dan 1 gram asam sitrat sedangkan setiap liter sari buah nangka ditambahkan 125 gram gula pasir dan 3 gram asam sitrat.</li>
<li>Masing-masing sari buah di aduk-aduk terus hingga gula pasir larut seluruhnya.</li>
<li>Masing-masing sari buah disaring dengan menggunakan saringan kain yang bersih atau saringan nylon yang halus.</li>
<li>sari buah yang diperoleh dicampur dengan sari buah nangka yang diperoleh dengan perbandingan 1:1 sehingga diperoleh sari sirka (sirsak dan nangka). Sari sirka yang diperoleh perlu ditambah Natrium Benzoat sebanyak ½ gram untuk setiap liter sari buah sirka tadi karena sari buah ini termasuk salah satu jenis sari buah yang sangat mudah rusak.</li>
<li>sari buah sirka dimasukan kedalam botol yang telah bersih dan steril.</li>
<li>ditutup dengan penutup “crown curk” agar rapat benar.</li>
<li>Dipasteurisasi pada suhu sekitar 80 oC selama 15 menit.</li>
<li>Di inkubasi setelah dingin dengan cara disimpan selama 2 minggu.</li>
</ol>
<p><strong>e. Pembuatan Sari Buah Belimbing</strong><br />
Bahan-bahan : Buah Belimbing<br />
Air masak<br />
Gula pasir<br />
Asam sitrat<br />
Natrium benzoat</p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-89" title="aneka03" src="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/aneka03.jpg?w=300&#038;h=191" alt="aneka03" width="300" height="191" />Gambar 3: Belimbing yang telah dicuci bersih dipotong memanjang</p>
<p>Cara Pembuatan :</p>
<ol>
<li>Pilih buah Belimbing yang telah matang penuh. Usahakan memilih varietas Belimbing yang sama seperti varietas Dewi, Paris, Bangkok, Demak, dll.</li>
<li>Belimbing yang telah dipilih cuci sampai bersih.</li>
<li>Dipotong memanjang sesuai dengan bilah belimbing yang ada.</li>
<li>Belimbing yang telah dipotong, dikukus selama 5 sampai dengan 10 menit.</li>
<li>Setelah layu semuanya belimbing dihancurkan dengan menggunakan penghancur atau blender sehingga menjadi bubur belimbing.</li>
<li>Dilakukan pengenceran bubur belimbing dengan menambahkan air 1 liter bubur belimbing dicampur dengan 3 liter air matang.</li>
<li>Setelah itu dilakukan penyaringan dengan kain kasa atau penyaring dari nylon yang bersih.</li>
<li>Setiap liter larutan sari buah ditambah dengan 150 gram gala pasir dan 2 gram asam sitrat.</li>
<li>Larutan diaduk-aduk terus hingga gula pasir yang di tambah kan menjadi larut semuanya.</li>
<li>Disaring dengan menggunakan saringan kain yang bersih atau dengan saringan nylon yang halus.</li>
<li>Dimasukkan kedalam botol sari buah yang telah bersih dan steril.</li>
<li>Ditutup rapat dengan penutup &#8220;Crown Cruk&#8221;.</li>
<li>Dipasteurisasi dengan cara merebus botol yang telah berisi sari buah tersebut di dalam panci besar pada suhu sekitar 85 °C selama 30 menit.</li>
<li>Dinginkan dan diamkan selama 2 Minggu untuk inkubasi jasad renik. Bila dalam waktu 2 Minggu terdapat botol yang berisi sari buah yang rusak sebaiknya dipisahkan dan jangan dikonsumsi atau diperdagangkan.</li>
</ol>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-90" title="aneka04" src="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/aneka04.jpg?w=300&#038;h=248" alt="aneka04" width="300" height="248" />Gambar 4: Proses pasteurisasi dengan cara merebus botol selama 30 menit</p>
<p><strong>f. Pembuatan sari buah pisang</strong><br />
Bahan-bahan : Buah pisang<br />
Asam sitrat<br />
Gula pasir</p>
<p>Cara Pembuatan</p>
<ol>
<li>Buah harus dipilih yang matang penuh dan tidak busuk, dicuci dengan air bersih, kemudian dikupas dan dibuang kulitnya.</li>
<li>Daging buah direndam dalam larutan asam sitrat 0,4 % agar tidak terjadi pencoklatan pads daging buah.</li>
<li>Setelah ditiriskan kukus dengan dandang selama 7 menit dihitung saat air mendidih.</li>
<li>Setelah dikukus, buah dihancurkan untuk mendapatkan sari buahnya. Untuk ekstraksi sari buah dapat ditambahkan air dengan perbandingan 1 bagian sari buah dengan 3 bagian air.</li>
<li>Kemudian disaring, hasil saringan tersebut ditambahkan gula sebanyak 125 gram &#8211; 150 gram per liter sari buah yang di dapat. Lalu ditambahkan 1 – 2 gram asam sitrat.</li>
<li>Siapkan botol yang telah bersih dan steril.</li>
<li>Masukkan sari buah yang telah jadi, lalu tutup botol yang rapat dengan menggunakan crown curk.</li>
<li>Lakukan pasteurisasi dengan merebus botol yang telah berisi sari buah yang telah berisi sari buah pisang selama 30 menit. Lalu dinginkan.</li>
</ol>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-91" title="aneka05" src="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/aneka05.jpg?w=300&#038;h=211" alt="aneka05" width="300" height="211" />Gambar 5: Penyaringan sari buah dengan menggunakan kain kasa</p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-92" title="aneka06" src="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/aneka06.jpg?w=300&#038;h=216" alt="aneka06" width="300" height="216" />Gambar 6: Penambahan untuk sari buah<br />
<strong></strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>IV. PEMBUATAN ANEKA JAM</strong></p>
<p>Bahan-bahan :<br />
Buah nenas, Belimbing wuluh<br />
Jambu biji, Sirsak, dll.<br />
Gula pasir<br />
Asam sitrat<br />
Natrium benzoat.</p>
<p>Cara Pembuatan</p>
<ol>
<li>Buah dipilih yang cukup tingkat ketuaannya. Nenas dan sirsak sebaiknya dipilih yang telah matang. Belimbing wuluh dan jambu sebaiknya jangan dipilih yang terlalu tua karena buah yang terlalu tua kadar pektin yang dikandung oleh buah mempengaruhi tekstur jam yang akan dihasilkan.</li>
<li>Buah dibersihkan dan diambil bagian daging buahnya saja.</li>
<li>Kemudian buah dihaluskan dengan cara digerus diatas ayakan bambu atau dihancurkan dengan alat waring blendor.</li>
<li>Buah yang terlalu banyak mengandung air seperti misalnya nenas Palembang atau belimbing wuluh sebaiknya sebagian air buahnya dibuang dengan cars menyaring air buah yang telah dihaluskan tersebut. Membuangnyapun jangan terlalu banyak.</li>
<li>Sari buah yang diperoleh kemudian ditakar.</li>
<li>Sari buah dipanaskan selama 15 menit.</li>
<li>Ditambahkan gula pasir dan asam sitrat. Untuk setiap liter sari buah diperlukan 1 Kg gala pasir dan 5 gram asam sitrat. Jika buah yang dipergunakan rasanya asam cukup tambahkan 3 gram asam sitrat.</li>
<li>Dipanaskan terus menerus diatas api sambil diaduk-aduk secara merata sampai sari buah tersebut mengental. Untuk mengetahui apakah jam tersebut cukup mengental ambillah sebuah piring dan letakkan diatas piring. Jika piring dimiringkan dan ternyata jam tidak meleleh hal tersebut menandakan bahwa jam tersebut sudah cukup kekentalannya. Tambahkan Natrium benzoat I/2 gram untuk setiap liter.</li>
<li>Sewaktu masih panas masukkan kedalam botol yang telah bersih dan steril, kemudian ditutup rapat-rapat.</li>
<li>Botol yang telah berisi jam tersebut dikukus dengan suhu 100 °C selama 30 menit.</li>
<li>Untuk jam buah-buahan dapat pula diberikan zat pewarna makanan agar lebih menarik penampilannya.</li>
</ol>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><strong>V. PEMBUATAN ANEKA SIROP</strong></p>
<p><strong>a. Pembuatan Sirop Temu Lawak</strong><br />
Bahan-bahan :<br />
Gula pasir 2 Kg<br />
Temu Lawak 100 gram<br />
Asam sitrat 3 gram<br />
Bunga pala 1 gram<br />
Kayu manis 1 gram<br />
Cengkeh tanpa kepala 1/2 gram<br />
Air 11/2 liter</p>
<p>Cara Pembuatan</p>
<ol>
<li>Temu lawak yang telah dikeringkan dicampur dengan bunga pala, kayu manis dan cengkeh yang telah dibuang kepalanya.</li>
<li>Ditambahkan air kemudian dimasak sehingga air tinggal 1 liter. Selama memasaknya diaduk-aduk terus.</li>
<li>Diamkan selama 1 malam.</li>
<li>Disaring untuk diambil ekstrak rebusan campuran tersebut.</li>
<li>Ekstrak campuran ini ditambah gula pasir kemudian di masak sambil diaduk-aduk hingga gula seluruhnya larut.</li>
<li>Disaring dengan saringan kain yang bersih kemudian ditambahkan asam sitrat.</li>
<li>Sewaktu masih panas masukkan kedalam botol yang telah bersih dan steril, kemudian tutup rapat-rapat dengan penutup crown curk.</li>
</ol>
<p><strong>b. Pembuatan Sirop Jahe</strong><br />
Bahan-bahan :<br />
Jahe 1 Kg<br />
Air masak 10 liter<br />
Gala 12 Kg</p>
<p>Cara Pembuatan</p>
<ol>
<li>Jahe dibersihkan dari kotoran yang menempel.</li>
<li>Jahe diparut dengan menggunakan parutan, dan direbus dengan 2 liter air selama 30 menit.</li>
<li>Dinginkan sejenak baru diperas dan disaring dengan menggunakan kain kasa atau saringan nylon.</li>
<li>Kemudian sari jahe tersebut ditambahkn 8 liter air.</li>
<li>Kemudian direbus, setelah mendidih masukkan 12 Kg gala lalu diaduk-aduk selama 30 menit, lalu dinginkan.</li>
<li>Siapkan botol yang bersih dan steril, masukkan kedalam botol yang bersih dan steril, masukkan sirop jahe yang telah dingin.</li>
<li>Sterilisasi selama 15 hari.</li>
</ol>
<p>Ampas jahe yang diperas tadi dapat digunakan untuk membuat enting-enting jahe</p>
<p>Caranya Pembuatan :</p>
<ol>
<li>Ampas jahe ditumbuk sampai halus.</li>
<li>Siapkan gala merah sebanyak 3/4 Kg dan gala pasir 1l4 Kg kemudian larutkan.</li>
<li>Setelah itu masukkan ampas jahe yang telah ditumbuk tadi.</li>
<li>Aduk- aduk hingga merata diatas api kecil pelan 30 menit.</li>
<li>Setelah itu diangin-anginkan di atas tampah lalu dipotong potong sesuai dengan keinginan.</li>
</ol>
<p style="text-align:center;"><strong>VI. PEMBUATAN ANEKA CORDIAL</strong></p>
<p><strong>a. Pembuatan Cordial Jeruk Nipis</strong><br />
Bahan-bahan :<br />
Jeruk nipis<br />
Natrium metabisulfit<br />
Natrium benzoat<br />
Gula pasir<br />
Pewarna makanan</p>
<p>Cara Pembuatan</p>
<ol>
<li>Jeruk nipis dipilih yang baik mutunya kemudian dicuci bersih.</li>
<li>Dibelah atau diiris dan selanjutnya diperas untuk ambil sarinya.</li>
<li>Sari buah yang diperoleh ditakar.</li>
<li>Ditambahkan natrium metabisulfit sebanyak 2 gram untuk setiap liter sari buah jeruk nipis yang dihasilkan.</li>
<li>Dibiarkan mengendap partikel-partikelnya yang banyak mengandung zat limonie. Zat ini dapat mengakibatkan rasa pahit terutama bila kena panas.</li>
<li>Pengendapan berlangsung 2 malam.</li>
<li>Setelah 2 malam sari buah jeruk nipis akan memisah menjadi 2 bagian sari buah yang bening dan bagian sari buah yang keruh.</li>
<li>Pisahkan bagian sari buah yang bening dengan hati-hati.</li>
<li>Setiap liter sari buah yang bening dicampur dengan 3 liter air hangat dan 8 Kg gula pasir sambil diaduk secara terus menerus hingga gula pasir larut seluruhnya.</li>
<li>Disaring dengan saringan kain yang bersih.</li>
<li>Ditambahkan Natrium benzoat sebanyak 1/2 gram untuk setiap cordial.</li>
<li>Masukkan kedalam botol yang telah bersih dan steril kemudian tutup rapat-rapat dengan penutup.</li>
</ol>
<p><strong>b. Pembuatan Cordial Belimbing Wuluh</strong><br />
Bahan-bahan :<br />
Buah belimbing wuluh yang cukup tua<br />
Gula pasir<br />
Natrium benzoat<br />
Essence jeruk (bila diperlukan)<br />
Pewarna makanan</p>
<p>Cara Pembuatan</p>
<ol>
<li>Buah belimbing wuluh atau belimbing sayur dipilih yang cukup tingkat ketuaannya, jangan dipilih yang masih muda atau yang sudah tua.</li>
<li>Dibersihkan bagian ujung dan pangkal kemudian dicuci bersih. Selanjutnya bijinya dibuang.</li>
<li>Dihaluskan dengan cara digerus diatas ayakan bambu atau dengan alat waving blendor disaring lalu diambil sarinya.</li>
<li>Ditambahkan gula pasir sebanyak 1,5 Kg untuk setiap liter sari buah.</li>
<li>Dimasak sampai mendidih sambil diaduk-aduk terus agar gula larut seluruhnya lalu tambahkan Natrium benzoat sebanyak 1/2 gram untuk setiap liter cordial.</li>
<li>Masukkan kedalam botol steril dan tutup rapat.</li>
</ol>
<p><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<ol>
<li>Anonimous, 1988. Penanganan Pasca Panen dan Pengawetan Hasil Pertanian. Dinas Pertanian DKI Jakarta.</li>
<li>Syoaib, Sri Yunani, 1988. Mengolah Makanan dan Minuman Awet. Kelompok Wanitatani Tani Ganda Mekar.</li>
<li>Syoaib, Sri Yunani, 1988. Manfaat Pemasaran Manisan Daun Pepaya Bagi Masyarakat Serta Anggota Kelompok Wanitani.</li>
<li>Maharani, 1991. Pengolaahan Pasca Panen</li>
<li>Nuraisin, 1996. Potensi, Peluang dan Kendala Agribisnis Kelompok Petani Perkotaan.</li>
</ol>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/teguh8581.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/teguh8581.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/teguh8581.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/teguh8581.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/teguh8581.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/teguh8581.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/teguh8581.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/teguh8581.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/teguh8581.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/teguh8581.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/teguh8581.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/teguh8581.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/teguh8581.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/teguh8581.wordpress.com/83/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teguh8581.wordpress.com&amp;blog=8811465&amp;post=83&amp;subd=teguh8581&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://teguh8581.wordpress.com/2009/08/04/aneka-pengolahan-produk-pertanian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f9124eb23e41e40d32170f5f94041149?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">teguh</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/aneka00.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">aneka00</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/aneka01.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">aneka01</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/aneka02.jpg?w=222" medium="image">
			<media:title type="html">aneka02</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/aneka03.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">aneka03</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/aneka04.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">aneka04</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/aneka05.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">aneka05</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/aneka06.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">aneka06</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Resource Description Framework (RDF)</title>
		<link>http://teguh8581.wordpress.com/2009/08/03/resource-description-framework-rdf/</link>
		<comments>http://teguh8581.wordpress.com/2009/08/03/resource-description-framework-rdf/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Aug 2009 02:49:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Teguh Sutopo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Software]]></category>
		<category><![CDATA[RDF]]></category>
		<category><![CDATA[resource description framework]]></category>
		<category><![CDATA[semantic web]]></category>
		<category><![CDATA[web 3.0]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://teguh8581.wordpress.com/?p=73</guid>
		<description><![CDATA[RDF Tulang Punggung Web 3.0 / Semantic Web Oleh : Teguh Sutopo 1. SEJARAH DAN PERKEMBANGAN WEB Website atau juga disebut dengan WORLD WIDE WEB (WWW) lahir di tahun 1989 ketika seorang peneliti CERN (pusat penelitian nuklir Eropa) bernama Tim Berners-Lee membuat sebuah browser berbasis hyperlink untuk sistem pengakses tulisan ilmiah di lembaga tersebut. Browser [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teguh8581.wordpress.com&amp;blog=8811465&amp;post=73&amp;subd=teguh8581&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 		A:link { color: #0000ff } --><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:medium;"><strong>RDF Tulang Punggung Web 3.0 / Semantic Web</strong></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:left;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Oleh : Teguh Sutopo</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><strong>1. SEJARAH 	DAN PERKEMBANGAN WEB</strong></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Website atau juga disebut dengan WORLD WIDE WEB (WWW) </span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">lahir di tahun 1989 ketika seorang peneliti CERN (pusat penelitian nuklir Eropa) bernama Tim Berners-Lee membuat sebuah browser berbasis </span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>hyperlink</em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"> untuk sistem pengakses tulisan ilmiah di lembaga tersebut. Browser yang sangat sederhana itu pertama diberi nama WorldWideWeb, tanpa spasi, lalu kemudian berganti menjadi Nexus untuk menghindari kerancuan dengan istilah WWW. Walaupun sekarang WWW sudah meraih sukses besar melebihi perkiraan pembuatnya di awal pembuatannya.</span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><br />
</span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>Website </em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">sejak pemunculannya telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. </span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Secara fungsional Website digunakan untuk melakukan transaksi, penyebaran informasi, maupun pencarian informasi. Website yang memiliki mesin pencari informasi seperti </span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>altavista,</em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"> </span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>google,</em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"> </span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>yahoo, cuil, wolframalpha, </em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">dan yang terbaru</span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em> bing </em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">telah menjadi alternatif utama bagi masyarakat dalam mencari berita atau informasi.</span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><br />
</span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Secara teknologi, Website sampai saat ini memasuki generasi ke 3 yaitu Web 3.0 atau disebut </span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>semantic web</em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"> yang meskipun masih dalam perdebatan para analis dan peneliti untuk standarisasi.</span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;">
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Adapun generasi website yang sudah ada dan masih berjalan yaitu Web 1.0 dan Web 2.0. Secara ringkas mengenai Web tersebut adalah sebagai berikut :</span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;">
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Web 1.0</strong></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Web 1.0 merupakan teknologi Web generasi pertama yang merupakan revolusi baru di dunia Internet karena telah mengubah cara kerja dunia industri dan media. Pada dasarnya, </span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>Website </em></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">yang dibangun pada generasi pertama ini secara umum dikembangkan untuk pengaksesan informasi dan memiliki sifat yang sedikit interaktif namun cenderung pasif. Berbagai </span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>Website </em></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">seperti situs berita “cnn.com” atau situs belanja “Bhinneka.com” dapat dikategorikan ke dalam jenis ini.</span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;">
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Web 2.0</strong></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Istilah Web 2.0 pertama kalinya diperkenalkan oleh O’Reilly Media pada tahun 2004 sebagai teknologi Web generasi kedua yang mengedepankan kolaborasi dan </span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>sharing </em></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">informasi secara </span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>online</em></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">.</span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;">
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Menurut Tim O’Reilly, Web 2.0 dapat didefinisikan sebagai berikut:</span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;">
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>Web 2.0 adalah revolusi bisnis di industri komputer yang disebabkan oleh penggunaan internet sebagai platform, dan merupakan suatu percobaan untuk memahami berbagai aturan untuk mencapai keberhasilan pada platform baru tersebut. Salah satu aturan terutama adalah: Membangun aplikasi yang</em></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>mengeksploitasi efek jaringan untuk mendapatkan lebih banyak lagi pengguna aplikasi tersebut</em></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">”</span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;">
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Berbagai layanan berbasis web seperti jejaring sosial, </span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>wiki </em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">dan </span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>folksonomies </em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">(misalnya: “flickr.com”, “del.icio.us”) merupakan teknologi Web 2.0 yang menambah interaktifitas di antara para pengguna Web.</span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;">
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Pada umumnya, </span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>Website </em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">yang dibangun dengan menggunakan teknologi Web 2.0 memiliki fitur-fitur sebagai berikut:</span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;">
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">CSS 	(Cascading Style Sheets)</span></span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Aplikasi 	Rich Internet atau berbasis Ajax</span></span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Markup 	XHTML</span></span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Sindikasi 	dan agregasi data menggunakan RSS/Atom</span></span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">URL 	yang valid</span></span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Folksonomies</span></span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Aplikasi 	wiki pada sebagian atau seluruh </span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>Website</em></span></span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">XML 	Web-Service API</span></span></span></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;">
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Web 3.0 / </strong></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em><strong>Semantic Web</strong></em></span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Web 3.0 berpotensi menjadi generasi teknologi di dunia Internet. Saat ini, definisi untuk Web 3.0 sangat beragam mulai dari pengaksesan </span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>broadband </em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">secara </span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>mobile </em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">sampai kepada layanan Web berisikan perangkat lunak bersifat </span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>on-demand</em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">. Namun, menurut John Markoff, Web 3.0 adalah sekumpulan teknologi yang menawarkan cara baru yang efisien dalam membantu komputer mengorganisasi dan menarik kesimpulan dari data </span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>online</em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">. C</span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">ontent web ditampilkan tidak hanya dalam format bahasa manusia yang umum (</span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>natural language</em></span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">), tetapi juga dalam format yang dapat dibaca dan digunakan oleh mesin (baca: </span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>software</em></span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">).</span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;">
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Melalui </span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>Semantic Web </em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">inilah, berbagai perangkat lunak akan mampu mencari, membagi, dan mengintegrasikan informasi dengan cara yang lebih mudah. Dengan demikian, unsur kecerdasan buatan (Artificial Intelligence / AI) merupakan bagian penting pada Web 3.0 / </span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>Semantic Web</em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">, sehingga Web menjadi semakin cerdas.</span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><br />
</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><strong>2. Komponen-komponen </strong></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em><strong>Semantic 	Web</strong></em></span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Pembuatan </span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>Semantic Web </em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">dimungkinkan dengan adanya sekumpulan standar yang dikoordinasi oleh </span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>World Wide Web Consortium </em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">(W3C). Standar yang paling penting dalam membangun </span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>Semantic Web </em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">adalah XML, XML Schema, RDF, OWL, dan SPARQL.</span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;">
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Berikut ini adalah </span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>layer </em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">dari </span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>Semantic Web </em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">sebagaimana direkomendasikan oleh W3C (</span></span></span><span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><a href="http://www.w3c.org/"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">www.w3c.org</span></span></a></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">):</span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;" align="center"><img class="aligncenter size-medium wp-image-74" title="gmb1_RDF" src="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/gmb1_rdf.jpg?w=300&#038;h=216" alt="gmb1_RDF" width="300" height="216" /></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Gambar 1: </span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>Layer </em></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">pada </span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>Semantic Web</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em><br />
</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><strong>3. Resource 	Description Framework (RDF)</strong></span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Salah satu tulang punggung Web 3.0 adalah format dan spesifikasi yang memungkinkan komunikasi dan interaksi pada level mesin, W3C mendefinisikan format metadata yang dikenal dengan RDF (</span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>Resource Description Format</em></span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">). RDF terdiri dari tiga komposisi, meliputi subject, predicate, dan object. Predicate merupakan komposisi yang menerangkan sudut pandang dari subject yang dijelaskan object, sementara subject dan object merupakan entitas. Object di dalam RDF dapat menjadi subject yang diterangkan oleh object yang lainnya. Dengan inilah object dapat berupa masukan yang dapat diterangkan secara jelas dan detail, sesuai dengan keinginan pengguna yang memberikan masukan. </span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;">
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Cara kerja RDF dapat diterangkan dengan satu contoh sederhana berikut, untuk mendefinisikan “</span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">daun memiliki warna hijau</span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">”, maka “</span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">daun</span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">” direpresentasikan sebagai subject, “</span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">hijau</span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">” merupakan object, dan “</span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">memiliki warna</span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">” adalah predicate. Dengan menggunakan RDF, website dapat menyimpan dan melakukan pertukaran informasi antar-web. RDF telah digunakan pada aplikasi-aplikasi, antara lain:</span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong>a. RSS 	(RDF Site Summary).</strong></span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">RSS memberikan informasi update sebuah website tanpa pengunjung perlu mengunjungi website tersebut.</span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong>b</strong></span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><strong>. FOAF 	(Friend of a Friend).</strong></span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Didesain untuk mendeskripsikan orang-orang, ketertarikan dan hubungan mereka.</span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><strong>c. SIOC 	(Semantically-Interlinked Online Communities).</strong></span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Menerangkan komunitas online dan menciptakan koneksi antara diskusi berbasis Internet seperti message board, blog, maupun mailing list.</span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;">
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Dasar RDF</strong></span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Sebagai sebuah standar bahasa semantik web yang ditetapkan oleh W3C, RDF merupakan suatu pondasi dalam melakukan pemrosesan metadata. Di dalam RDF berlaku aturan “</span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>seseorang dapat mengatakan apapun mengenai apapun dimanapun</em></span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">”. Ini berarti bahwa hubungan antara 2 obyek dapat berada di beberapa dokumen yang terpisah dari obyeknya, sehingga tidak diperlukan obyek secara fisik untuk menjelaskan deskripsinya, melainkan menggunakan referensi yang mengacu kepada obyek tersebut.</span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;">
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Elemen dasar model RDF adalah </span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">triple</span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"> atau </span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">statements</span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"> : berupa sebuah </span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>resource</em></span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"> (subyek) yang dihubungkan dengan resource yang lain atau </span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>literal </em></span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">(obyek) melalui resource ketiga (predikat). Resource ini diidentifikasi dengan URI. Sebuah statement dapat didefinisikan : mempunyai property bernilai.</span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><br />
Adapun tujuan dari desain RDF3 adalah untuk memenuhi kriteria berikut :</span></span></span></p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Memiliki 	model data yang sederhana</span></span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Memiliki 	bentuk semantic yang formal dan inference yang dapat dibuktikan</span></span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Menggunakan 	extensible URI-based vocabulary</span></span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Menggunakan 	sintaks XML</span></span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Mendukung 	penggunaan XML Schema Datatypes</span></span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Memperbolehkan 	setiap orang untuk mendefinisikan tentang resource</span></span></span></p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><br />
</span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><strong>RDF Schema</strong></span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">RDF Schema adalah </span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>vocabulary</em></span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"> yang digunakan untuk membuat RDF. Terdapat tiga konsep penting dalam RDF Schema, yaitu </span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>Resource</em></span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-size:small;"> (</span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">rdfs:Resource</span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-size:small;">), </span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>Class </em></span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-size:small;">(</span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">rdfs:Class</span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-size:small;">), </span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>Property</em></span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-size:small;"><em> </em></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-size:small;">(</span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">rdf:Property</span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-size:small;">).</span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-size:small;"><br />
</span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Apabila ingin menjelaskan sesuatu adalah “type” dari sesuatu yang lain, dapat menggunakan </span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">rdf:Type Property:-</span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-size:small;">. </span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Contoh berikut akan memperjelas:</span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-size:small;"><br />
</span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">rdfs:Resource rdf:type rdfs:Class.</span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">rdfs:Class rdf:type rdfs:Class.</span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">rdf:Property rdf:type rdfs:Class.</span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">rdf:type rdf:type rdf:Property.</span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-size:small;"><br />
</span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Contoh diatas menjelaskan bahwa : Resource adalah type dari Class, Class adalah type dari Class, Property adalah type dari Class dan Type adalah type dari Property.</span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><br />
</span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;page-break-before:always;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Untuk membuat Class sangatlah mudah. Contohnya membuat class dengan nama history:</span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><br />
</span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">:history rdf:type rdfs:Class</span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-size:small;"><br />
</span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Jika ingin menjelaskan bahwa hiroshima adalah jenis history, maka:</span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;">
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">:hiroshima rdf:type :history</span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-size:small;"><br />
</span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Membuat property pun cukup mudah, hanya dengan menggunakan rdf:Property, seperti berikut:</span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-size:small;"><br />
</span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">:title rdf:type rdf:Property</span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">:hiroshima :title “Hiroshima and Nagasaki”</span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-size:small;"><br />
</span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Mengapa dikatakan Hiroshima title adalah “</span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">Hiroshima and Nagasaki</span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">”? karena</span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-size:small;"> </span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">:hiroshima</span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-size:small;"> </span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">adalah URI, dan penggunaannya dapat dilakukan dengan memilih sembarang URI, contohnya “</span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">bom_hiroshima</span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">” ataupun “</span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">hiroshima_rata</span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">”. Pertimbangan menggunakan </span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">:hiroshima</span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"> terlebih kepada kemudahan dalam mengingat.</span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-size:small;"><br />
</span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Selain tiga konsep diatas, terdapat juga</span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-size:small;"> </span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">rdfs:subClassOf</span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-size:small;"> </span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">dan </span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-size:small;">r</span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">dfs:subPropertyOf,</span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-size:small;"> </span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">yang menjelaskan bahwa class atau property merupakan sub class atau sub property dari class atau property yang lain. Jika history adalah sub class dari documenter, maka penulisannya adalah :</span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-size:small;"><br />
</span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">:history rfds:subClassOf :documenter</span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;">
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Hal ini menjelaskan bahwa hiroshima adalah history, dan juga menjelaskan bahwa hiroshima adalah documenter. Penulisan sub class lain adalah sebagai berikut:</span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-size:small;"><br />
</span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">:war rdfs:subClassOf :documenter</span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">:flora_fauna rdfs:subClassOf :documenter</span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;">
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Dan kemudian menciptakan instance dari class, seperti berikut:</span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-size:small;"><br />
</span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">:world_war_1 rdf:type :war</span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">:pinus_garden rdf:type :flora_fauna</span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><br />
Konsep berikutnya, yang juga penting adalah domains dan ranges. Domains adalah acuan dari subyek atau obyek, sedangkan ranges adalah batasan nilai. Contohnya apabila kita ingin mengatakan bahwa properti “:duration” selalu mengacu ke video dan memiliki nilai literal, maka:</span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-size:small;"><br />
</span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;page-break-before:always;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">:video rdf:type rdfs:Class</span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">:duration rdf:type rdf:property</span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">:duration rdfs:domain :video</span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">:duration rdfs:range rdfs:literal</span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">:spiderman3 rdf:type :video</span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">:video :spiderman3 “2 jam 30 menit”</span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-size:small;"><br />
</span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Konsep lain yang ada yaitu </span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">rdfs:comment</span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"> dan </span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">rdfs:label</span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">, contohnya sebagai berikut:</span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-size:small;"><br />
</span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">:spiderman3 rdfs:label “Hot Movies on May</span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-size:small;">”</span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">:spiderman3 rdfs:comment “Spiderman VS Sand Man”</span></span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;">
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Jena: 	Framework Pengembangan Aplikasi </strong></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em><strong>Semantic 	Web </strong></em></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Berbasis 	Java</strong></span></span></p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>Jena Java RDF API and toolkit </em></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">merupakan </span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>framework </em></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">berbasis bahasa Java untuk mengkonstruksi aplikasi </span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>Semantic Web</em></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">. </span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>Framework </em></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">ini menyediakan lingkungan pemrograman untuk RDF, RDF Schema, OWL, dan SPARQL serta memiliki mesin inferensi berbasis aturan (</span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>rule-based inference engine</em></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">). Jena juga memiliki kemampuan untuk digunakan sebagai basis data RDF melalui </span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>layer </em></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">yang dikenal dengan nama Joseki.</span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;">
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Untuk membuat aplikasi </span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>Semantic Web</em></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">, pertama-tama kita harus membuat model RDF.</span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;">
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Sebagai contoh, kita membuat model pohon keluarga sebagai berikut:</span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;">
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;" align="center"><img class="aligncenter size-medium wp-image-75" title="gmb2_RDF" src="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/gmb2_rdf.jpg?w=300&#038;h=204" alt="gmb2_RDF" width="300" height="204" /></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;">
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Untuk contoh ini, misalnya kita telah memiliki </span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>vocabulary “Relationship” </em></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">yang didalamnya terdapat </span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>properties siblingOf</em></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">, </span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>spouseOf</em></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">, </span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>parentOf</em></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">, dan </span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>childOf</em></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">. </span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;">
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Jena memiliki kelas </span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>ModelFactory </em></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">yang dapat digunakan untuk membuat berbagai model. Melalui model inilah kita akan membuat sebuah </span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>Resource </em></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">yang merepresentasikan setiap orang yang ada pada pohon keluarga di atas.</span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;">
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Setelah semua </span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>resource </em></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">dibuat, selanjutnya kita dapat menambahkan </span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>statements </em></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">kepada </span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>resource </em></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">tersebut. Pada Jena, subjek setiap </span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>statement </em></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">selalu berupa sebuah </span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>Resource</em></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">, sedangkan predikat direpresentasikan oleh </span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>Property</em></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">, dan objek bisa direpresentasikan oleh sebuah </span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>Resource </em></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">lain maupun sebuah nilai literal. </span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;">
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Untuk menggambarkan relasi pada pohon keluarga tersebut, kita harus menambahkan empat buah </span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>instance Property </em></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">dengan cara memanggil </span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>method addProperty( )</em></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">.</span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;">
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Berikut ini adalah potongan kode yang merepresentasikan model pohon keluarga (keluarga.rdf) tersebut di atas.</span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;">
<p style="margin-left:.5in;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">// URI declaration</span></span></p>
<p style="margin-left:.5in;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">String familyUri = &#8220;http://family/&#8221;;</span></span></p>
<p style="margin-left:.5in;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">String relationshipUri = </span></span></p>
<p style="margin-left:.5in;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">&#8220;http://purl.org/vocab/relationship/&#8221;;</span></span></p>
<p style="margin-left:.5in;margin-bottom:0;">
<p style="margin-left:.5in;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">// Create an empty Model</span></span></p>
<p style="margin-left:.5in;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">Model model = ModelFactory.createDefaultModel();</span></span></p>
<p style="margin-left:.5in;margin-bottom:0;">
<p style="margin-left:.5in;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">// Create a Resource for each family member, </span></span></p>
<p style="margin-left:.5in;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">// identified by their URI</span></span></p>
<p style="margin-left:.5in;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">Resource iwan = model.createResource(familyUri+&#8221;iwan&#8221;);</span></span></p>
<p style="margin-left:.5in;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">Resource santi = model.createResource(familyUri+&#8221;santi&#8221;);</span></span></p>
<p style="margin-left:.5in;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">Resource joni = model.createResource(familyUri+&#8221;joni&#8221;);</span></span></p>
<p style="margin-left:.5in;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">Resource anni = model.createResource(familyUri+&#8221;anni&#8221;);</span></span></p>
<p style="margin-left:.5in;margin-bottom:0;">
<p style="margin-left:.5in;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">// and so on for other family members</span></span></p>
<p style="margin-left:.5in;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">// Create properties for the different types of</span></span></p>
<p style="margin-left:.5in;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">// relationship</span></span></p>
<p style="margin-left:.5in;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">// to represent</span></span></p>
<p style="margin-left:.5in;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">Property childOf = </span></span></p>
<p style="margin-left:.5in;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">model.createProperty(relationshipUri,&#8221;childOf&#8221;);</span></span></p>
<p style="margin-left:.5in;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">Property parentOf = </span></span></p>
<p style="margin-left:.5in;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">model.createProperty(relationshipUri,&#8221;parentOf&#8221;);</span></span></p>
<p style="margin-left:.5in;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">Property siblingOf = </span></span></p>
<p style="margin-left:.5in;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">model.createProperty(relationshipUri,&#8221;siblingOf&#8221;);</span></span></p>
<p style="margin-left:.5in;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">Property spouseOf = </span></span></p>
<p style="margin-left:.5in;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">model.createProperty(relationshipUri,&#8221;spouseOf&#8221;);</span></span></p>
<p style="margin-left:.5in;margin-bottom:0;">
<p style="margin-left:.5in;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">// Add properties to iwan describing relationships to </span></span></p>
<p style="margin-left:.5in;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">// other family</span></span></p>
<p style="margin-left:.5in;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">// members</span></span></p>
<p style="margin-left:.5in;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">iwan.addProperty(siblingOf,santi);</span></span></p>
<p style="margin-left:.5in;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">iwan.addProperty(spouseOf,anni);</span></span></p>
<p style="margin-left:.5in;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">iwan.addProperty(parentOf,edo);</span></span></p>
<p style="margin-left:.5in;margin-bottom:0;">
<p style="margin-left:.5in;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">// Can also create statements directly . . .</span></span></p>
<p style="margin-left:.5in;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">Statement statement = </span></span></p>
<p style="margin-left:.5in;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">model.createStatement(iwan,parentOf,fanny);</span></span></p>
<p style="margin-left:.5in;margin-bottom:0;">
<p style="margin-left:.5in;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-size:small;">// but remember to add the created statement to the model</span></span></p>
<p style="margin-left:.5in;margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<ol></ol>
<p><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><strong>4. Kesimpulan</strong></span></span><br />
<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">RDF merupakan salah satu bagian penting Teknologi Web 3.0 / </span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>Semantic Web </em></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">sehingga  menjadikan Web memiliki kecerdasan (</span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>artificial intelligence</em></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"> / AI). Artinya, dengan menggunakan </span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>Semantic Web</em></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">, informasi yang tertulis pada sebuah </span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>Website </em></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">tidak saja berguna sebagai informasi yang bisa dibaca oleh manusia melainkan juga menjadi sumber informasi yang bisa diproses dan dimengerti oleh komputer.</span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;">
<p><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Tak ada gading yang tak retak, meskipun </span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>Semantic Web </em></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">dipercaya sebagai generasi yang akan datang di dunia Web, berbagai kritikan juga mulai muncul. Misalnya, sejauh mana tingkat fisibilitas khususnya di dunia bisnis. Selain itu, masalah lamanya waktu saat membuat dan mempublikasi isi Web pun masih menjadi perdebatan karena untuk menampilkan sebuah informasi saja akan diperlukan dua format yang berbeda yaitu untuk dilihat manusia dan sekaligus untuk diproses mesin.</span></span></p>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;">
<p><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Akhirnya, menjadikan Web 3.0 sebagai web masa depan merupakan sebuah tantangan, sebab pada dasarnya tidak ada orang yang dapat memastikan teknik pengorganisasian informasi apa yang paling tepat, mengingat data digital seluruh dunia yang begitu besar di dalam Web, yang tidak mungkin menampungnya hanya dalam sebuah </span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>framework</em></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">. Namun demikian </span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>Semantic Web </em></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">menawarkan sebuah solusi yang memang luar biasa bagi pemrosesan informasi di Web.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Referensi</strong></span></span></p>
<ol>
<li><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Dave 	Beckett, Jeen Broekstra (2007)</span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>. 	SPARQL Query Results XML Format. </em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Diakses dari:</span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em> </em></span></span></span><span style="color:#0000ff;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>http://www.w3.org/TR/rdf-sparql-XMLres/</em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>.</em></span></span></span></li>
<li><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"> </span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Ian 	Davis, Eric Vitiello Jr. (2005).</span></span></span><span style="color:#0000ff;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em> RELATIONSHIP: A vocabulary for describing relationships between people.<span style="color:#000000;"> </span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Diakses dari:</span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em> </em></span></span></span><span style="color:#0000ff;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>http://vocab.org/relationship/</em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>.</em></span></span></span></li>
<li><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"> </span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"> Jeroen 	Van Der Ham (2007).</span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em> Semantic Web Tools.</em> Diakses dari:</span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em> </em></span></span></span><span style="color:#0000ff;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>http://esw.w3.org/topic/SemanticWebTools.</em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"> </span></span></span></li>
<li><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">John 	Borland (2007).</span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em> A Smarter Web.</em> Diakses dari: </span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></span><span style="color:#0000ff;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em> http://www.technologyreview.com/Infotech/18396/</em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>.</em></span></span></span></li>
<li><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"> </span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"> Leigh 	Dodds (2005).</span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em> Introducing SPARQL: Querying the Semantic Web.</em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"> Diakses dari:</span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em> </em></span></span></span><span style="color:#3333cc;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>http://www.xml.com/lpt/a/1628.</em></span></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"> </span></span></li>
<li><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Ken 	Varnum (2007). </span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>Introduction 	to RDF.</em></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"> Diakses dari:</span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em> </em></span></span></span><span style="color:#3333cc;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>http://www.slideshare.net/ rdf-overview-presentation4617.ppt</em></span></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"> </span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"> </span></span></span></li>
<li><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Joko 	Nurjadi (2009). </span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em>Menguak 	Kecerdasan Search Engine</em></span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">. 	PCMedia Vol. 08/2009</span></span></span></li>
<li><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"> </span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"> ______. </span></span></span><span style="color:#29303b;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>RDF 	Specification (technical). </em></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Diakses 	dari:</span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><em> </em></span></span></span><span style="color:#3333cc;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>http://www.w3.org/RDF/ </em></span></span></li>
</ol>
<p style="margin-bottom:0;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/teguh8581.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/teguh8581.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/teguh8581.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/teguh8581.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/teguh8581.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/teguh8581.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/teguh8581.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/teguh8581.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/teguh8581.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/teguh8581.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/teguh8581.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/teguh8581.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/teguh8581.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/teguh8581.wordpress.com/73/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teguh8581.wordpress.com&amp;blog=8811465&amp;post=73&amp;subd=teguh8581&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://teguh8581.wordpress.com/2009/08/03/resource-description-framework-rdf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f9124eb23e41e40d32170f5f94041149?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">teguh</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/gmb1_rdf.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">gmb1_RDF</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/gmb2_rdf.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">gmb2_RDF</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ONTOLOGI KONSEP BAHASA WEB 3.0</title>
		<link>http://teguh8581.wordpress.com/2009/08/03/ontologi-konsep-bahasa-web-3-0/</link>
		<comments>http://teguh8581.wordpress.com/2009/08/03/ontologi-konsep-bahasa-web-3-0/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Aug 2009 02:10:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Teguh Sutopo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Software]]></category>
		<category><![CDATA[ontologi]]></category>
		<category><![CDATA[semantic web]]></category>
		<category><![CDATA[web 3.0]]></category>
		<category><![CDATA[web cerdas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://teguh8581.wordpress.com/?p=70</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Teguh Sutopo 1. ONTOLOGI Pada Yunani kuno terdapat pertanyaan: &#8220;apa inti dari hal-hal melalui perubahan?&#8221; Berbagai jawaban atas pertanyaan ini telah diajukan oleh filosof Yunani, dari Parmenides of Elea (abad keempat dan kelima), pendahulu dari ontologi, ke Aristoteles, penulis metafisika (suatu pekerjaan yang mungkin juga telah disebut ontologi). Dalam kajian terhadap inti dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teguh8581.wordpress.com&amp;blog=8811465&amp;post=70&amp;subd=teguh8581&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 		A:link { so-language: zxx } --></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="left">Oleh : Teguh Sutopo</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;text-align:left;"><span style="font-size:medium;"><strong>1. ONTOLOGI</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;"><span style="color:#000000;">Pada Yunani kuno terdapat pertanyaan: &#8220;apa inti dari hal-hal melalui perubahan?&#8221; Berbagai jawaban atas pertanyaan ini telah diajukan oleh filosof Yunani, dari Parmenides of Elea (abad keempat dan kelima), pendahulu dari ontologi, ke Aristoteles, penulis metafisika (suatu pekerjaan yang mungkin juga telah disebut ontologi). </span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;"><span style="color:#000000;"><br />
Dalam kajian terhadap inti dari sesuatu, Aristoteles membedakan menjadi modus yang berbeda untuk membentuk sebuah kategori suatu sistem (substansi, kualitas, kuantitas, hubungan, tindakan, gairah, tempat dan waktu) untuk mengklasifikasikan sesuatu yang mungkin diprediksi (katakan) tentang sesuatu di dunia. Misalnya, ketika kita mengatakan &#8220;komputer ini di atas meja&#8221; kita asumsikan sebagai modus berbeda dengan ketika kita mengatakan &#8220;komputer ini adalah abu-abu&#8221;. Pernyataan pertama adalah klasifikasi dalam kategori tempat, sedangkan pernyataan kedua adalah dalam kategori berkualitas. Kategorisasi yang diusulkan oleh Aristoteles telah diterima secara luas hingga abad kedelapanbelas.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;"><span style="color:#000000;">Di zaman modern, Emmanuel Kant ( 1724-1804) yang diprovokasi suatu </span><em>Copernican turn</em><span style="color:#000000;">. Inti sari hal tersebut ditentukan tidak hanya oleh berbagai hal diri mereka, tetapi juga oleh kontribusi dari siapapun merasa dan memahami mereka. Menurut Kant, suatu pertanyaan kunci adalah &#8221;  struktur pikiran apa yang kita gunakan untuk menangkap kenyataan itu?&#8221; Jawaban bagi pertanyaan ini menuntun ke arah penggolongan Kant. Kerangka Kant adalah mengorganisir ke dalam empat kelas, masing-masing dimana terdapat suatu pola </span><span style="color:#000000;"><em>triadic</em></span><span style="color:#000000;">: kwantitas (kesatuan, pluralitas, totalitas), kwalitas (kenyataan, peniadaan, pembatasan), hubungan (perpaduan, sebab akibat, komunitas) dan cara sesuatu dilakukan (kemungkinan, keberadaan, keperluan). Oleh karena itu, pikiran kita menggolongkan obyek John sebagai hal yang unik, riil, ada, dan lain lain.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;"><span style="color:#000000;">Suatu penggolongan dari kategori, seperti yang tersebut di atas, dikenal sebagai suatu ontologi oleh ahli filsafat. Contoh yang paling modern tentang ontologi (dalam konteks filosofi) adalah dalam kaitan dengan Chisholm, Johanson, dan Hoffman dan Rosenkrantz, di antaranya.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;"><span style="color:#000000;">Menurut apa yang kita katakan, itu adalah sangat penting untuk dipertimbangkan bahwa &#8216;suatu ontologi&#8217; tidaklah sama halnya &#8216;ontologi&#8217;. ‘suatu ontologi’ adalah suatu penggolongan dari kategori, sedangkan ‘ontologi’ adalah suatu cabang dari filosofi.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;"><span style="color:#000000;">Untuk menjawab pertanyaan kedua kita (&#8220;apa yang dimaksud dengan ontologi untuk ahli ontologi?&#8221;), kita dapat berasumsi bahwa ada suatu kesamaan antara kenyataan yang dirasa oleh orang-orang dan oleh komputer, dan kedua-duanya tersusun dalam ontologi. Sesuai dengan gagasan ini, jika suatu komputer adalah eksklusif untuk menjawab pertanyaan pada perjalanan, kenyataan nya bisa jadilah tersusun dengan penggolongan perjalanan ketika bepergian dengan kereta api, bepergian dengan wahana, dan lain lain. Bagaimanapun, untuk penggolongan ini realitas suatu ontologi bagi komputer, komputer harus mampu untuk meyakinkan itu. </span>Ini mengarahkan ke perbedaan yang penting antara suatu ontologi dari  segi pandangan filosofis dan  dari segi pandang ilmu pengetahuan komputer.<span style="color:#ff0000;"> </span>Menurut yang belakangan, suatu ontologi harus disusun dalam intepreter bahasa mesin. Dengan kata lain, ketika seorang ahli ontologi menggambarkan apa itu ontologi , dia  berubah perspektif dari orang ke komputer. Seperti itu, jika komputer tidak &#8216; memahami&#8217; ontologi, komputer tidak bisa  ontologi nya. Lebih dari itu, dari segi pandangan ilmu pengetahuan komputer, suatu ontologi adalah pada umumnya (walaupun tidak harus) lebih spesifik dibanding suatu ontologi dari pendekatan yang filosofis. Akhirnya, dalam kaitan dengan penggunaan dari istilah &#8216;ontologi&#8217;, utamanya dari reusabilas dan shareabilas menjadi penting definisi dari istilah ini untuk seorang ahli. Meskipun demikian,  keutamaan seperti itu tidaklah penting dalam ontologi secara filosofis [8].</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;"><strong>a. Definisi</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">Dari sisi pengertian terdapat beberapa difinisi yang dikemukakan oleh para pakar mengenai ontologi, yaitu [3][4][5]:</p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">Neches dan 	rekan, “Sebuah ontologi<em> </em>merupakan definisi dari pengertian 	dasar dan relasi vocabulari dari sebuah area sebagaimana aturan dari 	kombinasi istilah dan relasi untuk mendefinisikan vokabulari”.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">Gruber, 	“Ontologi<em> </em>merupakan sebuah spesifikasi eksplisit dari 	konseptualisme”.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">Borst, “Sebuah 	ontologi<em> </em>adalah spesifikasi formal dari sebuah konseptual 	yang diterima (<em>share</em>)”.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">Studer, 	“Konseptualisasi mengacu kepada sebuah model abstrak dari beberapa 	fenomena di dunia dengan memiliki identifikasi konsep yang relevan 	dari fenomena tersebut. Yang dimaksud dengan eksplisit adalah tipe 	dari konsep yang digunakan, dan batasan dari eksplisit yang 	digunakan. <em>Share</em>d adalah merefleksikan bahwa sebuah ontologi 	mencoba menangkap pengetahuan secara konsensus yang tidak merupakan 	hal yang hanya terkait pada individu tetapi diterima oleh sebuah 	group/domain”.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">Barnaras,  	“Sebuah ontologi<em> </em>memberikan pengertian untuk penjelasan 	secara eksplisit dari konsep terhadap representasi pengetahuan pada 	sebuah <em>knowledge base</em>”.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">Knight, “Sebuah 	ontologi<em> </em>adalah sebuah struktur hirarki dari istilah untuk 	menjelaskan sebuah domain yang dapat digunakan sebagai landasan 	untuk sebuah <em>knowledge base</em>”.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;"><span style="color:#000000;">Jeff 	Heflin, “</span><span style="color:#000000;">Ontologi mendefinisikan 	sebuah istilah yang digunakan untuk menjelaskan dan 	merepresentasikan daerah pengetahuan. Ontologi digunakan bagi 	orang-orang, database, dan aplikasi yang perlu berbagi informasi 	domain (domain hanya daerah subyek tertentu atau bidang pengetahuan, 	seperti obat-obatan, alat manufaktur, real estate, perbaikan mobil, 	manajemen keuangan, dll). Ontologi termasuk definisi komputer yang 	digunakan dalam konsep dasar domain dan hubungan di antaranya”</span></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">Pada tinjauan filsafat, ontologi<em> </em>adalah studi tentang sesuatu yang nyata. Ontologi adalah suatu teori yang dapat menjelaskan tentang makna suatu objek, <em>property </em>dari suatu objek dan relasi objek tersebut yang mungkin terjadi pada suatu domain pengetahuan.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">Dalam bidang <em>Artificial Intelligence </em>(AI), ontologi memiliki dua pengertian yang saling berkaitan:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">Merupakan 	representasi kosakata yang sering dikhususkan untuk domain atau 	subjek pembahasan tertentu.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">Sebagai suatu 	<em>body of knowledge </em>untuk menjelaskan suatu bahasan tertentu. 	Bersama dengan beberapa set <em>instances </em>dari <em>class </em>membentuk 	sebuah <em>knowledge base</em>.</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;"><strong>b. Komponen 		Ontologi </strong></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">Ontologi memilki beberapa komponen yang dapat menjelaskan ontologi<em> </em>tersebut, diantaranya [8]:</p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">Konsep 	(<em>Concept</em>)</p>
</li>
</ul>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;line-height:100%;">Digunakan dalam pemahaman yang luas. Sebuah konsep dapat sesuatu yang dikatakan, sehingga dapat pula merupakan penjelasan dari tugas, fungsi, aksi, strategi, dan sebagainya. <em>Concept </em>juga dikenal sebagai <em>classes, object </em>dan <em>categories.</em></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">Relasi 	(<em>relation</em>)</p>
</li>
</ul>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;line-height:100%;">Merupakan representasi sebuah tipe dari interaksi antara konsep dari sebuah domain. Secara formal dapat didefinisikan sebagai subset dari sebuah produk dari n set, R:C1 x C2 x…xCn. Sebagai contoh dari relasi binary termasuk <em>subclass-of </em>dan <em>connected-to.</em></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">Fungsi 	(<em>functions</em>)</p>
</li>
</ul>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;line-height:100%;">Adalah sebuah relasi khusus dimana elemen ke-n dari relasi adalah unik untuk elemen ke n-1. F:C1 x C2 x …Cn-1 &#8211; &gt; Cn, contohnya adalah Mother-of.</p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">Aksioma 	(<em>axioms</em>)</p>
</li>
</ul>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;line-height:100%;">Digunakan untuk memodelkan sebuah <em>sentence </em>yang selalu benar.</p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">Instances</p>
</li>
</ul>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;line-height:100%;">Digunakan untuk merepresentasikan elemen.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">Untuk dapat digunakan, sebuah ontologi<em> </em>harus diekspresikan dalam notasi yang nyata. Sebuah bahasa ontologi<em> </em>adalah sebuah bahasa formal dari sebuah pengembangan ontologi. Beberapa komponen yang menjadi struktur ontologi, antara</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">lain [5]:</p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">XML (<em>Extensible 	Markup Langguage</em>)</p>
</li>
</ul>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;line-height:100%;">Menyediakan sintaksis untuk <em>output </em>dokumen terstruktur, tetapi belum dipaksakan untuk dokumen XML menggunakan <em>semantic constrains</em>.</p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">XML <em>Schema</em></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;line-height:100%;">Bahasa untuk pembatasan struktur dari dokumen XML.</p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">RDF (<em>Resource 	Description Framework</em>)</p>
</li>
</ul>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;line-height:100%;">Model data untuk obyek (‘<em>resources</em>’) dan relasi diantaranya, menyediakan <em>semantic </em>yang sederhana untuk model data tersebut, dan data model ini dapat disajikan dalam sintaksis XML.</p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">RDF <em>Schema</em></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;line-height:100%;">Adalah kosakata untuk menjelaskan <em>properties </em>dan <em>classes </em>dari sumber RDF, dengan sebuah <em>semantics </em>untuk hirarki penyamarataan dari <em>properties </em>dan <em>classes</em>.</p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">OWL (<em>Ontologi 	Web Langguage</em>)</p>
</li>
</ul>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;line-height:100%;">Menambahkan beberapa kosakata untuk menjelaskan <em>properties </em>dan <em>classes</em>, antara lain : relasi antara classes (misalkan <em>disjointness</em>), kardinalitas (misalkan ‘tepat satu’), <em>equality</em>, berbagai tipe dari <em>properties</em>, karakteristik dari <em>properties </em>(misalkan <em>symmetry</em>), menyebutkan satu persatu <em>classes</em>.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">Struktur lapisan ontologi ditunjukkan seperti gambar 1. Setiap lapis akan memiliki fungsi tambahan dan kompleksitas tambahan dari lapis sebelumnya. Pengguna atau <em>user</em> yang memiliki fungsi pemrosesan lapisan paling rendah dapat memahami walaupun tidak seluruh ontologi yang terletak di lapis atasnya.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="center"><img class="aligncenter size-medium wp-image-71" title="gmb1_ontologi" src="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/gmb1_ontologi.jpg?w=300&#038;h=204" alt="gmb1_ontologi" width="300" height="204" /></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center">Gambar 1. Struktur Lapisan Ontologi [5]</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-top:.03in;margin-bottom:0;line-height:100%;" align="left"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:medium;"><strong> </strong></span></span></p>
<p style="margin-top:.03in;margin-bottom:0;line-height:100%;" align="left"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:medium;"><strong>2. Konsep dasar Web 3.0<br />
</strong></span></span></p>
<p style="margin-top:.03in;margin-bottom:0;line-height:100%;"><span style="color:#000000;"><strong>Domain Pengetahuan </strong></span></p>
<p style="margin-top:.03in;margin-bottom:0;line-height:100%;"><span style="color:#000000;">Domain pengetahuan seperti Fisika, Kimia, Biologi, Politik, Web, Sosiologi, Psikologi, Sejarah, dll, terdapat banyak sub-domain di bawah setiap domain, masing-masing memiliki sub-domain dan sebagainya. </span></p>
<p style="margin-top:.03in;margin-bottom:0;line-height:100%;"><span style="color:#000000;"><br />
</span><span style="color:#000000;"><strong>Informasi versus Pengetahuan </strong></span></p>
<p style="margin-top:.03in;margin-bottom:0;line-height:100%;"><span style="color:#000000;">Untuk suatu mesin, pengetahuan adalah memahami informasi (informasi baru yang dihasilkan melalui penerapan deduktif </span><span style="color:#000000;"><em>reasoning</em></span><span style="color:#000000;"> untuk meninggalkan informasi). Untuk suatu mesin, informasi hanyalah data, sehingga informasi adalah mengenai alasan. </span></p>
<p style="margin-top:.03in;margin-bottom:0;line-height:100%;"><span style="color:#000000;"><br />
</span><span style="color:#000000;"><strong>Mesin Inferensi</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;"><span style="color:#000000;">Dalam konteks Web 3.0, mesin inferensi akan menggabungkan inovasi terbaru dari bidang kecerdasan buatan (AI) bersama-sama dengan domain khusus ontologi, </span><em>domain inference rules</em><span style="color:#000000;">, dan struktur </span><span style="color:#000000;"><em>query</em></span><span style="color:#000000;"> untuk mengaktifkan deduktif </span><span style="color:#000000;"><em>reasoning</em></span><span style="color:#000000;"> pada tingkat mesin.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;"><span style="color:#000000;"><strong>Info Agens</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;"><span style="color:#000000;"><em>Info Agens</em></span><span style="color:#000000;"> adalah contoh dari suatu </span><span style="color:#000000;"><em>Inference Engine</em></span><span style="color:#000000;">, masing-masing bekerja sama dengan domain khusus ontologi. Dua atau lebih agen yang bekerja bersama-sama dengan ontologi mungkin berkolaborasi untuk menarik kesimpulan jawaban atas pertanyaan. Seperti kerjasama </span><span style="color:#000000;"><em>agens</em></span><span style="color:#000000;"> mungkin didasarkan pada perbedaan rancangan </span><span style="color:#000000;"><em>Inference Engine</em></span><span style="color:#000000;"> dan mereka masih dapat bekerja sama.</span></p>
<p style="margin-left:-.07in;margin-bottom:0;line-height:100%;">
<p style="margin-top:.03in;margin-bottom:0;line-height:100%;"><span style="color:#000000;"><strong>Bukti dan Jawaban </strong></span></p>
<p style="margin-top:.03in;margin-bottom:0;line-height:100%;"><span style="color:#000000;">Hal yang menarik tentang </span><span style="color:#000000;"><em>Info Agens</em></span><span style="color:#000000;"> adalah bahwa mereka akan mampu tidak hanya menarik kesimpulan jawaban dari informasi yang ada (yakni menghasilkan informasi baru [dan mendapatkan pengetahuan dalam proses, bagi agen dengan fungsi pembelajaran] ) namun mereka juga akan dapat secara formal menguji proposisi (diwakili dalam beberapa </span><span style="color:#000000;"><em>query</em></span><span style="color:#000000;"> logika) yang dilakukan secara langsung-atau-diterapkan oleh pengguna. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;"><strong>Semantik Web</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">Semantik web adalah sebuah web dengan arti. <span style="color:#000000;">A</span>rti disini memungkinkan komputer memahami arti dari sebuah informasi berdasar pada Metadata yaitu data mengenai data. Metadata ini mengandung informasi mengenai isi dari suatu data yang dipakai untuk keperluan manajemen file/data itu nantinya dalam suatu basis data. Dengan adanya Metadata, komputer diharapkan mampu secara otomatis membantu manusia mengartikan hasil proses informasi sehingga hasil pencarian informasi menjadi lebih akurat.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">Internet membutuhkan suatu mekanisme yang memampukan komputer mengerti arti kata yang kita cari. Dengan kata lain, kita membutuhkan suatu cara agar kata-kata yang tertera di dalam suatu dokumen Web dapat dibaca dan dimengerti oleh mesin (<em>machine-readable data</em>). Website yang memiliki kemampuan seperti ini seolah-olah memiliki kecerdasan buatan yang sanggup memberikan jawaban yang tepat terhadap pertanyaan atau kebutuhan para penggunanya. Para peniliti setuju bahwa Semantic Web merupakan suatu cara untuk melakukan revolusi di dunia Internet yang akan menyatukan interaktifitas pengguna, kolaborasi informasi, dan kecerdasan buatan pada sebuah Website. [6]</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;"><strong>Perkembangan web </strong></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;"><strong>Web 1.0 </strong></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">Web 1.0 merupakan teknologi Web generasi pertama yang merupakan revolusi baru di dunia Internet karena telah mengubah cara kerja dunia industri dan media. Pada dasarnya, Website yang dibangun pada generasi pertama ini secara umum dikembangkan untuk pengaksesan informasi dan memiliki sifat yang sedikit interaktif. Berbagai Website seperti situs berita &#8220;cnn.com&#8221; atau situs belanja &#8220;Bhinneka.com&#8221; dapat dikategorikan ke dalam jenis ini.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;"><strong>Web 2.0</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">Istilah Web 2.0 pertama kalinya diperkenalkan oleh O’Reilly Media pada tahun 2004 sebagai teknologi Web generasi kedua yang mengedepankan kolaborasi dan sharing informasi secara online. Menurut Tim O’Reilly, Web 2.0 dapat didefinisikan sebagai berikut:</p>
<p>&#8220;Web 2.0 adalah revolusi bisnis di industri komputer yang disebabkan oleh penggunaan internet sebagai platform, dan merupakan suatu percobaan untuk memahami berbagai aturan untuk mencapai keberhasilan pada platform baru tersebut. Salah satu aturan terutama adalah: Membangun aplikasi yang mengeksploitasi efek jaringan untuk mendapatkan lebih banyak lagi pengguna aplikasi tersebut&#8221;</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">Berbagai layanan berbasis web seperti jejaring sosial, wiki dan folksonomies (misalnya: &#8220;flickr.com&#8221;, &#8220;del.icio.us&#8221;) merupakan teknologi Web 2.0 yang menambah interaktifitas di antara para pengguna Web. Pada umumnya, Website yang dibangun dengan menggunakan teknologi Web 2.0 memiliki fitur-fitur sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>
<p style="margin-top:.19in;margin-bottom:0;line-height:100%;">CSS (Cascading Style Sheets)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">Aplikasi Rich 	Internet atau berbasis Ajax</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">Markup XHTML</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">Sindikasi dan 	agregasi data menggunakan RSS/Atom</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">URL yang valid</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">Folksonomies</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">Aplikasi wiki 	pada sebagian atau seluruh Website</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:.19in;line-height:100%;">XML 	Web-Service API</p>
</li>
</ul>
<p style="margin-bottom:.17in;line-height:100%;"><strong>Web 3.0 / Semantic Web</strong></p>
<p style="margin-bottom:.17in;line-height:100%;">Walaupun masih dalam perdebatan di kalangan analis dan peneliti, istilah Web 3.0 tetap berpotensi menjadi generasi teknologi di dunia Internet. Saat ini, definisi untuk Web 3.0 sangat beragam mulai dari pengaksesan <em>broadband</em> secara <em>mobile</em> sampai kepada layanan Web berisikan perangkat lunak bersifat on-demand. Pada dasarnya Semantic Web memiliki tujuan yang sama karena Semantic Web memiliki isi Web yang tidak dapat hanya diekpresikan di dalam bahasa alami yang dimengerti manusia, tetapi juga di dalam bentuk yang dapat dimengerti, diinterpretasi dan digunakan oleh perangkat lunak (<em>software agents</em>). Melalui Semantic Web inilah, berbagai perangkat lunak akan mampu mencari, membagi, dan mengintegrasikan informasi dengan cara yang lebih mudah. Pembuatan Semantic Web dimungkinkan dengan adanya sekumpulan standar yang dikoordinasi oleh <a href="http://www.w3.org/" target="_blank">World Wide Web Consortium (W3C)</a>. Standar yang paling penting dalam membangun Semantic Web adalah XML (atau Link ini tentang XML di website W3 : XML), XML Schema, <a href="http://www.w3.org/RDF/" target="_blank">RDF</a>, OWL, dan SPARQL [7].</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;"><strong>Kesimpulan </strong></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">Ontologi 	merupakan cabang ilmu filsafat mengenai  obyek nyata, namun memiliki 	kemampuan yang sistematis untuk dapat menjelaskan mengenai suatu 	objek, atribut objek dan hubungan antar objek.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">Ontologi banyak 	diadopsi kedalam aplikasi <em>Artificial Intelligence </em>(AI) dalam 	representasi pengetahuan<em>.</em></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">Kolaborasi 	Ontologi dan AI kedalam Semantic Web menawarkan sebuah solusi bagi 	pemrosesan informasi di Web.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">Penelitian dan 	pengembangan tools untuk Semantic Web masih harus terus dilakukan 	agar di kemudian hari berbagai aplikasi Semantic Web dapat 	diimplementasikan dan dipergunakan secara luas.</p>
</li>
</ul>
<p style="margin-bottom:0;" align="center">
<p style="margin-bottom:0;" align="center">
<p style="margin-bottom:0;" align="center"><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;">
<ol>
<li>
<p style="line-height:100%;text-align:left;">W3C. 	<em>http</em><em>://</em><em>www.w</em><em>3.</em><em>org/tr/</em><em>2002/</em><em>wd-rdf-schema-</em><em>20020430/,</em> 5 2009.</p>
</li>
<li>
<p style="line-height:100%;">W3C. 	<em>http://www.w3.org/TR/2004/REC-webont-req-20040210/,</em> 5 2009.</p>
</li>
<li> I Wayan Simri Wicaksana. “Survei 	dan Evaluasi Metode Pengembangan Ontologi”,<em> http://paperwgdbis.abmutiara.info/2004-01_Kommit2004_Survei_IWS.pdf</em>, 5.2009</li>
<li> I Wayan Simri 	Wicaksana. “Pengujian Tool Ontologi Engineering”.<em> http://amutiara.files.wordpress.com/2007/01/2006_07_kommit06_membandingkantoolontodev_iws.pdf</em>, 5.2009</li>
<li>_____,ONTOLOGI : Bahasa dan Tools 	PROTÉGÉ,<em> http://paperwgdbis.abmutiara.info/tutorial/Bahasa_tool_ontology.pdf,</em> 5.2009</li>
<li>_____, Web 3.0: Basic Concepts,<em> http://evolvingtrends.wordpress.com/2006/06/30/why-p2p-ai-will-kill-google/</em>, 5.2009</li>
<li>Niko Ibrahim, 	“Pengembangan Aplikasi Semantic Web Untuk Membangun Web yang Lebih 	Cerdas”<em><span style="color:#000000;">, www.itmaranatha.org/jurnal/jurnal.informatika/Jurnal/Juni2007/artikel/artikelpdf/juni07_3.pdf</span></em><span style="color:#000000;"><span style="font-style:normal;">, 5.2009</span></span> <span style="color:#141314;"> </span></li>
<li><span style="color:#141314;">Coral Calero</span> dan kawan,“<span style="color:#141314;"><strong> </strong></span><span style="color:#141314;">Ontologies 	for Software Engineering and Software Technology</span>”, 	<span style="color:#141314;">Springer-Verlag Berlin Heidelberg, New York, 	2006.</span></li>
</ol>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/teguh8581.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/teguh8581.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/teguh8581.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/teguh8581.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/teguh8581.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/teguh8581.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/teguh8581.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/teguh8581.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/teguh8581.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/teguh8581.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/teguh8581.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/teguh8581.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/teguh8581.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/teguh8581.wordpress.com/70/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teguh8581.wordpress.com&amp;blog=8811465&amp;post=70&amp;subd=teguh8581&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://teguh8581.wordpress.com/2009/08/03/ontologi-konsep-bahasa-web-3-0/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f9124eb23e41e40d32170f5f94041149?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">teguh</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/gmb1_ontologi.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">gmb1_ontologi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lebih lanjut tentang OOP dengan bahasa pemrograman JAVA</title>
		<link>http://teguh8581.wordpress.com/2009/08/02/lebih-lanjut-tentang-oop-dengan-bahasa-pemrograman-java/</link>
		<comments>http://teguh8581.wordpress.com/2009/08/02/lebih-lanjut-tentang-oop-dengan-bahasa-pemrograman-java/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Aug 2009 11:31:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Teguh Sutopo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Software]]></category>
		<category><![CDATA[JAVA]]></category>
		<category><![CDATA[OOP]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://teguh8581.wordpress.com/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Teguh Sutopo Bahasa pemrograman JAVA merupakan bahasa pemrograman modern yang saat ini banyak digunakan dalam berbagai aplikasi. Bahasa pemrograman JAVA menerapkan paradigma full OOP. Bagi programmer pemula, untuk mengenal OOP akan jauh lebih mudah dengan menggunakan bahasa pemrograman JAVA. Kelas (Class) Kekuatan OOP pada JAVA Kelas (Class) merupakan kekuatan OOP. Kelas adalah sebuah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teguh8581.wordpress.com&amp;blog=8811465&amp;post=37&amp;subd=teguh8581&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;"><strong><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Oleh : Teguh Sutopo</span></strong></p>
<p style="text-align:left;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Bahasa pemrograman JAVA merupakan bahasa pemrograman modern yang saat ini banyak digunakan dalam berbagai aplikasi. Bahasa pemrograman JAVA menerapkan paradigma full OOP. Bagi programmer pemula, untuk mengenal OOP akan jauh lebih mudah dengan menggunakan bahasa pemrograman JAVA. </span></p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong>Kelas (Class) Kekuatan OOP pada JAVA</strong></span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Kelas (</span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong>Class</strong></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">) merupakan kekuatan OOP. Kelas adalah sebuah kumpulan dari variabel-variabel yang disebut dengan atribut dan fungsi-fungsi yang disebut dengan metode (</span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong>method</strong></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">), dimana elemen-elemen tersebut saling berinteraksi. Kelas menjelma menjadi type baru. Dari kelas inilah obyek (</span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong>object</strong></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">) diciptakan. Kelas memberikan bentuk dan prilaku dari sebuah obyek. </span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Berikut contoh untuk memahami tentang kelas (</span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>class</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">) dan obyek (</span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>object</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">)</span></p>
<p style="text-align:left;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-41" title="ooplanjut01" src="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/ooplanjut011.jpg?w=300&#038;h=180" alt="ooplanjut01" width="300" height="180" /></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Kelas sederhana</span></p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-39" title="ooplanjut02" src="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/ooplanjut02.jpg?w=300&#038;h=117" alt="ooplanjut02" width="300" height="117" /> <span style="font-family:Arial,sans-serif;">Hasil eksekusi yang tampak di konsol</span></p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Dari contoh kelas (</span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>class</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">) sederhana tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :</span></p>
<ol style="text-align:left;">
<li>
<p align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="text-decoration:underline;"><strong>public 	class AsslClass</strong></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> pada 	baris pertama merupakan deklarasi nama kelas yaitu </span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong>AssClass</strong></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">. 	Kelas tersebut bersifat publik ditandai dengan kata kunci </span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong>public</strong></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> yang artinya dapat diakses dari luar maupun dalam kelas. Kata kunci 	class merupakan deklarasi dari kelas. Perlu diingat bahwa nama file 	saat menyimpan kelas tersebut harus sama dengan nama kelas yaitu </span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="text-decoration:underline;">AsslClass</span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> dan dengan ektensi </span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="text-decoration:underline;">java</span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">, 	jadi nama file yang terbentuk yaitu </span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="text-decoration:underline;">AsslClass.java</span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">. 	JAVA bersifat case sensitive yaitu membedakan huruf besar kecil. 	Nama kelas harus dimulai dengan huruf dan setelah itu dapat 	dikombinasi dengan bilangan. </span></p>
</li>
<li>
<p align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Seperti dalam 	bahasa pemrograman C/C++, dalam satu program eksekusi hanya terdapat 	satu </span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong>fungsi main()</strong></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> sebagai program utama yang akan dieksekusi. Pada JAVA, kelas yang 	akan dieksekusi harus mengandung metode (</span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em><strong>method</strong></em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">) 	main(), JAVA memulai mengeksekusi dari metode tersebut yaitu </span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="text-decoration:underline;"><strong>public 	static void main(String [] args)</strong></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">.</span></p>
</li>
<li>
<p align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong>System.out.println(“Assalamu’alaikum”)</strong></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> adalah metode untuk menampilkan string parameter </span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong>Assalamu’alaikum</strong></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> di layar konsol. Metode </span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong>println</strong></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> terdapat pada obyek </span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong>out</strong></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> dan berada pada kelas </span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong>System</strong></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">.</span></p>
</li>
<li>
<p align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Setiap baris 	pernyataan harus diakhiri dengan tanda titik koma </span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong>;</strong></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> (</span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>semicolon</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">), 	sedangkan pasangan kurung kurawal merupakan tanda awal dan akhir 	dari blok / badan metode.</span></p>
</li>
</ol>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Contoh lain. Dari program contoh di atas kita kembangkan dengan menambah satu metode (</span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>method</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">) yaitu </span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong>cetakAssl()</strong></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> yang berfungsi menampilkan string </span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="text-decoration:underline;">Assalamu’alaikum</span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> di konsol, di mana motode </span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong>System.out.println(“Assalamu’alaikum”) </strong></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">tidak kita tempatkan di metode main() tapi kita tempatkan di metode cetakAssl(). Pada metode main() kita ganti dengan penyataan memanggil metode cetakAssl().</span></p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-40" title="ooplanjut03" src="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/ooplanjut03.jpg?w=300&#038;h=275" alt="ooplanjut03" width="300" height="275" /></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Kelas dengan sebuah metode selain main()</span></p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-42" title="ooplanjut04" src="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/ooplanjut04.jpg?w=300&#038;h=117" alt="ooplanjut04" width="300" height="117" /> <span style="font-family:Arial,sans-serif;">Hasil eksekusi yang tampak di konsol</span></p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Tentu saja kita dapat menambahkan berbagai metode dengan fungsi-fungsi yang berbeda sesuai tujuannya serta atribut-atribut (variabel-variabel, konstanta, dll) dalam kelas tersebut. Berikut contoh lain kelas dengan atribut dan metode serta penciptaan obyek</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">1. Kelas KotakClass 	berisi satu method main(), menghitung luas permukaan balok dan isi 	dengan atribut lebar, panjang, tinggi, luas dan isi.</span></p>
<p style="text-align:left;"><img class="aligncenter size-full wp-image-44" title="ooplanjut05" src="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/ooplanjut051.jpg?w=510&#038;h=273" alt="ooplanjut05" width="510" height="273" /><img class="aligncenter size-medium wp-image-45" title="ooplanjut06" src="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/ooplanjut06.jpg?w=300&#038;h=97" alt="ooplanjut06" width="300" height="97" /></p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;">2. <span style="font-family:Arial,sans-serif;">Kelas KotakClass 	dikembangkan dengan menambah satu method hitungLuasIsi() dengan 	parameter lebar, panjang dan tinggi dimana parameter-parameter 	tersebut bertipe double. Semua baris pernyataan di method main() di 	pindah ke method hitungLuasIsi dan atribut luas dan isi dikeluarkan 	dari kelas main() menjadi variabel global. Tentunya adanya variabel 	global tidak dikehendaki dalam konsep OOP. Method main() hanya 	berisi pernyataan pemanggilan method hitungLuasIsi yang disertai 	dengan tiga nilai parameter.</span></p>
<p style="text-align:left;"><img class="aligncenter size-full wp-image-46" title="ooplanjut07" src="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/ooplanjut07.jpg?w=510&#038;h=278" alt="ooplanjut07" width="510" height="278" /></p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">3. </span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">pengembangan 	berikutnya kita pisahkan method hitungLuasIsi() dan atribut luas dan 	isi ke dalam bentuk kelas (</span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong>class</strong></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">) 	tersendiri. Kelas tersebut menjadi tipe baru yang akan kita gunakan 	untuk membuat obyek, sehingga kelas induk yaitu kelas KotakAksi 	hanya berisi method main() dan berfungsi membentuk obyek serta 	mengeksekusinya.</span></p>
<p style="margin-left:.25in;text-align:left;">
<p style="margin-left:.25in;text-align:left;"><img class="aligncenter size-full wp-image-49" title="ooplanjut09" src="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/ooplanjut091.jpg?w=510&#038;h=203" alt="ooplanjut09" width="510" height="203" /><img class="aligncenter size-medium wp-image-53" title="ooplanjut08" src="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/ooplanjut081.jpg?w=300&#038;h=95" alt="ooplanjut08" width="300" height="95" /></p>
<p style="margin-left:.25in;text-align:left;">
<p><span style="font-family:Arial,sans-serif;">4. Kelas baru yang kita bentuk adalah kelas Kotak dan disimpan dalam file tersendiri yaitu Kotak.java. Kelas inilah yang akan kita gunakan untuk membentuk obyek.</span></p>
<p style="margin-left:.25in;">
<p style="margin-left:.25in;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><img class="size-full wp-image-50 alignleft" title="ooplanjut09" src="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/ooplanjut092.jpg?w=510&#038;h=203" alt="ooplanjut09" width="510" height="203" /><br />
</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">5. Kelas KotakAksi 	kita jadikan kelas utama dimana pada kelas tersebut terdapat method 	main() yang akan membuat obyek dari kelas Kotak. </span></p>
<p style="text-align:left;"><img class="aligncenter size-full wp-image-51" title="ooplanjut10" src="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/ooplanjut10.jpg?w=510&#038;h=275" alt="ooplanjut10" width="510" height="275" /></p>
<p style="text-align:left;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-52" title="ooplanjut11" src="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/ooplanjut11.jpg?w=300&#038;h=115" alt="ooplanjut11" width="300" height="115" /></p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/teguh8581.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/teguh8581.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/teguh8581.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/teguh8581.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/teguh8581.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/teguh8581.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/teguh8581.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/teguh8581.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/teguh8581.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/teguh8581.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/teguh8581.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/teguh8581.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/teguh8581.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/teguh8581.wordpress.com/37/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teguh8581.wordpress.com&amp;blog=8811465&amp;post=37&amp;subd=teguh8581&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://teguh8581.wordpress.com/2009/08/02/lebih-lanjut-tentang-oop-dengan-bahasa-pemrograman-java/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f9124eb23e41e40d32170f5f94041149?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">teguh</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/ooplanjut011.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">ooplanjut01</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/ooplanjut02.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">ooplanjut02</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/ooplanjut03.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">ooplanjut03</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/ooplanjut04.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">ooplanjut04</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/ooplanjut051.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ooplanjut05</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/ooplanjut06.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">ooplanjut06</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/ooplanjut07.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ooplanjut07</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/ooplanjut091.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ooplanjut09</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/ooplanjut081.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">ooplanjut08</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/ooplanjut092.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ooplanjut09</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/ooplanjut10.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ooplanjut10</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/ooplanjut11.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">ooplanjut11</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pemrograman berorientasi obyek / Object Oriented Programming (OOP)</title>
		<link>http://teguh8581.wordpress.com/2009/08/02/pemrograman-berorientasi-obyek-object-oriented-programming-oop/</link>
		<comments>http://teguh8581.wordpress.com/2009/08/02/pemrograman-berorientasi-obyek-object-oriented-programming-oop/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Aug 2009 10:59:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Teguh Sutopo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Software]]></category>
		<category><![CDATA[modular]]></category>
		<category><![CDATA[OOP]]></category>
		<category><![CDATA[prosedural]]></category>
		<category><![CDATA[struktural]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://teguh8581.wordpress.com/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Teguh Sutopo Pemrograman prosedural Ketika pertama saya belajar program pada tahun 1984, bahasa pemrograman BASIC adalah yang pertama saya kenal. Setiap baris perintah menggunakan nomor urut (bilangan bulat/integer) dari yang kecil ke yang besar (Ascending). Yang repot kalau mau menyisipkan baris perintah, sementara tidak ada nomor cadangan alias nomor di antara dua baris [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teguh8581.wordpress.com&amp;blog=8811465&amp;post=31&amp;subd=teguh8581&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Oleh : Teguh Sutopo</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong>Pemrograman prosedural</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Ketika pertama saya belajar program pada tahun 1984, bahasa pemrograman BASIC adalah yang pertama saya kenal. Setiap baris perintah menggunakan nomor urut (bilangan bulat/</span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>integer</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">) dari yang kecil ke yang besar (</span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>Ascending</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">). Yang repot kalau mau menyisipkan baris perintah, sementara tidak ada nomor cadangan alias nomor di antara dua baris yang akan disisipi. Biasanya menggunakan teknik penomoran kelipatan 10 agar ada tempat untuk menyisipkan baris perintah. Program bekerja atau dieksekusi mulai nomor terkecil, untuk </span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>jump</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> (“Goto”) menunjuk nomor baris atau label. Yang bikin repot dan pusing jika program cukup panjang (ratusan baris perintah) dan ada kesalahan yang harus dilacak, persis mencari kutu (</span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>debug</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">). Pemrograman dengan metodologi tersebut dinamakan </span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>step by step</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="center"><img class="aligncenter size-medium wp-image-32" title="oop1" src="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/oop1.jpg?w=300&#038;h=247" alt="oop1" width="300" height="247" /></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Contoh program dengan bahasa BASIC</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Ketika kerja di konsultan Tyssen GmbH untuk proyek </span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>Production Control System (PCS)</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> pabrik Hot Strip Mill, PT.Krkatau Steel pada tahun 1987, program komputer dibuat dengan menggunakan bahasa pemrograman dBase II untuk </span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>Personal Computer (PC)</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> dan FORTRAN dan RPG untuk komputer mini IBM AS400. Pada bahasa pemrograman ini saya kenal dengan namanya </span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>procedure</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> dan </span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>function</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">, program dipecah-pecah menjadi beberapa modul. Metodologi pemrograman tersebut  diistilahkan dengan modular atau prosedural. Dibanding dengan metodologi </span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>step by step</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">, metodologi prosedural cukup baik, karena program dipecah menjadi modul-modul prosedur dan fungsi yang relatif mudah di</span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>manage</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">. Pada metodologi tersebut kerepotan ditemui saat program mulai komplek, perubahan suatu fungsi akan berpengaruh pada fugsi sistem secara keseluruhan dan saat diintegrasikan dengan sistem lain.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="center"><img class="aligncenter size-medium wp-image-33" title="oop2" src="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/oop2.jpg?w=257&#038;h=300" alt="oop2" width="257" height="300" /></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Contoh program dengan dBASE</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Kedua metodologi tersebut </span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>step by step</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> dan prosedural pada prinsipnya sama yaitu </span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>flow programming </em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">yang dieksekusi mulai baris awal perintah sampai baris akhir. Pada metodologi tersebut antara data (variabel, konstanta, dll) dan metode (prosedur</span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em> </em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">dan fungsi) dipandang sendiri-sendiri secara terpisah.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong>Pemrograman berorientasi obyek.</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Pada tahun 1989, saya keluar dari konsultan Tyssen GmbH dan menjadi konsultan </span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>freelance</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> bersama rekan saya dari Amerika eks konsultan Caesar dan mengerjakan proyek PCS di PT.CRMIU (sekarang sahamnya dibeli PT. KS dan menjadi Divisi PBLD) . Pada proyek tersebut kami menggunakan bahasa pemrograman Turbo Pascal 5.5 dan kemudian di</span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>upgrade</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> ke Turbo Pascal 7. Pada bahasa pemrograman ini saya kenal dengan yang namanya pemrograman berorientasi obyek atau </span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>Object Oriented Programming (OOP)</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="center"><img class="aligncenter size-medium wp-image-34" title="oop3" src="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/oop3.jpg?w=300&#038;h=250" alt="oop3" width="300" height="250" /></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Contoh program berorientasi obyek yang ditulis dengan PASCAL 7</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">OOP merupakan perkembangan / pembaharuan dari paradigma pemrograman prosedural. OOP dibuat untuk mengatasi kesulitan yang ada pada pemrograman prosedural yang komplek.  OOP merupakan paradigma yang berbeda dengan pemrograman prosedural. </span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="text-decoration:underline;">Obyek (</span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em><span style="text-decoration:underline;">object</span></em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="text-decoration:underline;">) dimaksud dalam pemrograman yaitu kumpulan elemen-elemen dalam suatu program dan hubungan yang terjadi antar elemen tersebut.</span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Bila pada pemrograman  prosedural, data (variabel, konstanta, dll), metode</span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em> </em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">(prosedur</span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em> </em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">dan fungsi) dan hubungan satu dengan lainnya dapat terpisah, maka pada OOP elemen-elemen serta hubungannya dikemas dalam suatu modul yang dinamakan kelas (</span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em><strong>class</strong></em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">). Kelas inilah yang digunakan untuk membangun atau membentuk obyek. Meminjam istilah mas Romi Satria Wahono, bahwa kelas ibarat cetakan kue, dan obyek adalah kue yang dihasilkan (</span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em><strong>instance</strong></em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">) dari cetakan dimaksud.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Terdapat 3 pilar utama dalam pemrograman yang berorientasi obyek, ketiga pilar tersebut yaitu:</span></p>
<ol>
<li>
<p align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>Encapsulation</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> (pengkapsulan), merupakan langkah pengkombinasian data dan berbagai 	metode yang berhubungan dengannya. Hasil dari kombinasi yang 	dlakukan inilah yang disebut obyek (Object) yang merupakan tipe data 	baru.</span></p>
</li>
<li>
<p align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>inheritance</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> (penurunan sifat / pewarisan), ini merupakan ciri khas dari OOP yang 	tidak terdapat pada pemrograman prosedural gaya lama. Dalam hal ini, </span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>inheritance</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> bertujuan membentuk obyek baru yang memiliki sifat sama atau mirip 	dengan obyek yang sudah ada sebelumnya (pewarisan). Obyek turunan 	dapat digunakan membetuk obyek turunan lagi dan seterusnya. Setiap 	perubahan pada obyek induk, juga akan mengubah obyek turunannya. 	Susunan obyek induk dengan obyek turunannya disebut dengan hirarki 	obyek.</span></p>
</li>
<li>
<p align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>Polymorphism</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">, 	suatu aksi yang memungkinkan pemrogram menyampaikan pesan tertentu 	keluar dari hirarki obyeknya, dimana obyek yang berbeda memberikan 	tanggapan/respon terhadap pesan yang sama sesuai dengan sifat 	masing-masing obyek.</span></p>
</li>
</ol>
<p align="justify">
<p align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Dari uraian di atas, dapat dianalogikan perbedaan antara pemrograman prosedural dan OOP, yaitu seperti seorang programmer memandang sebuah kaleng. Menurut cara pandang aliran prosedural gaya lama, maka ia akan mendeklarasikan beberapa variabel untuk menggambarkan kaleng tersebut. Misal variabel R untuk jari-jari, Tng untuk tinggi, Phi untuk konstanta phi, Wrn untuk warna, Ls untuk luas permukaan, dan seterusnya. Jadi untuk masing-masing bagian kaleng tersebut direpresentasikan ke dalam variabel-variabel terpisah. Begitu juga untuk fungsi dan atau prosedur. Bagi programmer aliran OOP, data-data dimaksud yang disebut dengan atribut dan fungsi atau prosedur yang disebut metode (</span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>method</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">) dikemas dalam satu tipe baru yang disebut dengan kelas (</span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>class</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">). Dari class inilah nantinya diciptakan obyek-obyek.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/teguh8581.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/teguh8581.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/teguh8581.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/teguh8581.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/teguh8581.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/teguh8581.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/teguh8581.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/teguh8581.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/teguh8581.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/teguh8581.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/teguh8581.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/teguh8581.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/teguh8581.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/teguh8581.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teguh8581.wordpress.com&amp;blog=8811465&amp;post=31&amp;subd=teguh8581&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://teguh8581.wordpress.com/2009/08/02/pemrograman-berorientasi-obyek-object-oriented-programming-oop/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f9124eb23e41e40d32170f5f94041149?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">teguh</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/oop1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">oop1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/oop2.jpg?w=257" medium="image">
			<media:title type="html">oop2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://teguh8581.files.wordpress.com/2009/08/oop3.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">oop3</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kebutuhan Nutrisi Pakan Ikan &amp; Udang</title>
		<link>http://teguh8581.wordpress.com/2009/08/02/kebutuhan-nutrisi-pakan-ikan-%c2%a0udang/</link>
		<comments>http://teguh8581.wordpress.com/2009/08/02/kebutuhan-nutrisi-pakan-ikan-%c2%a0udang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Aug 2009 10:46:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Teguh Sutopo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ikan Air Tawar]]></category>
		<category><![CDATA[nutrisi ikan]]></category>
		<category><![CDATA[pakan ikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://teguh8581.wordpress.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[Seperti halnya hewan lain, ikan pun membutuhkan zat gizi tertentu untuk kehidupannya, yaitu untuk menghasilkan tenaga, menggantikan sel-sel yang rusak dan untuk tumbuh. Zat gizi yang dibutuhkan adalah : protein, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral dan air. A. Protein Protein sangat diperlukan oleh tubuh ikan, baik untuk pertumbuhan maupun untuk menghasilkan tenaga. Protein nabati (asal tumbuh- [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teguh8581.wordpress.com&amp;blog=8811465&amp;post=29&amp;subd=teguh8581&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="id-ID">Seperti halnya hewan lain, ikan pun membutuhkan zat gizi tertentu untuk kehidupannya, yaitu untuk menghasilkan tenaga, menggantikan sel-sel yang rusak dan untuk tumbuh. Zat gizi yang dibutuhkan adalah : protein,</span></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="id-ID"> lemak, karbohidrat, vitamin, mineral dan air.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><strong>A. Protein</strong></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="id-ID">Protein sangat diperlukan oleh tubuh ikan, baik untuk pertumbuhan maupun untuk menghasilkan tenaga. Protein nabati (asal tumbuh- tumbuhan), lebih sulit dicernakan daripada protein hewani (asalhewan), hal ini disebabkan karena protein nabati terbungkus dalam</span></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="id-ID"> dinding selulosa yang memang sukar dicerna.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="id-ID">Pada umumnya, ikan membutuhkan protein lebih banyak daripada hewan-hewan ternak di darat (unggas dan mamalia). Selain itu, jenis dan umur ikan juga berpengaruh pada kebutuhan protein. Ikan karnivora membutuhkan protein yang lebih banyak daripada ikan</span></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="id-ID"> herbivora, sedangkan ikan omnivora berada diantara keduanya. Pada umumnya ikan membutuhkan protein sekitar 20 – 60%, dan optimum 30 – 36%. Protein nabati biasanya miskin metionin, dan itu dapat disuplai oleh tepung ikan yang kaya metionin.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><strong>B. Lemak</strong></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="id-ID">Nilai gizi lemak dipengaruhi oleh kandungan asam lemak esensialnya yaitu asam-asam lemak tak jenuh atau PUFA (</span></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="id-ID"><em>Poly Unsaturated Fatty Acid</em></span></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="id-ID">) antara lain asam oleat, asam linoleat dan asam linolenat. Asam lemak esensial ini banyak terdapat di tepung kepala udang, cumi-cumi dll. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Kandungan lemak sangat dipengaruhi oleh faktor ukuran ikan, kondisi lingkungan dan adanya sumber tenaga lain. Kebutuhan ikan akan lemak bervariasi antara 4 – 18%.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><strong>C. Karbohidrat</strong></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Karbohidrat atau hidrat arang atau zat pati, berasal dari bahan baku nabati. Kadar karbohidrat dalam pakan ikan, dapat berkisar antara 10 –50%. Kemampuan ikan untuk memanfaatkan karbohidrat ini tergantung pada kemampuannya untuk menghasilkan enzim pemecah karbohidrat (amilase). Ikan karnivora biasanya membutuhkan karbohidrat sekitar 12%, sedangkan untuk omnivora kadar karbohidratnya dapat mencapai50%.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><strong>D. Vitamin</strong></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Apabila ikan kekurangan vitamin, maka gejalanya adalah nafsu makan hilang, kecepatan tumbuh berkurang, warna abnormal, keseimbangan hilang, gelisah, hati berlemah, mudah terserang bakteri, pertumbuhan sirip kurang sempurna, pembentukan lendir terganggu dll. Agar ikan tetap sehat, suplai vitamin harus kontinyu, tapi kebutuhan akan vitamin dipengaruhi oleh ukuran ikan, umur, kondisi lingkungan dan suhu air.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><strong>E. Mineral</strong></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="id-ID">Mineral adalah bahan an-organik yang dibutuhkan oleh ikan untuk pembentukan jaringan tubuh, proses metabolisma dan mempertahankan keseimbangan osmotis. Mineral yang penting untuk pembentukan tulang, gigi dan sisik adalah kalsium, fosfor, fluorine, magnesium, besi, tembaga, kobalt, natrium, kalium, klor, boron, alumunium, seng, arsen,</span></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="id-ID"> dll. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Makanan alami biasanya telah cukup mengandung mineral, bahkan beberapa dapat diserap langsung dari dalam air. Namun pada umumnya, mineral-mineral itu didapatkan dari makanan. Oleh karena itu, beberapa macam mineral yang penting perlu kita tambahkan pada proses pembuatan pakan.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Selain kandungan gizi, ada beberapa bahan tambahan dalam meramu pakan buatan. Bahan-bahan ini cukup sedikit saja, diantaranya : antioksidan, perekat dan pelezat. Sebagai antioksidan atau zat antitengik dapat ditambahkan fenol, vitamin E, vitamin C, etoksikuin, BHT, BHA dan lain-lain dengan penggunaan 150 – 200 ppm. Beberapa bahan dapat berfungsi sebagai perekat seperti agar-agar gelatin, tepung kanji, tepung terigu dan sagu, dengan pemakaian maksimal 10%. Bahan perekat ini menjadi penting pada pembuatan pakan udang, sebab pakan udang harus mempunyai ketahanan yang tinggi, agar tidak cepat hancur dalam air. Sebagai pelezat, pada umumnya dipakai garam dapur sebanyak 2%.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="id-ID">Sumber : </span></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="id-ID">Depdiknas, membuat pakan ikan buatan,</span></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="id-ID"><strong> Dr. Masyamsir, Ir., MS,2001</strong></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;border-color:0 0 #000000;border-style:none none solid;border-width:medium medium 1px;padding:0 0 .01in;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="id-ID"><strong>Ringkasan </strong></span></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="id-ID">(oleh Admin) </span></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="id-ID"><strong>:</strong></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">a. Protein		20-60%</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">b. Lemak		4-18%</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">c. Karbohidrat	10-50%</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="id-ID">d. Vitamin		150-200 ppm (utamanya vitamin untuk anti oksidan)</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">e. Mineral		secukupnya (untuk mineral tertentu yang tidak ada secara alami)</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">f.  Bahan perekat	10%</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">g. Penyedap/garam	2%</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="id-ID"><strong>Cara membuat </strong></span></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="id-ID"><strong>Pelet </strong></span></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="id-ID">(oleh Admin)</span></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="id-ID"><strong>:</strong></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Untuk semua bahan sebaiknya berupa tepung kecuali vitamin dan sebagian mineral.</span></span></p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Campurkan 	semua bahan dan dan aduk hingga rata</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Berikan 	air secukupnya (sekedar lembab) dan aduk hingga rata (seperti 	jenang/dodol)</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Kukus 	adonan hingga matang</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Cetak 	menggunakan gilingan daging</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="id-ID">Gerus 	pelan-pelan selagi basah agar patah-patah menjadi pelet</span></span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Jemur/oven 	pelet hingga kering</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Simpan 	pakan dalam tempat yang kering dan tertutup agar tidak berjamur</span></span></p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Catatan : pelet tersebut akan tenggelam saat ditebarkan di kolam, namun akan tetap dimakan ikan. Pada dasarnya pelet apung dan tenggelam sama saja, bedanya yang apung dapat dikontrol jumlah kebutuhannya secara visual.</span></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/teguh8581.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/teguh8581.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/teguh8581.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/teguh8581.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/teguh8581.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/teguh8581.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/teguh8581.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/teguh8581.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/teguh8581.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/teguh8581.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/teguh8581.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/teguh8581.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/teguh8581.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/teguh8581.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teguh8581.wordpress.com&amp;blog=8811465&amp;post=29&amp;subd=teguh8581&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://teguh8581.wordpress.com/2009/08/02/kebutuhan-nutrisi-pakan-ikan-%c2%a0udang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f9124eb23e41e40d32170f5f94041149?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">teguh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Budidaya Belut (Synbranchus)</title>
		<link>http://teguh8581.wordpress.com/2009/08/02/budidaya-belut-synbranchus/</link>
		<comments>http://teguh8581.wordpress.com/2009/08/02/budidaya-belut-synbranchus/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Aug 2009 10:43:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Teguh Sutopo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ikan Air Tawar]]></category>
		<category><![CDATA[belut]]></category>
		<category><![CDATA[budidaya belut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://teguh8581.wordpress.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[1. SEJARAH SINGKAT Belut merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan bentuk tubuh bulat memanjang yang hanya memiliki sirip punggung dan tubuhnya licin. Belut suka memakan anak-anak ikan yang masih kecil. Biasanya hidup di sawah-sawah, di rawa-rawa/lumpur dan di kali-kali kecil. Di Indonesia sejak tahun 1979, belut mulai dikenal dan digemari, hingga saat ini belut [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teguh8581.wordpress.com&amp;blog=8811465&amp;post=27&amp;subd=teguh8581&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>1. SEJARAH SINGKAT</strong></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Belut merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan bentuk tubuh bulat memanjang yang hanya memiliki sirip punggung dan tubuhnya licin. Belut suka memakan anak-anak ikan yang masih kecil. Biasanya hidup di sawah-sawah, di rawa-rawa/lumpur dan di kali-kali kecil. Di Indonesia sejak tahun 1979, belut mulai dikenal dan digemari, hingga saat ini belut banyak dibudidayakan dan menjadi salah satu komoditas ekspor.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>2. SENTRA PERIKANAN</strong></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="id-ID">Sentra perikanan belut Internasional terpusat di Taiwan, Jepang, Hongkong, Perancis dan Malaysia. Sedangkan sentra perikanan belut di Indonesia berada di daerah Yogyakarta dan di daerah Jawa Barat. Di daerah lainnya baru merupakan tempat penampungan belut-belut tangkapan dari alam atau sebagai</span></span></span><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="id-ID"> pos penampungan.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>3. JENIS</strong></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Klasifikasi belut adalah sebagai berikut :</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="id-ID">Kelas </span></span></span><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="id-ID"> : Pisces</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="id-ID">Subkelas </span></span></span><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="id-ID"> : Teleostei</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="id-ID">Ordo </span></span></span><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="id-ID"> : Synbranchoidae</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="id-ID">Famili </span></span></span><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="id-ID"> : Synbranchidae</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="id-ID">Genus </span></span></span><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="id-ID"> : Synbranchus</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="id-ID">Species </span></span></span><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="id-ID"> : Synbranchus bengalensis Mc clell (belut rawa); Monopterus albus Zuieuw </span></span></span></p>
<p style="margin-left:1.07in;text-indent:-.07in;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="id-ID">(belut sawah); Macrotema caligans Cant (belut kali/laut)</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Jadi jenis belut ada 3 (tiga) macam yaitu belut rawa, belut sawah dan belut kali/laut. Namun demikian jenis belut yang sering dijumpai adalah jenis belut sawah.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>4. MANFAAT</strong></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Manfaat dari budidaya belut adalah:</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">1) Sebagai penyediaan sumber protein hewani.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">2) Sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">3) Sebagai obat penambah darah.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>5. PERSYARATAN LOKASI</strong></span></span></p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Secara 	klimatologis ikan belut tidak membutuhkan kondisi iklim dan 	geografis yang spesifik. Ketinggian tempat budidaya ikan belut dapat 	berada di dataran rendah sampai dataran tinggi. Begitu pula dengan 	kelembaban dan curah hujan tidak ada batasan yang spesifik.</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Kualitas 	air untuk pemeliharaan belut harus bersih, tidak terlalu keruh dan 	tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik. 	Kondisi tanah dasar kolam tidak beracun.</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Suhu 	udara/temperatur optimal untukpertumbuhan belut yaitu berkisar 	antara 25-31 derajat C.</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Pada 	prinsipnya kondisi perairan adalah air yang harus bersih dan kaya 	akan oksigen terutama untuk bibit/benih yang masih kecil yaitu 	ukuran 1-2 cm. Sedangkan untuk perkembangan selanjutnya belut dewasa 	tidak memilih kualitas air dan dapat hidup di air yang keruh.</span></span></p>
</li>
</ol>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA</strong></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>6.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan</strong></span></span></p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Perlu 	diketahui bahwa jenis kolam budidaya ikan belut harus dibedakan 	antara lain: kolam induk/kolam pemijahan, kolam pendederan (untuk 	benih belut berukuran 1-2 cm), kolam belut remaja (untuk belut 	ukuran 3-5 cm) dan kolam pemeliharaan belut konsumsi (terbagi 	menjadi 2 tahapan yang masing-masing dibutuhkan waktu 2 bulan) yaitu 	untuk pemeliharaan belut ukuran 5-8 cm sampai menjadi ukuran 15-20 	cm dan untuk pemeliharan belut dengan ukuran 15-20 cm sampai menjadi 	ukuran 30-40 cm.</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Bangunan 	jenis-jenis kolam belut secara umum relatif sama hanya dibedakan 	oleh ukuran, kapasitas dan daya tampung belut itu sendiri.</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Ukuran 	kolam induk kapasitasnya 6 ekor/m2. Untuk kolam pendederan (ukuran 	belut 1-2 cm) daya tampungnya 500 ekor/m2. Untuk kolam belut remaja 	(ukuran 2-5 cm) daya tampungnya 250 ekor/m2. Dan untuk kolam belut 	konsumsi tahap pertama (ukuran 5-8 cm) daya tampungnya 100 ekor/m2. 	Serta kolam belut konsumsi tahap kedua (ukuran 15-20cm) daya 	tampungnya 50 ekor/m2, hingga panjang belut pemanenan kelak 	berukuran 30-50 cm.</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Pembuatan 	kolam belut dengan bahan bak dinding tembok/disemen dan dasar bak 	tidak perlu diplester.</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Peralatan 	lainnya berupa media dasar kolam, sumber air yang selalu ada, alat 	penangkapan yang diperlukan, ember plastik dan peralatan-peralatan 	lainnya.</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Media 	dasar kolam terdiri dari bahan-bahan organik seperti pupuk kandang, 	sekam padi dan jerami padi. Caranya kolam yang masih kosong untuk 	lapisan pertama diberi sekam padi setebal 10 cm, diatasnya ditimbun 	dengan pupuk kandang setebal 10 cm, lalu diatasnya lagi ditimbun 	dengan ikatan-ikatan merang atau jerami kering. Setelah 	tumpukan-tumpukan bahan organik selesai dibuat (tebal seluruhnya 	sekitar 30 cm), berulah air dialirkan kedalam kolam secara 	perlahan-lahan sampai setinggi 50 cm (bahan organik+ air). Dengan 	demikian media dasar kolam sudah selesai, tinggal media tersebut 	dibiarkan beberapa saat agar sampai menjadi lumpur sawah. Setelah 	itu belut-belut diluncurkan ke dalam kolam.</span></span></p>
</li>
</ol>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="id-ID"><br />
</span></span></span><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="id-ID"><strong>6.2. Penyiapan Bibit</strong></span></span></span></p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Menyiapkan 	Bibit</span></span></p>
</li>
</ol>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="id-ID">Anak 	belut yang sudah siap dipelihara secara intensif adalah yang 	berukuran 5-8 cm. Di pelihara selama 4 bulan dalam 2 tahapan dengan 	masing-masing tahapannya selama 2 bulan.<br />
b</span></span></span><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="id-ID">. 	Bibit bisa diperoleh dari bak/kolam pembibitan atau bisa juga bibit 	diperoleh dari sarang-sarang bibit yang ada di alam.</span></span></span></li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Pemilihan 	bibit bisa diperoleh dari kolam peternakan atau pemijahan. Biasanya 	belut yang dipijahkan adalah belut betina berukuran ± 30 cm dan 	belut jantan berukuran ± 40 cm.</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Pemijahan 	dilakukan di kolam pemijahan dengan kapasitas satu ekor pejantan 	dengan dua ekor betina untuk kolam seluas 1 m2. Waktu pemijahan 	kira-kira berlangsung 10 hari baru telur-telur ikan belut menetas. 	Dan setelah menetas umur 5-8 hari dengan ukuran anak belut berkisar 	1,5–2,5 cm. Dalam ukuran ini belut segera diambil untuk 	ditempatkan di kolam pendederan calon benih/calon bibit. Anak belut 	dengan ukuran sedemikian tersebut diatas segera ditempatkan di kolam 	pendederan calon bibit selama ± 1 (satu) bulan sampai anak belut 	tersebut berukuran 5-8 cm. Dengan ukuran ini anak belut sudah bisa 	diperlihara dalam kolam belut untuk konsumsi selama dua bulan atau 	empat bulan.</span></span></p>
</li>
</ol>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Perlakuan 	dan Perawatan Bibit</span></span></p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Dari hasil pemijahan anak belut ditampung di kolam pendederan calon benih selama 1 bulan. Dalam hal ini benih diperlakukan dengan secermat mungkin agar tidak banyak yang hilang. Dengan perairan yang bersih dan lebih baik lagi apabila di air yang mengalir.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="id-ID"><br />
</span></span></span><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="id-ID"><strong>6.3. Pemeliharaan Pembesaran</strong></span></span></span></p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Pemupukan</span></span></p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Jerami yang sudah lapuk diperlukan untuk membentuk pelumpuran yang subur dan pupuk kandang juga diperlukan sebagai salah satu bahan organik utama.</span></span></p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Pemberian 	Pakan</span></span></p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Bila diperlukan bisa diberi makanan tambahan berupa cacing, kecoa, ulat besar(belatung) yang diberikan setiap 10 hari sekali.</span></span></p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Pemberian 	Vaksinasi</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Pemeliharaan 	Kolam dan Tambak</span></span></p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Yang perlu diperhatikan pada pemeliharaan belut adalah menjaga kolam agar tidak ada gangguan dari luar dan dalam kolam tidak beracun.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>7. HAMA DAN PENYAKIT</strong></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>7.1. Hama</strong></span></span></p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Hama 	pada belut adalah binatang tingkat tinggi yang langsung mengganggu 	kehidupan belut.</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Di 	alam bebas dan di kolam terbuka, hama yang sering menyerang belut 	antara lain: berang-berang, ular, katak, burung, serangga, musang 	air dan ikan gabus.</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Di 	pekarangan, terutama yang ada di perkotaan, hama yang sering 	menyerang hanya katak dan kucing. Pemeliharaan belut secara intensif 	tidak banyak diserang hama.</span></span></p>
</li>
</ol>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="id-ID"><br />
</span></span></span><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="id-ID"><strong>7.2. Penyakit</strong></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Penyakit yang umum menyerang adalah penyakit yang disebabkan oleh organisme tingkat rendah seperti virus, bakteri, jamur, dan protozoa yang berukuran kecil.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>8. PANEN</strong></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Pemanenan belut berupa 2 jenis yaitu :</span></span></p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Berupa 	benih/bibit yang dijual untuk diternak/dibudidayakan.</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Berupa 	hasil akhir pemeliharaan belut yang siap dijual untuk konsumsi 	(besarnya/panjangnya sesuai dengan permintaan pasar/konsumen).</span></span></p>
</li>
</ol>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Cara Penangkapan belut sama seperti menangkap ikan lainnya dengan peralatan antara lain : bubu/posong, jaring/jala bermata lembut, dengan pancing atau kail dan pengeringan air kolam sehingga belut tinggal diambil saja.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>9. PASCAPANEN</strong></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Pada pemeliharaan belut secara komersial dan dalam jumlah yang besar, penanganan pasca panen perlu mendapat perhatian yang serius. Hal ini agar belut dapat diterima oleh konsumen dalam kualitas yang baik, sehingga mempunyai jaringan pemasaran yang luas.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA</strong></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>10.1.Analisis Usaha Budidaya</strong></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Perkiraan analisis budidaya belut selama 3 bulan di daerah Jawa Barat pada tahun 1999 adalah sebagai berikut:</span></span></p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Biaya 	Produksi</span></span></p>
</li>
</ol>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Pembuatan 	kolam tanah 2 x 3 x 1, 4 HOK @ Rp.7.000,-Rp. 28.000,</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Bibit 	3.000 ekor x @ Rp. 750,-Rp. 225.000,</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Makanan 	tambahan (daging kelinci 3 ekor) @ Rp.15.000,-Rp. 45.000,</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Lain-lain 	Rp. 30.000,-</span></span></p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.5in;margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Jumlah Biaya Produksi Rp. 328.000,</strong></span></span></p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Pendapatan: 	3000 ekor = 300 kg x @ Rp. 2.500,-Rp. 750.000,</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Keuntungan 	Rp. 422.000,</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Parameter 	Kelayakan Usaha 2,28</span></span></p>
</li>
</ol>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>10.2.Gambaran Peluang Agribisnis</strong></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><br />
Budidaya ikan belut, baik dalam bentuk pembenihan maupun pembesaran mempunyai prospek yang cukup baik. Permintaan konsumen akan keberadaan ikan belut semakin meningkat. Dengan teknik pemeliharaan yang baik, maka akan diperoleh hasil budidaya yang memuaskan dan diminati konsumen.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>11. DAFTAR PUSTAKA</strong></span></span></p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Satwono, 	B. 1999. Budidaya Belut dan Tidar. Penerbit Penebar Swadaya (Anggota 	IKAPI). Jakarta.</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Ronni 	Hendrik S. 1999. Budidaya Belut. Penerbit Bhratara, Jakarta</span></span></p>
</li>
</ol>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas, Jakarta, Maret 2000<br />
</span></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/teguh8581.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/teguh8581.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/teguh8581.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/teguh8581.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/teguh8581.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/teguh8581.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/teguh8581.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/teguh8581.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/teguh8581.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/teguh8581.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/teguh8581.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/teguh8581.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/teguh8581.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/teguh8581.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teguh8581.wordpress.com&amp;blog=8811465&amp;post=27&amp;subd=teguh8581&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://teguh8581.wordpress.com/2009/08/02/budidaya-belut-synbranchus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f9124eb23e41e40d32170f5f94041149?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">teguh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Budidaya Ikan Lele (Clarias)</title>
		<link>http://teguh8581.wordpress.com/2009/08/01/budidaya-ikan-lele/</link>
		<comments>http://teguh8581.wordpress.com/2009/08/01/budidaya-ikan-lele/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Aug 2009 09:59:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Teguh Sutopo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ikan Air Tawar]]></category>
		<category><![CDATA[budidaya ikan lele]]></category>
		<category><![CDATA[budidaya lele]]></category>
		<category><![CDATA[ikan lele]]></category>
		<category><![CDATA[lele]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://teguh8581.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[I. UMUM 1.1. Pengenalan Lele merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan tubuh memanjang dan kulit licin. Di Indonesia ikan lele mempunyai beberapa nama daerah, antara lain: ikan kalang (Padang), ikan maut (Gayo, Aceh), ikan pintet (Kalimantan Selatan), ikan keling (Makasar), ikan cepi (Bugis), ikan lele atau lindi (Jawa Tengah). Sedang di negara lain dikenal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teguh8581.wordpress.com&amp;blog=8811465&amp;post=24&amp;subd=teguh8581&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 		A:link { so-language: zxx } --></p>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 		A:link { so-language: zxx } --></p>
<p style="background:#ffffff none repeat scroll 0 0;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">I. UMUM</span></span></strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></span></p>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">1.1. Pengenalan</span></span></strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></span></p>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Lele merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan tubuh memanjang dan kulit licin. Di Indonesia ikan lele mempunyai beberapa nama daerah, antara lain: ikan kalang (Padang), ikan maut (Gayo, Aceh), ikan pintet (Kalimantan Selatan), ikan keling (Makasar), ikan cepi (Bugis), ikan lele atau lindi (Jawa Tengah). Sedang di negara lain dikenal dengan nama mali (Afrika), plamond (Thailand), ikan keli (Malaysia), gura magura (Srilangka), ca tre trang (Jepang). Dalam bahasa Inggris disebut pula catfish, siluroid, mudfish dan walking catfish. </span></span></p>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Ikan lele tidak pernah ditemukan di air payau atau air asin. Habitatnya di sungai dengan arus air yang perlahan, rawa, telaga, waduk, sawah yang tergenang air. Ikan lele bersifat noctural, yaitu aktif bergerak mencari makanan pada malam hari. Pada siang hari, ikan lele berdiam diri dan berlindung di tempat-tempat gelap. Di alam ikan lele memijah pada musim penghujan. </span></span></p>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">1.2. Sentra Perikanan</span></span></strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></span></p>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Ikan lele banyak ditemukan di benua Afrika dan Asia. Dibudidayakan di Thailand, India, Philipina dan Indonesia. Di Thailand produksi ikan lele ± 970 kg/100m2/tahun. Di India (daerah Asam) produksinya rata-rata tiap 7 bulan mencapai 1200 kg/Ha. </span></span></p>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">1.3. Jenis</span></span></strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></span></p>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Di Indonesia ada 6 (enam) jenis ikan lele yang dapat dikembangkan: </span></span></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-top:.19in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Clarias 	batrachus, dikenal sebagai ikan lele (Jawa), ikan kalang (Sumatera 	Barat), ikan maut (Sumatera Utara), dan ikan pintet (Kalimantan 	Selatan). </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Clarias 	teysmani, dikenal sebagai lele Kembang (Jawa Barat), Kalang putih 	(Padang). </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Clarias 	melanoderma, yang dikenal sebagai ikan duri (Sumatera Selatan), wais 	(Jawa Tengah), wiru (Jawa Barat). </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Clarias 	nieuhofi, yang dikenal sebagai ikan lindi (Jawa), limbat (Sumatera 	Barat), kaleh (Kalimantan Selatan). </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Clarias 	loiacanthus, yang dikenal sebagai ikan keli (Sumatera Barat), ikan 	penang (Kalimantan Timur). </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:.19in;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Clarias 	gariepinus, yang dikenal sebagai lele Dumbo (Lele Domba), King cat 	fish, berasal dari Afrika. </span></span></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">1.4. Manfaat</span></span></strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></span></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-top:.19in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Sebagai bahan 	makanan </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Ikan lele dari 	jenis C. batrachus juga dapat dimanfaatkan sebagai ikan pajangan 	atau ikan hias. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:.19in;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Ikan lele yang 	dipelihara di sawah dapat bermanfaat untuk memberantas hama padi 	berupa serangga air, karena merupakan salah satu makanan alami ikan 	lele. </span></span></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">II. PERSYARATAN LOKASI</span></span></strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></span></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-top:.19in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Tanah yang baik 	untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung, tidak 	berporos, berlumpur dan subur. Lahan yang dapat digunakan untuk 	budidaya lele dapat berupa: sawah, kecomberan, kolam pekarangan, 	kolamkebun, dan blumbang. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Ikan lele hidup 	dengan baik di daerah dataran rendah sampai daerah yang tingginya 	maksimal 700 m dpl. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Elevasi tanah 	dari permukaan sumber air dan kolam adalah 5-10%. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Lokasi untuk 	pembuatan kolam hendaknya di tempat yang teduh, tetapi tidak berada 	di bawah pohon yang daunnya mudah rontok. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Ikan lele dapat 	hidup pada suhu 20 derajat C, dengan suhu optimal antara 25-28 	derajat C. Sedangkan untuk pertumbuhan larva diperlukan kisaran suhu 	antara 26-30 derajat C dan untuk pemijahan 24-28 derajat C. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Ikan lele dapat 	hidup dalam perairan agak tenang dan kedalamannya cukup, sekalipun 	kondisi airnya jelek, keruh, kotor dan miskin zat O2. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:.19in;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Permukaan 	perairan tidak boleh tertutup rapat oleh sampah atau daun-daunan 	hidup, seperti enceng gondok. </span></span></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Persyaratan untuk pemeliharaan ikan lele di keramba : </span></span></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-top:.19in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Sungai atau 	saluran irigasi tidak curam, mudah dikunjungi/dikontrol. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Dekat dengan 	rumah pemeliharaannya. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Lebar sungai 	atau saluran irigasi antara 3-5 meter. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:.19in;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Sungai atau 	saluran irigasi tidak berbatu-batu, sehingga keramba mudah dipasang. 	*Kedalaman air 30-60 cm. </span></span></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA</span></span></strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></span></p>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">3.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan</span></span></strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></span></p>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Dalam pembuatan kolam pemeliharaan ikan lele sebaiknya ukurannya tidak terlalu luas. Hal ini untuk memudahkan pengontrolan dan pengawasan. Bentuk dan ukuran kolam pemeliharaan bervariasi, tergantung selera pemilik dan lokasinya. Tetapi sebaiknya bagian dasar dan dinding kolam dibuat permanen. </span></span></p>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Pada minggu ke 1-6 air harus dalam keadaan jernih kolam, bebas dari pencemaran maupun fitoplankton. Ikan pada usia 7-9 minggu kejernihan airnya harus dipertahankan. Pada minggu 10, air dalam batas-batas tertentu masih diperbolehkan. Kekeruhan menunjukkan kadar bahan padat yang melayang dalam air (plankton). </span></span></p>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">3.2. Penyiapan Bibit</span></span></strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></span></p>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">3.2.1. Menyiapkan Bibit</span></span></strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></span></p>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">3.2.1.1 Pemilihan Induk</span></span></strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></span></p>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">A. Ciri-ciri induk lele jantan: </span></span></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-top:.19in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Kepalanya lebih 	kecil dari induk ikan lele betina. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Warna kulit 	dada agak tua bila dibanding induk ikan lele betina. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Urogenital 	papilla (kelamin) agak menonjol, memanjang ke arah belakang, 	terletak di belakang anus, dan warna kemerahan. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Gerakannya 	lincah, tulang kepala pendek dan agak gepeng (depress). </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Perutnya lebih 	langsing dan kenyal bila dibanding induk ikan lele betina. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Bila bagian 	perut di stripping secara manual dari perut ke arah ekor akan 	mengeluarkan cairan putih kental (spermatozoa-mani). </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:.19in;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Kulit lebih 	halus dibanding induk ikan lele betina. </span></span></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">B. Ciri-ciri induk lele betina </span></span></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-top:.19in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Kepalanya lebih 	besar dibanding induk lele jantan. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Warna kulit 	dada agak terang. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Urogenital 	papilla (kelamin) berbentuk oval (bulat daun), berwarna kemerahan, 	lubangnya agak lebar dan terletak di belakang anus. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Gerakannya 	lambat, tulang kepala pendek dan agak cembung. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Perutnya lebih 	gembung dan lunak. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:.19in;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Bila bagian 	perut di stripping secara manual dari bagian perut ke arah ekor akan 	mengeluarkan cairan kekuning-kuningan (ovum/telur). </span></span></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">C. Syarat induk lele yang baik: </span></span></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-top:.19in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Kulitnya lebih 	kasar dibanding induk lele jantan. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Induk lele 	diambil dari lele yang dipelihara dalam kolam sejak kecil supaya 	terbiasa hidup di kolam. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Berat badannya 	berkisar antara 100-200 gram, tergantung kesuburan badan dengan 	ukuran panjang 20-5 cm. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Bentuk badan 	simetris, tidak bengkok, tidak cacat, tidak luka, dan lincah. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Umur induk 	jantan di atas tujuh bulan, sedangkan induk betina berumur satu 	tahun. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Frekuensi 	pemijahan bisa satu bula sekali, dan sepanjang hidupnya bisa memijah 	lebih dari 15 kali dengan syarat apabila makanannya mengandung cukup 	protein. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:.19in;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Ciri-ciri induk 	lele siap memijah adalah calon induk terlihat mulai 	berpasang-pasangan, kejar-kejaran antara yang jantan dan yang 	betina. Induk tersebut segera ditangkap dan ditempatkan dalam kolam 	tersendiri untuk dipijahkan. </span></span></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">D. Perawatan induk lele: </span></span></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-top:.19in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Selama masa 	pemijahan dan masa perawatan, induk ikan lele diberi makanan yang 	berkadar protein tinggi seperti cincangan daging bekicot, larva 	lalat/belatung, rayap atau makanan buatan (pellet). Ikan lele 	membutuhkan pellet dengan kadar protein yang relatif tinggi, yaitu ± 	60%. Cacing sutra kurang baik untuk makanan induk lele, karena 	kandungan lemaknya tinggi. Pemberian cacing sutra harus dihentikan 	seminggu menjelang perkawinan atau pemijahan. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Makanan 	diberikan pagi hari dan sore hari dengan jumlah 5-10% dari berat 	total ikan. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Setelah benih 	berumur seminggu, induk betina dipisahkan, sedangkan induk jantan 	dibiarkan untuk menjaga anak-anaknya. Induk jantan baru bisa 	dipindahkan apabila anak-anak lele sudah berumur 2 minggu. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Segera pisahkan 	induk-induk yang mulai lemah atau yang terserang penyakit untuk 	segera diobati. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:.19in;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Mengatur aliran 	air masuk yang bersih, walaupun kecepatan aliran tidak perlu deras, 	cukup 5-6 liter/menit. </span></span></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">3.2.2.2 Pemijahan Tradisional</span></span></strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></span></p>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">1. Pemijahan di Kolam Pemijahan</span></span></strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></span></p>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Kolam induk: </span></span></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-top:.19in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Kolam dapat 	berupa tanah seluruhnya atau tembok sebagian dengan dasar tanah. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Luas 	bervariasi, minimal 50 m2. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Kolam terdiri 	dari 2 bagian, yaitu bagian dangkal (70%) dan bagian dalam 	(kubangan) 30 % dari luas kolam. Kubangan ada di bagian tengah kolam 	dengan kedalaman 50-60 cm, berfungsi untuk bersembunyi induk, bila 	kolam disurutkan airnya. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Pada sisi-sisi 	kolam ada sarang peneluran dengan ukuran 30x30x25 cm3, dari tembok 	yang dasarnya dilengkapi saluran pengeluaran dari pipa paralon 	diamneter 1 inchi untuk keluarnya banih ke kolam pendederan. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Setiap sarang 	peneluran mempunyai satu lubang yang dibuat dari pipa paralon (PVC) 	ukuran ± 4 inchi untuk masuknya induk-induk lele. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Jarak antar 	sarang peneluran ± 1 m. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Kolam dikapur 	merata, lalu tebarkan pupuk kandang (kotoran ayam) sebanyak 500-750 	gram/m2. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:.19in;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Airi kolam 	sampai batas kubangan, biarkan selama 4 hari. </span></span></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Pemijahan: </span></span></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-top:.19in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Siapkan induk 	lele betina sebanyak 2 x jumlah sarang yang tersedia dan induk 	jantan sebanyak jumlah sarang; atau satu pasang per sarang; atau 	satu pasang per 2-4 m2 luas kolam (pilih salah satu). </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Masukkan induk 	yang terpilih ke kubangan, setelah kubangan diairi selama 4 hari. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Beri/masukkan 	makanan yang berprotein tinggi setiap hari seperti cacing, ikan 	rucah, pellet dan semacamnya, dengan dosis (jumlah berat makanan) 	2-3% dari berat total ikan yang ditebarkan . </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Biarkan sampai 	10 hari. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Setelah induk 	dalam kolam selama 10 hari, air dalam kolam dinaikkan sampai 10-15 	cm di atas lubang sarang peneluran atau kedalaman air dalam sarang 	sekitar 20-25 cm. Biarkan sampai 10 hari. Pada saat ini induk tak 	perlu diberi makan, dan diharapkan selama 10 hari berikutnya induk 	telah memijah dan bertelur. Setelah 24 jam, telur telah menetas di 	sarang, terkumpullah benih lele. Induk lele yang baik bertelur 2-3 	bulan satu kali bila makanannya baik dan akan bertelur terus sampai 	umur 5 tahun. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Benih lele 	dikeluarkan dari sarnag ke kolam pendederan dengan cara: air kolam 	disurutkan sampai batas kubangan, lalu benih dialirkan melalui pipa 	pengeluaran. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Benih-benih 	lele yang sudah dipindahkan ke kolam pendederan diberi makanan 	secara intensif, ukuran benih 1-2 cm, dengan kepadatan 60 -100 	ekor/m2. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:.19in;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Dari seekor 	induk lele dapat menghasilkan ± 2000 ekor benih lele. Pemijahan 	induk lele biasanya terjadi pada sore hari atau malam hari. </span></span></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">2. Pemijahan di Bak Pemijahan Secara Berpasangan</span></span></strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></span></p>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Penyiapan bak pemijahan secara berpasangan: *Buat bak dari semen atau teraso dengan ukuran 1 x 1 m atau 1 x 2 m dan tinggi 0,6 m. </span></span></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-top:.19in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Di dalam bak 	dilengkapi kotak dari kayu ukuran 25 x 40&#215;30 cm tanpa dasar sebagai 	sarang pemijahan. Di bagian atas diberi lubang dan diberi tutup 	untuk melihat adanya telur dalam sarang. Bagian depan kotak/sarang 	pemijahan diberi enceng gondok supaya kotak menjadi gelap. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Sarang 	pemijahan dapat dibuat pula dari tumpukan batu bata atau ember 	plastik atau barang bekas lain yang memungkinkan. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Sarang bak 	pembenihan diberi ijuk dan kerikil untuk menempatkan telur hasil 	pemijahan. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:.19in;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Sebelum bak 	digunakan, bersihkan/cuci dengan air dan bilas dengan formalin 40 % 	atau </span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">KMnO4</span></span><a href="http://www.nunihon.org/twiki/bin/edit/TWiki/KMnO4?topicparent=TWiki.IptekTerapan"><span style="color:#0000ff;"><sup><span style="font-family:Arial,sans-serif;">?</span></sup></span></a><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> (dapat dibeli di apotik); kemudian bilas lagi dengan air bersih dan 	keringkan. </span></span></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Pemijahan: </span></span></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-top:.19in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Sebarkan I 	(satu) pasang induk dalam satu bak setelah bak diisi air setinggi ± 	25 cm. Sebaiknya airnya mengalir. Penebaran dilakukan pada jam 	14.00–16.00. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Biarkan induk 	selama 5-10 hari, beri makanan yang intensif. Setelah ± 10 hari, 	diharapkan sepasang induk ini telah memijah, bertelur dan dalam 	waktu 24 jam telur-telur telah menetas. Telur-telur yang baik adalah 	yang berwarna kuning cerah. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:.19in;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Beri makanan 	anak-anak lele yang masih kecil (stadium larva) tersebut berupa kutu 	air atau anak nyamuk dan setelah agak besar dapat diberi cacing dan 	telur rebus. </span></span></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">3. Pemijahan di Bak Pemijahan Secara Masal</span></span></strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></span></p>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Penyiapan bak pemijahan secara masal: </span></span></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-top:.19in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Buat bak dari 	semen seluas 20 m2 atau 50 m2, ukuran 2&#215;10 m2 atau 5&#215;10 m2. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Di luar bak, 	menempel dinding bak dibuat sarang pemijahan ukuran 30x30x30 cm3, 	yang dilengkapi dengan saluran pengeluaran benih dari paralon (PVC) 	berdiameter 1 inchi. Setiap sarang dibuatkan satu lubang dari 	paralon berdiameter 4 inchi. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Dasar sarang 	pemijahan diberi ijuk dan kerikil untuk tempat menempel telur hasil 	pemijahan. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:.19in;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Sebelum 	digunakan, bak dikeringkan dan dibilas dengan larutan desinfektan 	atau formalin, lalu dibilas dengan air bersih; kemudian keringkan. </span></span></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Pemijahan: </span></span></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-top:.19in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Tebarkan induk 	lele yang terpilih (matang telur) dalam bak pembenihan sebanyak 	2xjumlah sarang , induk jantan sama banyaknya dengan induk betina 	atau dapat pula ditebarkan 25-50 pasang untuk bak seluas 50 m2 (5&#215;10 	m2), setelah bak pembenihan diairi setinggi 1 m. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Setelah 10 hari 	induk dalam bak, surutkan air sampai ketinggian 50-60 cm, induk beri 	makan secara intensif. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Sepuluh hari 	kemudian, air dalam bak dinaikkan sampai di atas lubang sarang 	sehingga air dalam sarang mencapai ketinggian 20-25 cm. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Saat air 	ditinggikan diharapkan induk-induk berpasangan masuk sarang 	pemijahan, memijah dan bertelur. Biarkan sampai ± 10 hari. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Sepuluh hari 	kemudian air disurutkan lagi, dan diperkirakan telur-telur dalam 	sarang pemijahan telah menetas dan menjadi benih lele. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:.19in;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Benih lele 	dikeluarkan melalui saluran pengeluaran benih untuk didederkan di 	kolam pendederan. </span></span></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">3.2.2.3 Pemijahan Buatan</span></span></strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></span></p>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Cara ini disebut Induced Breeding atau hypophysasi yakni merangsang ikan lele untuk kawin dengan cara memberikan suntikan berupa cairan hormon ke dalam tubuh ikan. Hormon hipophysa berasal dari kelenjar hipophysa, yaitu hormon gonadotropin. Fungsi hormon gonadotropin: </span></span></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-top:.19in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Gametogenesis: 	memacu kematangan telur dan sperma, disebut Follicel Stimulating 	Hormon. Setelah 12 jam penyuntikan, telur mengalami ovulasi 	(keluarnya telur dari jaringan ikat indung telur). Selama ovulasi, 	perut ikan betina akan membengkak sedikit demi sedikit karena 	ovarium menyerap air. Saat itu merupakan saat yang baik untuk 	melakukan pengurutan perut (stripping). </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:.19in;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Mendorong nafsu 	sex (libido) </span></span></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">3.3. Perlakuan dan Perawatan Bibit</span></span></strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></span></p>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">a) Kolam untuk pendederan</span></span></strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></span></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-top:.19in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Untuk kolam 	pada minggu 1-2, lebar 50 cm, panjang 200 cm, dan tinggi 50 cm. 	Dinding kolam dibuat tegak lurus, halus, dan licin, sehingga apabila 	bergesekan dengan tubuh benih lele tidak akan melukai. Permukaan 	lantai agak miring menuju pembuangan air. Kemiringan dibuat beda 3 	cm di antara kedua ujung lantai, di mana yang dekat tempat pemasukan 	air lebih tinggi. Pada lantai dipasang pralon dengan diameter 3-5 cm 	dan panjang 10 m. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Kira-kira 10 cm 	dari pengeluaran air dipasang saringan yang dijepit dengan 2 bingkai 	kayu tepat dengan permukaan dalam dinding kolam. Di antara 2 bingkai 	dipasang selembar kasa nyamuk dari bahan plastik berukuran mess 	0,5-0,7 mm, kemudian dipaku. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Setiap kolam 	pendederan dipasang pipa pemasukan dan pipa air untuk mengeringkan 	kolam. Pipa pengeluaran dihubungkan dengan pipa plastik yang dapat 	berfungsi untuk mengatur ketinggian air kolam. Pipa plastik tersebut 	dikaitkan dengan suatu pengait sebagai gantungan. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Minggu ketiga, 	benih dipindahkan ke kolam pendederan yang lain. Pengambilannya 	tidak boleh menggunakan jaring, tetapi dengan mengatur ketinggian 	pipa plastik. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:.19in;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Kolam 	pendederan yang baru berukuran 100 x 200 x 50 cm, dengan bentuk dan 	konstruksi sama dengan yang sebelumnya. </span></span></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">b) Penjarangan</span></span></strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></span></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-top:.19in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Penjarangan 	adalah mengurangi padat penebaran yang dilakukan karena ikan lele 	berkembang ke arah lebih besar, sehingga volume ratio antara lele 	dengan kolam tidak seimbang. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Apabila tidak 	dilakukan penjarangan dapat mengakibatkan : </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Ikan 	berdesakan, sehingga tubuhnya akan luka. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Terjadi 	perebutan ransum makanan dan suatu saat dapat memicu mumculnya 	kanibalisme (ikan yang lebih kecil dimakan oleh ikan yang lebih 	besar). </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:.19in;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Suasana kolam 	tidak sehat oleh menumpuknya CO2 dan NH3, dan O2 kurang sekali 	sehingga pertumbuhan ikan lele terhambat. </span></span></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><em><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Cara penjarangan pada benih ikan lele</span></span></em><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></span></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-top:.19in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Minggu 1-2, 	kepadatan tebar 5000 ekor/m2 </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Minggu 3-4, 	kepadatan tebar 1125 ekor/m2 </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:.19in;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Minggu 5-6, 	kepadatan tebar 525 ekor/m2 </span></span></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">c) Pemberian pakan</span></span></strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></span></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-top:.19in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Hari pertama 	sampai ketiga, benih lele mendapat makanan dari kantong kuning telur 	(yolk sac) yang dibawa sejak menetas. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Hari keempat 	sampai minggu kedua diberi makan zooplankton, yaitu Daphnia dan 	Artemia yang mempunyai protein 60%. Makanan tersebut diberikan 	dengan dosis 70% x biomassa setiap hari yang dibagi dalam 4 kali 	pemberian. Makanan ditebar disekitar tempat pemasukan air. Kira-kira 	2-3 hari sebelum pemberian pakan zooplankton berakhir, benih lele 	harus dikenalkan dengan makanan dalam bentuk tepung yang berkadar 	protein 50%. Sedikit dari tepung tersebut diberikan kepada benih 	10-15 menit sebelum pemberian zooplankton. Makanan yang berupa 	teoung dapat terbuat dari campuran kuning telur, tepung udang dan 	sedikit bubur nestum. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Minggu ketiga 	diberi pakan sebanyak 43% x biomassa setiap hari. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Minggu keempat 	dan kelima diberi pakan sebanyak 32% x biomassa setiap hari. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Minggu kelima 	diberi pakan sebanyak 21% x biomassa setiap hari. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Minggu ketiga 	diberi pakan sebanyak 43% x biomassa setiap hari. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:.19in;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Minggu keenam 	sudah bisa dicoba dengan pemberian pelet apung. </span></span></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">d) Pengepakan dan pengangkutan benih</span></span></strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></span></p>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Cara tertutup</span></span></strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></span></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-top:.19in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Kantong plastik 	yang kuat diisi air bersih dan benih dimasukkan sedikit demi 	sedikit. Udara dalam plastik dikeluarkan. O2 dari tabung dimasukkan 	ke dalam air sampai volume udara dalam plastik 1/3–1/4 bagian. 	Ujung plastik segera diikat rapat. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:.19in;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Plastik berisi 	benih lele dimasukkan dalam kardus atau peti supaya tidak mudah 	pecah. </span></span></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Cara terbuka dilakukan bila jarak tidak terlalu jauh</span></span></strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></span></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-top:.19in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Benih lele 	dilaparkan terlebih dahulu agar selama pengangkutan, air tidak keruh 	oleh kotoran lele. (Untuk pengangkutan lebih dari 5 jam). </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:.19in;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Tempat lele 	diisi dengan air bersih, kemudian benih dimasukkan sedikit demi 	sedikit. Jumlahnya tergantung ukurannya. Benih ukuran 10 cm dapat 	diangkut dengan kepadatan maksimal 10.000/m3 atau 10 ekor/liter. 	Setiap 4 jam, seluruh air diganti di tempat yang teduh. </span></span></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">3.4. Pemeliharaan Pembesaran</span></span></strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></span></p>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">3.4.1. Pemupukan</span></span></strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></span></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-top:.19in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Sebelum 	digunakan kolam dipupuk dulu. Pemupukan bermaksud untuk menumbuhkan 	plankton hewani dan nabati yang menjadi makanan alami bagi benih 	lele. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Pupuk yang 	digunakan adalah pupuk kandang (kotoran ayam) dengan dosis 500-700 	gram/m2. Dapat pula ditambah urea 15 gram/m2, TSP 20 gram/m2, dan 	amonium nitrat 15 gram/m2. Selanjutnya dibiarkan selama 3 hari. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Kolam diisi 	kembali dengan air segar. Mula-mula 30-50 cm dan dibiarkan selama 	satu minggu sampai warna air kolam berubah menjadi coklat atau 	kehijauan yang menunjukkan mulai banyak jasad-jasad renik yang 	tumbuh sebagai makanan alami lele. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:.19in;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Secara bertahap 	ketinggian air ditambah, sebelum benih lele ditebar. </span></span></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">3.4.2. Pemberian Pakan</span></span></strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></span></p>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">a) Makanan Alami Ikan Lele</span></span></strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></span></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-top:.19in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Makanan alamiah 	yang berupa Zooplankton, larva, cacing-cacing, dan serangga air. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Makanan berupa 	fitoplankton adalah Gomphonema spp (gol. Diatome), Anabaena spp 	(gol. Cyanophyta), Navicula spp (gol. Diatome), ankistrodesmus spp 	(gol. Chlorophyta). </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Ikan lele juga 	menyukai makanan busuk yang berprotein. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:.19in;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Ikan lele juga 	menyukai kotoran yang berasal dari kakus. </span></span></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">b) Makanan Tambahan</span></span></strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></span></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-top:.19in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Pemeliharaan di 	kecomberan dapat diberi makanan tambahan berupa sisa-sisa makanan 	keluarga, daun kubis, tulang ikan, tulang ayam yang dihancurkan, 	usus ayam, dan bangkai. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:.19in;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Campuran dedak 	dan ikan rucah (9:1) atau campuran bekatul, jagung, dan bekicot 	(2:1:1). </span></span></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">c) Makanan Buatan (Pellet)</span></span></strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></span></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-top:.19in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Komposisi bahan 	(% berat): tepung ikan=27,00; bungkil kacang kedele=20,00; tepung 	terigu=10,50; bungkil kacang tanah=18,00; tepung kacang hijau=9,00; 	tepung darah=5,00; dedak=9,00; vitamin=1,00; mineral=0,500; </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:.19in;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Proses 	pembuatan:Dengan cara menghaluskan bahan-bahan, dijadikan adonan 	seperti pasta, dicetak dan dikeringkan sampai kadar airnya kurang 	dari 10%. Penambahan lemak dapat diberikan dalam bentuk minyak yang 	dilumurkan pada pellet sebelum diberikan kepada lele. Lumuran minyak 	juga dapat memperlambat pellet tenggelam. </span></span></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Cara pemberian pakan: </span></span></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-top:.19in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Pellet mulai 	dikenalkan pada ikan lele saat umur 6 minggu dan diberikan pada ikan 	lele 10-15 menit sebelum pemberian makanan yang berbentuk tepung. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Pada minggu 7 	dan seterusnya sudah dapat langsung diberi makanan yang berbentuk 	pellet. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:.19in;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Hindarkan 	pemberian pakan pada saat terik matahari, karena suhu tinggi dapat 	mengurangi nafsu makan lele. </span></span></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">3.4.3. Pemberian Vaksinasi</span></span></strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></span></p>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Cara-cara vaksinasi sebelum benih ditebarkan: </span></span></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-top:.19in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Untuk mencegah 	penyakit karena bakteri, sebelum ditebarkan, lele yang berumur 2 	minggu dimasukkan dulu ke dalam larutan formalin dengan dosis 200 	ppm selama 10-15 menit. Setelah divaksinasi lele tersebut akan kebal 	selama 6 bulan. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Pencegahan 	penyakit karena bakteri juga dapat dilakukan dengan menyutik dengan 	terramycin 1 cc untuk 1 kg induk. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:.19in;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Pencegahan 	penyakit karena jamur dapat dilakukan dengan merendam lele dalam 	larutan Malachite Green Oxalate 2,5–3 ppm selama 30 menit. </span></span></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">3.4.4. Pemeliharaan Kolam/Tambak</span></span></strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></span></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-top:.19in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Kolam diberi 	perlakuan pengapuran dengan dosis 25-200 gram/m2 untuk memberantas 	hama dan bibit penyakit. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Air dalam 	kolam/bak dibersihkan 1 bulan sekali dengan cara mengganti semua air 	kotor tersebut dengan air bersih yang telah diendapkan 2 malam. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:.19in;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Kolam yang 	telah terjangkiti penyakit harus segera dikeringkan dan dilakukan 	pengapuran dengan dosis 200 gram/m2 selama satu minggu. Tepung kapur 	(</span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">CaO</span></span><a href="http://www.nunihon.org/twiki/bin/edit/TWiki/CaO?topicparent=TWiki.IptekTerapan"><span style="color:#0000ff;"><sup><span style="font-family:Arial,sans-serif;">?</span></sup></span></a><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">) 	ditebarkan merata di dasar kolam, kemudian dibiarkan kering lebih 	lanjut sampai tanah dasar kolam retak-retak. </span></span></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">3.5. Hama dan Penyakit</span></span></strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></span></p>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">3.5.1. Hama</span></span></strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></span></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-top:.19in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Hama pada lele 	adalah binatang tingkat tinggi yang langsung mengganggu kehidupan 	lele. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Di alam bebas 	dan di kolam terbuka, hama yang sering menyerang lele antara lain: 	berang-berang, ular, katak, burung, serangga, musang air, ikan gabus 	dan belut. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:.19in;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Di pekarangan, 	terutama yang ada di perkotaan, hama yang sering menyerang hanya 	katak dan kucing. Pemeliharaan lele secara intensif tidak banyak 	diserang hama. </span></span></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">3.5.2. Penyakit</span></span></strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></span></p>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Penyakit parasit adalah penyakit yang disebabkan oleh organisme tingkat rendah seperti virus, bakteri, jamur, dan protozoa yang berukuran kecil. </span></span></p>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><em><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Penyakit karena bakteri Aeromonas hydrophilla dan Pseudomonas hydrophylla</span></span></em><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></span></p>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Bentuk bakteri ini seperti batang dengan polar flage (cambuk yang terletak di ujung batang), dan cambuk ini digunakan untuk bergerak, berukuran 0,7–0,8 x 1–1,5 mikron. Gejala: iwarna tubuh menjadi gelap, kulit kesat dan timbul pendarahan, bernafas megap-megap di permukaan air. Pengendalian: memelihara lingkungan perairan agar tetap bersih, termasuk kualitas air. Pengobatan melalui makanan antara lain: (1) Terramycine dengan dosis 50 mg/kg ikan/hari, diberikan selama 7–10 hari berturut-turut. (2) Sulphonamid sebanyak 100 mg/kg ikan/hari selama 3–4 hari. </span></span></p>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><em><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Penyakit Tuberculosis</span></span></em><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></span></p>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Penyebab: bakteri Mycobacterium fortoitum). Gejala: tubuh ikan berwarna gelap, perut bengkak (karena tubercle/bintil-bintil pada hati, ginjal, dan limpa). Posisi berdiri di permukaan air, berputar-putar atau miring-miring, bintik putih di sekitar mulut dan sirip. Pengendalian: memperbaiki kualitas air dan lingkungan kolam. Pengobatan: dengan Terramycin dicampur dengan makanan 5–7,5 gram/100 kg ikan/hari selama 5–15 hari. </span></span></p>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><em><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Penyakit karena jamur/candawan Saprolegnia</span></span></em><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></span></p>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Jamur ini tumbuh menjadi saprofit pada jaringan tubuh yang mati atau ikan yang kondisinya lemah. Gejala: ikan ditumbuhi sekumpulan benang halus seperti kapas, pada daerah luka atau ikan yang sudah lemah, menyerang daerah kepala tutup insang, sirip, dan tubuh lainnya. Penyerangan pada telur, maka telur tersebut diliputi benang seperti kapas. Pengendalian: benih gelondongan dan ikan dewasa direndam pada Malachyte Green Oxalate 2,5–3 ppm selama 30 menit dan telur direndam Malachyte Green Oxalate 0,1–0,2 ppm selama 1 jam atau 5–10 ppm selama 15 menit. </span></span></p>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><em><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Penyakit Bintik Putih dan Gatal/Trichodiniasis</span></span></em><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></span></p>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Penyebab: parasit dari golongan Ciliata, bentuknya bulat, kadang-kadang amuboid, mempunyai inti berbentuk tapal kuda, disebut Ichthyophthirius multifilis. Gejala: (1) ikan yang diserang sangat lemah dan selalu timbul di permukaan air; (2) terdapat bintik-bintik berwarna putih pada kulit, sirip dan insang; (3) ikan sering menggosok-gosokkan tubuh pada dasar atau dinding kolam. Pengendalian: air harus dijaga kualitas dan kuantitasnya. Pengobatan: dengan cara perendaman ikan yang terkena infeksi pada campuran larutan Formalin 25 cc/m3 dengan larutan Malachyte Green Oxalate 0,1 gram/m3 selama 12–24 jam, kemudian ikan diberi air yang segar. Pengobatan diulang setelah 3 hari. </span></span></p>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><em><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Penyakit Cacing Trematoda</span></span></em><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></span></p>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Penyebab: cacing kecil Gyrodactylus dan Dactylogyrus. Cacing Dactylogyrus menyerang insang, sedangkan cacing Gyrodactylus menyerang kulit dan sirip. Gejala: insang yang dirusak menjadi luka-luka, kemudian timbul pendarahan yang akibatnya pernafasan terganggu. Pengendalian: (1) direndam Formalin 250 cc/m3 air selama 15 menit; (2) Methyline Blue 3 ppm selama 24 jam; (3) mencelupkan tubuh ikan ke dalam larutan Kalium -Permanganat (</span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">KMnO4</span></span><a href="http://www.nunihon.org/twiki/bin/edit/TWiki/KMnO4?topicparent=TWiki.IptekTerapan"><span style="color:#0000ff;"><sup><span style="font-family:Arial,sans-serif;">?</span></sup></span></a><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">) 0,01% selama ± 30 menit; (4) memakai larutan </span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">NaCl</span></span><a href="http://www.nunihon.org/twiki/bin/edit/TWiki/NaCl?topicparent=TWiki.IptekTerapan"><span style="color:#0000ff;"><sup><span style="font-family:Arial,sans-serif;">?</span></sup></span></a><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> 2% selama ± 30 menit; (5) dapat juga memakai larutan NH4OH 0,5% selama ± 10 menit. </span></span></p>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><em><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Parasit Hirudinae</span></span></em><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></span></p>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Penyebab: lintah Hirudinae, cacing berwarna merah kecoklatan. Gejala: pertumbuhannya lambat, karena darah terhisap oleh parasit, sehingga menyebabkan anemia/kurang darah. Pengendalian: selalu diamati pada saat mengurangi padat tebar dan dengan larutan Diterex 0,5 ppm. </span></span></p>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">3.5.2. Hama Kolam/Tambak</span></span></strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></span></p>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Apabila lele menunjukkan tanda-tanda sakit, harus dikontrol faktor penyebabnya, kemudian kondisi tersebut harus segera diubah, misalnya : </span></span></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-top:.19in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Bila suhu 	terlalu tinggi, kolam diberi peneduh sementara dan air diganti 	dengan yang suhunya lebih dingin. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Bila pH terlalu 	rendah, diberi larutan kapur 10 gram/100 l air. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Bila kandungan 	gas-gas beracun (H2S, CO2), maka air harus segera diganti. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:.19in;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Bila makanan 	kurang, harus ditambah dosis makanannya. </span></span></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">3.6. Panen</span></span></strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></span></p>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">3.5.1. Penangkapan</span></span></strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></span></p>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemanenan: </span></span></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-top:.19in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Lele dipanen 	pada umur 6-8 bulan, kecuali bila dikehendaki, sewaktu-waktu dapat 	dipanen. Berat rata-rata pada umur tersebut sekitar 200 gram/ekor. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Pada lele 	Dumbo, pemanenan dapat dilakukan pada masa pemeliharaan 3-4 bulan 	dengan berat 200-300 gram per ekornya. Apabila waktu pemeliharaan 	ditambah 5-6 bulan akan mencapai berat 1-2 kg dengan panjang 60-70 	cm. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Pemanenan 	sebaiknya dilakukan pada pagi hari supaya lele tidak terlalu 	kepanasan. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Kolam 	dikeringkan sebagian saja dan ikan ditangkap dengan menggunakan 	seser halus, tangan, lambit, tangguh atau jaring. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Bila 	penangkapan menggunakan pancing, biarkan lele lapar lebih dahulu. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Bila 	penangkapan menggunakan jaring, pemanenan dilakukan bersamaan dengan 	pemberian pakan, sehingga lele mudah ditangkap. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Setelah 	dipanen, piaralah dulu lele tersebut di dalam tong/bak/hapa selama 	1-2 hari tanpa diberi makan agar bau tanah dan bau amisnya hilang. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:.19in;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Lakukanlah 	penimbangan secepat mungkin dan cukup satu kali. </span></span></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">3.6.2. Pembersihan</span></span></strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></span></p>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Setelah ikan lele dipanen, kolam harus dibersihkan dengan cara: </span></span></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-top:.19in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Kolam 	dibersihkan dengan cara menyiramkan/memasukkan larutan kapur 	sebanyak 20-200 gram/m2 pada dinding kolam sampai rata. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Penyiraman 	dilanjutkan dengan larutan formalin 40% atau larutan permanganat 	kalikus (PK) dengan cara yang sama. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:.19in;line-height:.23in;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Kolam dibilas 	dengan air bersih dan dipanaskan atau dikeringkan dengan sinar 	matahari langsung. Hal ini dilakukan untuk membunuh penyakit yang 	ada di kolam. </span></span></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-top:.17in;margin-bottom:0;line-height:.23in;" align="justify"><strong><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">3.6.3. Pengolahan Lele </span></span></strong><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong>Pascapanen</strong></span></p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Setelah 	dipanen, lele dibersihkan dari lumpur dan isi perutnya. Sebelum 	dibersihkan sebaiknya lele dimatikan terlebih dulu dengan memukul 	kepalanya memakai muntu atau kayu.</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Saat 	mengeluarkan kotoran, jangan sampai memecahkan empedu, karena dapat 	menyebabkan daging terasa pahit.</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Setelah 	isi perut dikeluarkan, ikan lele dapat dimanfaatkan untuk berbagai 	ragam masakan.</span></p>
</li>
</ol>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong>IV. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong>4.1.Analisis Usaha Budidaya</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Analisis Usaha Pembenihan Ikan Lele Dumbo adalah sebagai berikut (analisa biaya tsb tidak valid saat ini &#8211; Admin) :</span></p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Biaya 	produksi</span></p>
</li>
</ol>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Lahan</span></p>
</li>
</ol>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Tanah 	123 m2 				Rp. 123.000,-</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Kolam 	9 buah 				Rp. 1.230.000,-</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Perawatan 	kolam 			Rp. 60.000,-</span></p>
</li>
</ul>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Bibit/benih</span></p>
</li>
</ol>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">betina 	40 ekor @ Rp. 12.000,- 	Rp. 480.000,-</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">jantan 	10 ekor @ Rp. 10.000,- 	Rp. 100.000,-</span></p>
</li>
</ul>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Pakan</span></p>
</li>
</ol>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Pakan 	benih 				Rp. 14.530.300,-</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Pakan 	induk 				Rp. 4.818.000,-</span></p>
</li>
</ul>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Obat-obatan 						Rp. 42.000,-</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Peralatan</span></p>
</li>
</ol>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">pompa 	air3 bh @ Rp. 110.000,- 	Rp. 330.000,-</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">diesel 	1 bh @ Rp. 600.000,- 		Rp. 600.000,-</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">sikat 	1.bh @.Rp. 25.000,- 		Rp. 25.000,-</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">jaring 	1 bh @.Rp. 150.000,- 		Rp. 150.000,-</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">bak 	5 bh @ Rp. 3.000,- 		Rp. 15.000,-</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">timba 	7 bh @.Rp. 3.000,- 		Rp. 21.000,-</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">alat 	seleksi 6 bh @.Rp. 4.000,- 	Rp. 24.000,-</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">ciruk 	5 bh @. Rp. 1.500,- 		Rp. 7.500,-</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">gayung 	5 bh @. Rp.1.000,- 		Rp. 5.000,-</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">selang 						Rp. 90.000,-</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">paralon 						Rp. 70.000,-</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Perawatan 	alat 				Rp. 120.000,-</span></p>
</li>
</ul>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Tenaga 	kerja 				Rp. 420.000,-</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Lain-lain 						Rp. 492.000,-</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;border-color:0 0 #000000;border-style:none none solid;border-width:medium medium 1px;padding:0 0 .01in;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Biaya tak terduga 10% 			Rp. 	2.522.800,-</span></p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.25in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong>Jumlah biaya produksi 			Rp. 5.045.600,-</strong></span></p>
<p style="margin-left:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Pendapatan 						Rp. 2.220.000,-</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Keuntungan 						Rp. 7.174.400,-</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Parameter 	kelayakan usaha 			25%</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">BEP 	dalam unit (ekor)</span></p>
</li>
</ol>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">ukuran 	1 1.138</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">ukuran 	2 325.049</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">ukuran 	3 65.010</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">ukuran 	4 6.501</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">ukuran 	5 11.377</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">ukuran 	6 260</span></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong>4.2. Gambaran Peluang Agribisnis</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Budidaya ikan lele, baik dalam bentuk pembenihan maupun pembesaran mempunyai prospek yang cukup baik. Permintaan konsumen akan keberadaan ikan lele semakin meningkat. Dengan teknik pemeliharaan yang baik, maka akan diperoleh hasil budidaya yang memuaskan dan diminati konsumen.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong>V. DAFTAR PUSTAKA</strong></span></p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Arifin, 	M.Z. 1991. Budidaya lele. Dohara prize. Semarang.</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Djamiko, 	H., Rusdi, T. 1986. Lele. Budidaya, Hasil Olah dan Analisa Usaha. 	C.V. Simplex. Jakarta.</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Djatmika, 	D.H., Farlina, Sugiharti, E. 1986. Usaha Budidaya Ikan Lele. C.V. 	Simplex. Jakarta.</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Najiyati, 	S. 1992. Memelihara Lele Dumbo di Kolam Taman. Penerbit Swadaya. 	Jakarta.</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Simanjutak, 	R.H. 1996. Pembudidayaan Ikan Lele Lokal dan Dumbo. Bhratara. 	Jakarta.</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Soetomo, 	M.H.A. 1987. Teknik Budidaya Ikan Lele Dumbo. Sinar Baru. Bandung.</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Susanto, 	H. 1987. Budidaya ikan di Pekarangan. Penebar Swadaya. Jakarta.</span></p>
</li>
</ol>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Sumber :</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/teguh8581.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/teguh8581.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/teguh8581.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/teguh8581.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/teguh8581.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/teguh8581.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/teguh8581.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/teguh8581.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/teguh8581.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/teguh8581.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/teguh8581.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/teguh8581.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/teguh8581.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/teguh8581.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teguh8581.wordpress.com&amp;blog=8811465&amp;post=24&amp;subd=teguh8581&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://teguh8581.wordpress.com/2009/08/01/budidaya-ikan-lele/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f9124eb23e41e40d32170f5f94041149?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">teguh</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
